BERBAGI
Prof. Ir. Zulkarnain Lubis, MS., Phd. (foto: ist)

MEDAN, BERITAHUta.com– Prof. Ir. Zulkarnain Lubis, MS.,Phd., menyebutkan tidak ada alasan bagi masyarakat menjadikan hasil survei sebagai acuan menentukan pilihan dalam pesta demokrasi. Data dari lembaga survei semestinya hanya sebagai bahan evaluasi bagi tim pemenangan seorang calon atau pasangan calon.

“Masyarakat semestinya memilih calon secara obyektif dan rasional, bukan beracuan pada hasil survei yang dilakukan suatu lembaga survei,” kata ketua Dewan Guru Besar Universitas Medan Area (UMA), itu kepada Beritahuta.com, Senin (5/2/2024) malam.

Menurutnya, hasil  survei lebih tepat dijadikan kandidat dalam mengambil langkah dan strategi pemenangan. Sedangkan bagi pemilih, sebaiknya menentukan pilihan mengedepankan pertimbangan objektif serta rasional. Yaitu, kelayakan, kompetensi, integritas, kapasitas, dan kapabilitas para calon.

Belakangan ini keberadaan lembaga penyelenggara survei banyak diperbincangkan. Ada secara lantang menyebut tidak percaya hasil survei, ada yang mengatakan survei itu menipu.

Ada juga yang secara terang-terangan menyebut data lembaga survei abal-abal. Bahkan ada pihak yang telah menggugat agar lembaga survei dilarang melakukan survei dan tak boleh mempublikasikan hasil survei mereka.

Sebagian lagi bersuara lantang dengan mengatakan lembaga survei hanya sekadar mencari duit dalam memenuhi keinginan klien. Salah satu contohnya adalah Pilgub DKI Jakarta. Saat itu tak satu lembaga survei pun memenangkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, tetapi nyatanya pasangan ini memenangkan Pilkada tersebut. Pasangan calon yang diunggulkan hasil survei justru kalah telak.

Di sisi lain, pakar ilmu statistik dari IPB Bogor, itu menyebutkan ada pihak-pihak tertentu yang selalu menonjolkan dan memamerkan hasil survei untuk menunjukkan keunggulan suara calon pasangan yang didukung.

“Berdasarkan hasil survei itu mereka mengklaim pasangan tertentu pasti menang. Lalu, meyakinkan masyarakat akan sia-sia memperjuangkan pasangan kompetitornya lantaran bakal kalah,” katanya.

Menurut Zulkarnain yang juga ketua Program Doktor Ilmu Pertanian UMA, hasil survei yang menguntungkan pihaknya dijadikan sebagai psywar dalam menekan dan meruntuhkan mental pihak lawan.

Hasil survei dijadikan bahan kampanye untuk menarik dukungan konstituen, bahkan dijadikan senjata menyerang kompetitor. “Mereka percaya diri mengatakan penyelenggaraan pemilu nanti dipastikan curang jika pasangannya kalah karena survei menunjukkan pasangan yang mereka dukung menang,” katanya.

Itulah sebabnya muncul tudingan hasil survei merupakan pesanan pasangan atau tim tertentu. Itulah sebabnya hasil survei harus sesuai kehendak si pemesan. “Hal ini terlihat dari hasil setiap lembaga survei berbeda. Bahkan bertolak belakang satu sama lain,” jelas Zulkarnain.

BERITA TERKAIT  Paripurna Istimewa HUT ke-24 Madina, Bupati Madina Mengenakan Busana Adat Pantai Barat

Survei elektabilitas pasangan calon pemilu, kata dia, semestinya hanya untuk memperkirakan atau menduga elektabilitas kandidat  sebagai masukan bagi tim dalam menentukan strategi.

Zulkarnain menegaskan hasil survei hanya sekadar nilai dugaan terhadap hasil pilihan real para pemilih. Sebab itu, kepada para kontestan, jika memang merasa pantas sebagai pemimpin bangsa, tidak perlu menonjolkan hasil survei, apalagi memesan lembaga survei menukangi hasil survei untuk menaikkan popularitas dan elektabilitasnya.

“Lebih baik menunjukkan kemampuan dan kualitas kepemimpinan, sehingga rakyat memilih karena yakin terhadap figur calon,” kata ketua Program Studi Magister Agribisnis UMA.

Oleh sebab itu, dia mengingatkan masyarakat tidak perlu apriori menuduh lembaga survei dan hasil survei sebagai sesuatu yang salah, apalagi menganggap sesat.

“Namun tidak tepat juga kita terlalu cepat menganggap mereka sebagai sesuatu kebenaran. Kita dapat menerimanya sebagai sebuah kebenaran jika kita yakin betul survei dilakukan profesional sesuai kaidah dan metode survei,” katanya.

