Catatan Kecil Idul Fitri 1443 H: KENANGAN & KEMENANGAN

BERBAGI

Oleh: Moechtar Nasution

SUASANA menggembirakan benar benar sangat terasa di kota kecil ini, Padangsidimpuan. Kota yang dijuluki: Kota Salak.

Kali pertama salat Idul Fitri 1443 Hijriah dalam situasi kebatinan mengharukan setelah dua tahun untuk dan demi alasan pemutusan penyebaran virus Covid-19, kita terpaksa hanya melaksanakan salat Hari Raya Kemenangan secara terbatas.

Kali ini, kesahduan suara takbir dan antusias masyarakat yang berbondong bondong mengikutinya membuat hati tersentuh. Hati meleleh oleh alunan asma Allah, memuji kebesaran Sang Pencipta seisi alam.

Semua masjid di wilayah kota yang konon kali pertama dibangun  sebagai benteng oleh pasukan Paderi pimpinan Tuanku Imam Lelo, penuh dan dipadati jamaah.

Jiwa-jiwa resah dan hampa selama ini akibat “hantaman” Covid-19, seperti air mengalir tak putus putus. Jamaah berdatangan menghadiri salat Idul Fitri, bertepatan 2 Mei 2022 Masehi.

Semua larut dalam puji dan puja kepada Allah SWT semata. Menggetarkan qalbu dan raga dalam meresapi kebesaran-Nya. Apalagi khatib mampu secara apik menjelaskan perjuangan pemerintah dan masyarakat memutus mata rantai penyebaran Covid-19 secara empiris.

Hati seolah disayat sembilu ketika dia menceritakan banyak di antara keluarga kita terpapar virus ini. Sebagian tak tertolong, meninggal. Tak sedikit pula pihak keluarga tidak tahu dimana si jenazah dikubur.

Imam menyebutkan,  mereka yang wafat dalam pandemi Covid-19 sesungguhnya seorang jihad.

“Perang terhadap Covid-19 sedikit banyaknya telah menimbulkan luka mendalam. Perang ini juga mengajarkan kita untuk selalu berkomitmen menegakkan kebersamaan dan memperkokoh kekeluargaan,” kata khatib saat menyampaikan khatbah.

Marilah kita, kata dia, selalu mendoakan  saudara, dan kaum muslimin yang telah berpulang, semoga mereka mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya.

Khatib sekaligus imam salat Id, itu mengajak jamaah selalu mendoakan orangtua masing masing.

“Mereka telah bersusah payah membesarkan kita hingga menjadi seperti hari ini,” katanya dengan suara serak  seakan menahan tangis.

Ada dua orang pada shaf pertama diteras masjid tak kuasa menahan haru. Ia menangis sesenggukan. Di samping saya, seorang berpenampilan bak haji berperawakan sedang, menyeka  air mata yang mengalir dari kedua bola matanya. Sesekali ia menutup wajah pakai serban.

BERITA TERKAIT  Benarkah H.M. Jafar Sukhairi Nasution Sedang “Tersandera”

Saya ikut terbawa situasi. Ditambah cuaca mendung, diiringi gerimis dan hembusan angin. Seakan mengaminkan doa-doa yang dilantunkan imam.

Dan, saya pun tak kuasa menahan tangis. Menetes, setelah kelopak mata tak bisa lagi menampung genangan air dari dalam bola mata. Air mata jatuh, membasahi sajadah.

Tetesan air mata itu kian deras, karena dalam pikiran terkenang almarhum ayah dan almarhumah ibu.

Dahulu, pada setiap Ramadan saya sering menjadi muadzin saat ayah menjadi imam salat taraweh di kediaman Syekh Muhammad Yaqub Al Mandily bin Syekh Abdul Qadir Al Mandili, Kampung Bargot–sekarang Kelurahan Panyabungan III—Panyabungan, Madina, Sumut.

