BERBAGI
Muhammad Rezky Nasution bersama ibunya. (foto: tangkapan layar)

TAK kuasa menahan isak tangis, Muhammad Rezky Nasution berjalan ke arah depan tamu undangan. Ia melangkah sembari menyeka air mata yang membasahi kedua bola matanya.

Ribuan santri, guru-guru, dan pimpinan Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru ikut larut dalam  tetesan air mata bahagia seorang Rezky.

Hal serupa tampak dari raut muka Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah serta undangan lainnya. Semua terharu melihat momen pada, Kamis siang (23-2-2023).

Dari salah satu sudut tempat duduk wali santri ada Siti Aminah Lubis (51), ibu Rezky. Ia berdiri begitu dipanggil pembawa acara. Lalu, berjalan pelan mendekati tempat si anak beridiri. Ia pun terus mengusap air mata pakai salah satu sisi hijabnya.

Ia menangis sesunggukan. Semua larut dalam sedih dan bahagia. Sedih lantaran Rezky bukanlah siapa-siapa. Ia lahir dan besar dari keluarga tak mampu yang tinggal di Rt 07/Rw 03, Kelurahan Panyabungan III, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut.

Rezky bersama Wagub Sumut Ijeck

Bahagia karena ia baru saja dinobatkan sebagai lulusan terbaik Pesantren Musthafawiyah Purba Baru tahun 2023 dengan nilai 2.443. Dari perolehan angka ini, ia memiliki nilai rata-rata 90,49 dari 27 mata pelajaran.

Rezky dan ibunya sudah berdiri di hadapan halayak ramai. Keduanya masih tak kuasa menahan tangis. Tak lama kemudian, protokol mempersilakan Ijeck maju kedepan memberi ucapan selamat kepada sang “jawara”.

Wagub pun memasang selendang proses kelulusan dan menyerahkan secara simbolis  tanda kelulusan kepada Rezky.

Berselang beberapa saat kemudian, dia menyampaikan ucapan selamat. Terlihat ketua DPD Golkar Sumut bincang-bincang dengan anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Usai proses itu,  Ijeck mengatakan, “Saya tadi sempat bertanya kepada Rezky apa kerja omaknya. Tadi saya tanya juga langsung ke omaknya. Kata omaknya, selama ini ya,  memasak…, menyuci…”

Dengan keterbatasan secara ekonomi, lanjut Ijeck, masih semangat menyekolahkan anak sampai tamat. Dan alhamdulillah, tamatnya pun bukan sekadar tamat, tetapi yang terbaik pada angkatan ini.

“Mudah-mudahan dengan istiqomah, dengan betul-betul bersandar kepada Allah Swt banyak urusan dunia yang dimudahkan Allah Swt,” katanya.

BERITA TERKAIT  Kegalauan Amru Daulay Jelang Jabatannya sebagai Bupati Madina Berakhir

Pada kesempatan itu, Ijeck memberikan hadiah umroh kepada Rezky dan ibunya. Awalnya, cuma Rezky yang mendapat hadiah itu, namun setelah mendengar kondisi ekonomi keluarga Aminah, wagub pun mengumrohkan anak dan sang ibu.

Seperti kata Ijeck, selama ini memang Aminah tak lelah bersandar kepada Allah Swt. Jika bukan kuasa-Nya, mana mungkinlah dia bisa menyekolahkan dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Dia berjuang sendiri menghidupi dan mengurus tiga anak—Fatimah (lulusan SLTA), Muhammad Rezky, dan Salman Alfarizi (kelas dua MAN 1 Madina.

Sehari-hari Aminah kerja sebagai juru masak dan cuci piring di salah satu hotel di kawasan Dalan Lidang, Panyabungan. Sebulan, ia digaji Rp950 ribu. Jika pakai hitungan manusia, jumlah penghasilan itu sangatlah tidak cukup, meskipun pukul 03.00 jelang subuh ia sudah berangkat kerja.

Coba runut kebutuhan hidup keluarga mereka. Biaya kontrakan rumah di belakang Guppi Banjar Tinggi, Kelurahan Panyabungan III Rp300 ribu per bulan; ongkos angkot kerja ke Dalan Lidang Rp8 ribu pulang-pergi—sebulan hanya dua hari libur; ongkos Rezky ke Musthafawiyah Rp20 ribu per hari; ongkos Salman ke MAN 1 Madina Rp20 ribu per hari; dan untuk gulai/sayur di rumah Rp20 ribu per hari. Belum lagi beli beras.

