BERBAGI
(foto: ist)

DURIAN Tambangan. Masyarakat mandailing menyebutnya, tarutung Tambangan. Sejak dulu durian dari wilayah Tambangan sudah sangat terkenal. Pulen, manis, ada pahit-pahitnya sedikit dan dagingnya tebal.  Aromanya pun sungguh menggoda selera.

Sebagian besar pecinta durian lebih suka durian yang ada pahit-pahitnya sedikit. Apalagi, disantap sembari makan nasi. Bisa juga berbarengan dengan ketan atau lemang. Wow…rasanya nikmat plus lezat.

Sekadar gambaran bahwa durian Tambangan sudah banyak dikenal di belahan negeri ini, suatu ketika saya pernah mampir makan durian di pinggir jalan lintas timur Palembang, Sumsel. Entah bagaimana awalnya, si penjual durian tersebut tahu jika saya berasal Mandailing Natal, Sumut.

Lalu, si penjual durian bercerita  dia sangat sering membeli durian secara borongan ke daerah Tambangan jika pas musim. “Saya akui, tidak ada yang bisa mengalahkan enaknya durian Tambangan,” katanya.

Pada lomba citarasa durian se-Tabagsel yang diikuti lima kabupetan di Padangsidimpuan, pada 2021 lalu, durian Tambangan meraih juara dua. Jenis durian yang dibawa ke kontes itu jenis tarutung Sipaya berasal  Laru Lombang—salah satu desa di Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut.

Saat ini Kecamatan Tambangan terdapat 19 desa dan satu kelurahan. Daerah ini memiliki banyak pohon durian. Itulah sebabnya kawasan ini bisa disebut sebagai sentra durian di wilayah Madina.

Memang, mayoritas pohon-pohon durian di Tambangan tumbuh sendiri sejak zaman dulu. Bukan  hasil budidaya, melainkan timbuh di antara tanaman lain. Meskipun masyarakat menyebutnya, kobun tarutung (kebun durian-red), tetapi sebagian besar tanaman yang ada sekarang bukanlah hasil budidaya, melainkan kebanyakan tumbuh sendiri.

BERITA TERKAIT  2 Obyek Wisata di Mandailing Natal Masuk Nominasi API 2022

Kalaupun tanaman durian itu hasil tanam leluhur si pemilik, dipastikan minim perawatan secara teknologi. Apalagi pakai pupuk kimia, nyaris tidak. Batag durian yang panen saat ini, konon ada yang berusia lebih seratus tahun, atau puluhan tahun. Jenis, rasa dan aromanya pun, begitu banyak.

Sampai saat ini tidak jelas secara pasti jumlah batang durian di wilayah Tambangan. Sekadar gambaran, Camat Tambangan Enda Mora Lubis mengestimasi ketika  musim besar–seperti sekarang– kecamatan itu mampu menghasilkan sekitar 50-60 ribu durian per hari. Saat musim kecil, sekitar 35.000 per hari.

Jumlah itu baru yang dibeli secara borongan oleh para pengumpul. Belum termasuk durian dijual oleh warga kepada masyarakat dengan membuka lapak di depan rumah mereka atau jalinsum Tambangan.

Durian Tambangan penuh cerita dan sensasi. Jika tidak percaya, atau penasaran  tarutung Tambangan asli, tak ada salahnya, Sabtu dan Minggu (12-13 Februari 2022) ini, anda datang melihat sekaligus menikmati langsung durian Tambangan.

Bertepatan panen raya musim ini, pihak Kecamatan Tambangan menggelar “Pekan Raya Durian” yang ditempatkan di depan SMP Tambangan, Desa Laru Baringin, Kecamatan Tambangan, Madina.

Ribuan durian dari kebun-kebun yang berasal dari desa-desa penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) bakal “unjuk gigi” dihadapan masyarakat pecinta durian.

BERITA TERKAIT  Wakil Bupati Madina Tutup Pekan Raya Durian Tambangan

Jika tidak ada aral melintang, “Pekan Raya Durian” yang merupakan kali pertama dilaksanakan ini bakal dibuka Bupati Madina H.M. Ja’far Sukhairi Nasution.

“Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu, mulai pukul 10.00 hingga petang,” kata Ali Musa “Manto” Lubis, panitia “Pekan Raya Durian”, kepada wartawan pada, Jumat (11/2-2022).

Mengenai lokasi “Pekan Raya Durian”, Ali Musa “Manto” menyebutkan sangat mudah diakses. Lokasinya, persis di pinggir jalinsum Panyabungan-Kotanopan, atau sekitar satu kilometer dari Pasar Laru.

Panitia bakal membuat lapak di depan SMP Tambangan sekitar 300 meter hingga rumah makan incor Laru. Tidak hanya durian, “Pekan Raya Durian” juga menampilkan sejumlah produk olahan dari buah berduri ini.

“Intinya kami ingin memperkenalkan Tambangan sebagai penghasil buah durian lokal dan buah manggis. Mudah-mudahan setelah kegiatan ini, ada sisi positif bagi pengembangan kecamatan ini sebagai kawasan penghasil durian dan manggis,” ujar Ali Musa “Manto”.

Dia mengajak masyarakat datang pada acara ini. ”Datanglah ini kan pas musim. Ajak keluarga, nanti ada acara makan durian gratis. Silakan pengunjung bisa memilih berbagai aneka rasa, aroma, kelezatan durian Tambangan. Ada juga pameran produk-produk unggulan desa-desa yang ada di kecamatan ini,” katanya.

Kita berharap event ini menjadi momentum kebangkitan durian Madina berbasis bisnis, khususnya bagi wilayah Tambangan dan sekitarnya…(*).

Penulis: Akhiruddin Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here