Selama satu bulan penuh, saya membantu pelaksanaan ibadah taraweh mulai dari menyapu, memasang tikar, adzan hingga muadzin. Sejak kecil, saya diajari ayah  sering membantu setiap kegiatan di rumah almarhum Syekh, terutama pada Ramadan.

Kala itu, jika tak salah saya kelas lima SD, Syekh Muhammad Yaqub Al Mandili berpulang dan tidak lama berselang, ayah pun dipercaya meneruskan semua tradisi di kediaman beliau, seperti: salat taraweh, salat Idul Fitri dan salat Idul Adha.

Menjadi kebanggaan saat itu bisa membantu pelaksanaan salat dikediaman almarhum Syekh. Harapannya, dapat membawa keberkahan dan kemuliaan dalam kehidupan.

Selama hidupnya, selain menjalan tugas sebagai kepala SD, ayah juga belajar tahfidz kepada Almarhum Syekh. Hingga kemudian dengan persetujuan  keluarga besar Syekh, ayah dipercaya  melanjutkan pengajian dan seluruh tradisi di rumah almarhum Syekh.

Air mata tak henti mengalir. Jamaah lain pun, termasuk para orang tua banyak ikut menangis.Mungkin sama seperti saya, mereka juga mengingat kenangan masa lalu bersama orangtua masing-masing.

Bersama keluarga atau saudara-daudaranya. Dalam tangisan itu, saya kenang ayah dan Ibu. Saya merindukan mereka..!! Saya rindu..

BERITA TERKAIT  Refleksi Akhir Tahun 2018 “Beritahuta.com”,  Bupati Mendukung, Awas Tersandung?

Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu..

Salat taraweh terakhir menjadi kebanggan bagi saya. Saya dan beberapa anak lain yang tiap hari bergiliran membantu, bisanya dapat kain sarung hasil patungan jemaah.

Betapa bangganya saat itu karena tidak semua anak punya kesempatan seperti ini. Saat itu, dapat sarung merk Wadimor rasanya seperti memperoleh barang istimewa.

Setua apapun usia kita sekarang, toh sebagai anak pasti punya kenangan terhadap orang tua masing masing. Itu pasti. Kenangan itu sewaktu-waktu atau pada momen tertentu bisa hadir dalam ingatan. Membangunkan memori nostalgia.

Menurut ilmu kesehatan, kenangan selain dapat mengurangi stres yang menganggu pikiran,  juga bermanfaat meningkatkan mood atau pembangkit semangat yang berguna memberi makna dalam kehidupan.

Pastinya, mampu meningkatkan hubungan dengan keluarga, dan juga membuat seseorang lebih mencintai hidup yang dijalani.

Daya ingat juga menjadi lebih baik dan lebih kuat dengan hadirnya kenangan. Kenangan membuat otak bergerak menelusuri miliar kilometer kebelakang, sekaligus mengaktifkan otak untuk bekerja membuka bagian kehidupan pada masa lalu.

Sebagai sarana reaktualisasi dan arena ikhtibar tentu saja kenangan menjadi penting untuk pelajaran pada masa mendatang.

Kenangan hampir identik dengan ilmu sejarah yang difungsikan mengenang masa lalu guna perbandingan dalam kehidupan pada masa sekarang dan masa depan. Tidak hanya membuatmu menjadi baper melulu…!!

Idul Fitri menjadi sarana instrospeksi diri secara personal untuk mendekatkan diri dengan orang-orang tercinta. Wadah memperbaiki hubungan dengan keluarga, pasangan dan orang terdekatmu. Termasuk–bisa jadi—dengan sang  pacar.

Jika Idul Fitri-mu berlalu begitu saja tanpa mampu menyibak kenangan, dipastikan Hari Raya Kemenangan ini hanyalah sebuah perayaan seremonial belaka. Hanya meninggalkan lelah dan hutang semata. Itu artinya kita menjadi orang yang gagal meraih kefitrian hakiki…

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha Illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H, mohon maaf lahir dan batin…. (*)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here