Jika diratakan, kebutuhan hidup keluarga Aminah Rp60 ribu per hari. Jumlah biaya hidup itu memang jauh dari cukup jika dibanding gaji sebagai tukang cuci piring dan memasak.

Sesekali, jika ada acara di aula hotel memang ia mendapat bonus Rp100 ribu. “Alhamdulillah ada saja rezeki. Terkadang adong namarsidoqah.  Bagi kami Rp50 ribu sudah sangat berharga,” ujar Aminah.

Bahkan, kata dia, sering ada orang yang tak dikenal memanggil dia, memberi uang sembari mengatakan, “Na, lehen jolo di daganak i.”

“Mudah-mudahan, adong sajo dei namangalehen. Alhamdulillah. Manombo, incogot boto ngadong epengku, ningroangku, adong sajo mei dalanna ro razoki,” katanya.

Terakhir, Salman mendapat zakat Rp100 ribu per bulan dari MAN 1 Madina. Uang itu pun dipakai untuk membayar SPP di sekolah yang berada di Dalan Lidang itu.

BERITA TERKAIT  Wabup Madina Siang Ini Dijadwalkan Terima Kunjungan "Saroha Malaysia"

Himpitan ekonomi kian menyesakkan karena keluarga ini tak satu pun mendapat program bantuan pemerintah. Itu pula sebabnya, Aminah dan ketiga anaknya pernah mengontrak gubuk kecil di pinggir Aek Tolang, Banjar Grogol, Panyabungan III.

Bahkan untuk tetap bisa memenuhi kebutuah tiga anak, Aminah pernah merantau ke Medan kerja sebagai asisten rumah tangga (ART).

Siti Aminah Lubis

Ingin Jadi Ulama

Setiap usai salat subuh Rezky sudah berangkat sekolah ke Musthafawiyah. Ia selalu menunggu angkot di seberang jalan Masjid Raya Walqurro Walhuffaz, Pasar Lama, Panyabungan.

Begitu sampai di Purba Baru, biasanya ia ziarah di makam pendiri pesantren  atau numpang belajar di gubuk kawannya.

Ia juga hampir tiap hari tampak mengaji di masjid Musthafawiyah,  terutama sebelum atau sesudah salat dhuha.

Hasrat Rezky menjadi pendakwah sangatlah besar. Sesekali memang ia sudah mengisi pengajian, antara lain di pesantren milik Ustaz Mahmudin Rangkuti di Hutatinggi, Kecamatan Puncak Sorik Marapi,  Madina.

Selain itu, Rezky juga kerap diundang memberikan tausiah di acara syukuran keluarga warga Panyabungan. “Alhamdulillah, ini sudah sangat membantu,” kata Aminah.

Dengan mata berkaca-kaca, dia ingin sekali menuruti keinginan anaknya melanjutkan pendidikan di Maroko, tempat UAS mengenyam pendidikan.

“Ini ditambah suport dari guru-guru Musthafawiyah agar Rezky bisa sekolah disana. Mudah-mudahan Allah swt lehen dalan anso tarcapai keinginan ni anakki,” katanya sembari menyebutkan ia terus berdoa agar ada pertolongan Allah Swt.

Santri Berprestasi

Jika Rezky meraih lulusan terbaik dengan nilai cukup gemilang, bukanlah heran. Berdasarkan catatan rapor sejak tsanawiyah di Musthafawiyah, ia selalu rangking satu dengan nilai memuaskan.

Dalam daftar nilai ujian akhir Satuan Pendidikan Muadalah Aliyah Pesantren Musthafawiyah , 5 Mei 2022 lalu, misalnya, santri yang dilahirkan 16 Juni 2023 ini mendapat nilai rata-rata 95 dari 21 mata pelajaran.

Beberapa penghargaan sudah diraih. Antara lain: juara pertama lomba baca kitab kuning se-Madina yang diadakan PKS pada Nopember 2023. (*)

Akhiruddin Matondang

BERBAGI