Memahami Survei

Dalam kaitan itu, ada baiknya masyarakat memahami apa survei tersebut. Apa hubungan hasil survei dengan hasil real. Apakah  hasil survei mengklarifikasi hasil real atau hasil real yang mengklarifikasi hasil survei.

“Lalu, apa keduanya harus sama atau boleh berbeda atau malah harus berbeda,” ujar Zulkarnain.

Dalam bahasa penelitian, ujarnya, survei merupakan salah satu strategi penelitian di samping strategi lain seperti percobaan, studi kasus, penelitian tindakan, grounded theory, etnografi, dan penelitian arsip.

Survei merupakan penelitian untuk menguji hipothesis atau menemukan solusi terhadap masalah atau mengkaji topik tertentu yang dicirikan pengumpulan data dalam jumlah besar dan diambil dari populasi cukup besar.

Selanjutnya membakukan agar memungkinkan dilakukan analisis data untuk mengambil kesimpulan. Penelitian dengan survei merupakan strategi paling sering digunakan dan paling dipertimbangkan khususnya dalam ilmu sosial.

Zulkarnain mengatakan penelitian dengan survei biasanya dilakukan untuk menduga karakteristik populasi tertentu berdasarkan sampel yang ditarik sedemikian rupa sehingga sampel dianggap merepresentasikan populasinya.

Sampel dianggap representatif jika metode pengambilan sampel tepat dan jumlah sampel cukup. Semakin representatif sampel, berarti kian besar ukuran sampel. “Semakin tepat metode penarikan sampel, makin mendekati antara hasil survei dengan hasil real,” katanya.

Tentu saja, faktor lainnya sesuai prosedur ilmiah. Statistik menyediakan berbagai metode sampling dan berbagai pertimbangan dalam menentukan ukuran sampel sehingga dianggap representatif.

BERITA TERKAIT  Todung Mulya Lubis Sebut Ada ‘Beking’ Tambang Emas Liar di Sekitar Sungai Batang Natal

Sebagai salah satu strategi penelitian, survei mesti mengikuti metode ilmiah. Selain representasi sampel, agar hasil survei mendekati hasil real, maka survei harus memenuhi komponen metode ilmiah yang sistematis, rasional, dan empiris.

Selain itu, memiliki ciri-ciri ilmiah: objektif, skeptis, bebas prasangka, prinsip kehati-hatian, menggunakan prinsip-prinsip analisis, serta sebisa mungkin menggunakan teknik-teknik kuantifikasi.

Proses pelaksanaan survei harus mengikuti metode penelitian. Mulai identifikasi masalah, penentuan tujuan survei, studi kepustakaan, penentuan metode penelitian, analisis data, dan kesimpulan.

“Jika semua langkah dan proses diikuti secara baik, benar dan menggunakan metode ilmiah, hasil survei tidak akan berbias dan akan mendekati nilai real atau nilai yang seharusnya,” jelas Zulkarnain.

Dari penjelasan tersebut, survei dilakukan untuk menduga keadaan sebenarnya. Dengsn kata lain, hasil survei hanyalah dugaan yang dapat digunakan sesuai keperluan tujuan penelitian. Nilai dugaan tersebut digunakan sebagai pengganti nilai sesungguhnya.

“Bagaimana jika pada saatnya hasil real sudah diketahui, apakah hasil survei harus beda atau jika hasil keduanya berbeda, apa artinya,” sebut Zulkarnain.

Mengenai hal itu, dia kembali menekankan bahwa hasil survei hanyalah nilai dugaan. Sedangkan hasil real nilai sesungguhnya dengan asumsi pemilu berjalan baik, tidak ada penyelewengan, dan tidak ada kecurangan.

Jika pemilu berjalan jujur dan adil, jika ada perbedaan antara hasil survei dengan data real, meskipun keduanya diklaim telah dilakukan secara benar, maka yang diakui dan diterima adalah hasil real. Bukan hasil survei, karena hasil survei hanyalah dugaan.

Sehingga hasil survei tidak dapat dijadikan mengklarifikasi data real dan data real juga tidak perlu dibandingkan dengan hasil survei. Sebab survei nilai dugaan, sementara real nilai sesungguhnya.

Memang, lanjut Zulkarnain, bisa saja nilai dugaan berbeda dengan nilai sesungguhnya. Namun jika survei menggunakan cara ilmiah dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan, mestinya antara nilai dugaan dan nilai sesungguhnya tidak jauh beda.

Pertanyaannya, kenapa hasil dari berbagai lembaga survei bisa beda. Itu hal lumrah, apalagi masing-masing lembaga survei kemungkinan menggunakan metode, sampel, ukuran sampel, pengambilan sampel, konsep dan teori berbeda.

Selain itu berbeda alat ukur, keahlian pelaksana, apalagi reputasi dan integritas lembaga survei berbeda. “Termasuk niat dan motif penyelenggara mungkin saja berbeda,” kata sang profesor sembari tertawa. (*)

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI