BERBAGI
Mhd. Bakhsan Parinduri (Jasinaloan)

IYA bole morangku, on da hum na mandokon ata gorit-gorit do pe ami on, anso ulang jalak-jalak amu di gadis muyu na margoar……Ia boti madung nioban pomparan ni kahanggi tu bagas nami i ma tu….Onpe um ata gorit-gorit do pe on, nangkan ro dope ami naron borngin mandalankon tangga ni paradatan boti mandokon ata bou anso ulang agoan. I pe mora nami mula martoruk ni abara do mora nami manjagit aroro nami.

Kalimat di atas merupakan salah satu contoh markobar atau marata-ata yang ditulis dalam buku “Panduan Markobar dalam Budaya Mandailing”.

Buku karya Mhd. Bakhsan Parinduri (Jasinaloan) ini disambutan postif, baik peminat adat budaya maupun tradisi lisan Mandailing.

Buku “Panduan Markobar dalam Budaya Mandailing” terdiri 99 halaman. Cetak pertama pada 2013. Mengingat masih banyak masyarakat Mandailing, khususnya perantau, mencari buku ini, CV. Deli Grafika—selaku penerbit—menerbitkan cetakan kedua.

Markobar dapat diartikan sebagai pembicaraan resmi yang dilaksanakan dalam sidang adat Mandailing, baik acara siriaon (pesta atau suasana gembira), atau siluluton (suasana duka). Sebagai norma warisan turun-temurun, markobar memiliki tata cara sesuai konvensi bersama masyarakat Mandailing.

Dalam kata pengantar cetakan kedua, Bakhsan Parinduri menulis: keahlian markobar merupakan komptensi yang tidak dimiliki setiap orang. Seorang parkobar setidaknya harus memahami adat budaya Mandailing dan menguasai bahasa Mandailing, terutama pada kategori yang disebut ragam andung.

Bakhsan Parinduri juga menyebutkan, tak dapat dipungkiri di kota-kota besar, terdapat banyak parkorbar profesional yang setiap saat bisa diberdayakan mengisi kelangkaan tokoh parkorbar.

Dalam kedakade terakhir, tradisi markobar makin mengalami abrasi. Jangankan markorbar dalam satu runtutan pembicaraan panjang, seperti: manyapai boru, pasahat batang boban, dan mandokon ulang agoan, menyampaikan kegiatan sederhana saja, misalnya, ucapan terima kasih, manyurdu burangir, atau mempersilakan makan saja harus pakai jasa parkobar.

Dengan kata lain, parkorbar makin langka. Sebagian besar masyarakat Mandailing, terutama yang tinggal di kota, belum tentu mampu melaksanakan tugasnya sepanjang adat—inda tarjuguki ia jugukan ni ibana. Kondisi ini menyebabkan banyak parkorbar carteran seperti terjadi di Kota Medan. Padahal ini sangat menyalahi adat Mandailing, ulang isuan bulu naso marruas.

Pribahasa itu mengisyaratkan agar tahu diri, mengerti posisi, dan paham etika. Mengaku menjadi  suhut, anak boru, atau kahanggi padahal bukan. Ini melanggar adat dan etika.

BERITA TERKAIT  Ketua Dekranasda Madina Kunjungi Narisya Batik Motif Mandailing

Apalagi mengaku sebagai raja, padahal tak ada langit kerbau yang disembelih ketika dia menikah. Disisi lain, raja-raja Mandailing pun tak begitu respek, apalagi mereka tampak lihai markorbar.

Dalam buku ini, Baksan Parinduri menulis, bahwa sebagian masyarakat Mandailing masih memandang bagian-bagian upacara adat yang disampaikan secara non verbal atau verbal, bahwa markobar sebagai suatu kegiatan penting: sakral, tradiktif, ataraktif, dan artistik.

Buku ini menjelaskan secara gamblang mengenai apa yang dimaksud sakral, tradiktif, ataraktif serta artistik.

Pada cetakan kedua, tak banyak mengalami perubahan dibanding cetakan pertama. Untuk menguasai tradisi ini, Bakhsan Parinduri menawarkan metode oratoris pidato. Dalam buku juga terdapat contoh-contoh bahasa Mandailing yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

BERITA TERKAIT  Jelaskan Soal “Pekan”, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Madina Diduga Berbohong

Buku cetakan kedua ini sudah mulai dipasarkan di wilayah Mandailing Natal. Jika berminat, bisa didapatkan di Gallery Narisya Batik Mandailing, Jl. Williem Iskandar No.99 (depan Masjid Raya), Pasar Lama, Panyabungan, Madina.

Atau bisa juga melalui online, wa: 0813-7929-744. Harga: Rp65.000,- per buku—belum termasuk ongkir.

Tentang Penulis

Mhd. Bakhsan Parinduri (Jasinaloan) lahir di Tombak Bustak, Mandailing Natal (Madina), 10 November 1964. Ia merupakan lulusan pertama SD Inpres Tombak Bustak (1978), SMP Negeri 2 Kotanopan (1982), SMA Kotanopan (1985), Fakultas Ilmu Budaya USU (1991), serta FKIP Unimed (2020).

Sejak 1987 sampai sekarang Bakhsan Parinduri merupakan pembimbing bahasa Indonesia. Ia pernah menjadi pengajar bahasa Indonesia di USU dan IAINSU, guru SMA AL-Azhar Medan (1990-1996), guru BP di YPI Amir Hamzah Medan (1996-2008), dan guru BP prime one School Medan (2008 s/d sekarang).

Bakhsan Parinduri adalah pengamat, sekaligus pemerhati seni dan budaya Mandailing.  Karyanya antara lain: Kamus Bahasa Mandailing; menerjemahkan karya Williem Iskandar dalam buku “Mengenal Lebih Jauh Williem Iskandar dan Si Bulus-bulus Si Rumbuk oleh Pangaduan Lubis; novel Mandailing “Mangirurut; dan Buras Lopo Mandailing.

Sejak 1990-an, Bakhsan Parinduri aktif menjadi pemain gondang dan gordang sambilan, paronang-onang, pangupa di Kota Medan, memiliki grup gordang sambilan, dan Sisinanggul Lungun. (Akhir Matondang)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here