BERBAGI
MELOMPONG--Stand Dinas Ketahanan Pangan Mandailing Natal, Sumut pada kegiatan Expo Ekonomi Kreatif Madina hanya buka dua hari dari jadwal empat hari. Ini foto pada hari keempat petang, Kamis (17/8/2023). (foto: akhir matondang)

PANYABUNGAN, BERITAHUta.com—Tidak jelas alasannya, stand Dinas Ketapang Mandailing Natal (Madina), Sumut di arena Expo Ekonomi Kreatif Madina di lapangan Masjid Agung Nur Ala Nur, Panyabungan ternyata hanya buka dua hari. Banyak menduga, lantaran kebohongan mereka terkuak.

“Cuma dua hari buka. Hari ketiga dan empat seorang pun enggak ada lagi pegawai di sana. Dengar-dengar kepala dinasnya marah setelah ada pemberitaan,” kata seorang pengisi stand expo,  Kamis (17/8/2023) petang.

Media ini coba meminta keterangan penyebab kepala Dinas Ketahanan Pangan Madina marah, namun lelaki umur sekitar 30 tahun tersebut mengaku tidak tahu. “Hanya itu yang saya dengar. Padahal, hari kedua itu sempat stok beras mereka ditambah karena memang lumayan laku,” ujar sumber yang tak mau ditulis namanya tersebut.

Di tempat terpisah, Riswan Kaligrafi, yang stand mereka nyaris hadap-hadapan di stand expo, menyebutkan satu-satunya stand yang dapat duit pada kegiatan yang berlangsung 14-17 Agustus 2023 itu hanyalah stand Dinas Ketahanan Pangan Madina dengan produk satu-satunya adalah beras Bulog.

“Kalau saya, hari pertama enggak dapat duit satu rupiah pun. Baru hari ketiga agak ramai, itu pun  hanya laku dua kaligrafi melalui pesanan. Jujur, itu pun yang beli orang pemda. Nawarnya, minta ampun. Kalau ditotal sampai jelang penutupan, alhamdulillah dapat sekitar Rp1 juta,” kata lelaki warga Dalan Lidang, Panyabungan, Madina yang akrab disapa ustad.

BERITA TERKAIT  Pilkada Tetap November 2024, Mensesneg: Pemerintah Tak Ingin Revisi UU Pemilu & UU Pilkada

Persoalan stand Dinas Ketapang Madina ini menjadi menarik dibicarakan masyarakat lantaran penjaga stand yang notabene pegawai negeri sipil (PNS) di OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Pemkab Madina  itu menyebut beras yang mereka jual seharga Rp9.500,-/kilogram bukan beras Bulog, tetapi beras biasa seperti yang dijual di pasar.

Hanya saja, beras dari petani itu diambil dari gudang Bulog karena memang di sana tempat penyimpanannya. “Anta na beras Bulog do (Jangan-jangan beras Bulog-red),” tanya seorang ibu. Saat itu, kebetulan media ini berada di samping si ibu.

Olo, aropku beras Bulog do on (Ya, sepertinya ini beras Bulog-red),” tambah teman ibu tersebut.

Mendengar gunjingan tersebut,  penjaga stand menyebutkan “Inda beras Bulog on ibu, tai memang isimpan (beras) i gudang Bulog,” jelasnya.

Si penjaga stand diduga berbohong. Media ini sengaja membeli satu karung kemasan lima kilogram. Setelah diperiksa secara teliti, pada kemasan beras yang dijual Rp49.500,- per lima kilogram terdapat tulisan SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan).

Di sudut kiri atas terdapat logo dan tulisan Badan Pangan Nasional. Sedangkan di sudut kanan atas tercantum logo dan tulisan: BULOG Bersama Mewujudkan Ketahanan Pangan.

BERITA TERKAIT  Sanksi bagi 7 Siswi Robek Rok Tak Berubah, Cabdis Pendidikan Bantu Proses Pindah

Bagian kiri bawah kemasan ada tulisan: Cadangan Beras Pemerintah. Di bawahnya: Didistribusikan Oleh Perum Bulog Jl. Jenderal Gatot Subroto No.49 Jakarta Selatan.

Kanan bawah: kelas mutu medium, HET (Harga Eceran Tertinggi) Sumatera (non Lampung & Sumsel), NTT, Kalimantan Rp9.950,-/kilogram.

Setelah ditimbang, kemasan beras tersebut hanya 4,8 kilogram. Tetapi hal ini mungkin hanya akibat kelalaian juru timbang saat pengemasan.

Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Madina Taufik Zulhandra Ritonga tak mau dikonfirmasi terkait hal ini. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan, namun meski sudah berhari-hari tetap juga diberi jawaban, termasuk soal jumlah beras yang dijual kepada masyarakat pada kegiatan expo tersebut.

Taufik juga tidak mau menjelaskan apakah benar ucapan penjaga stand bahwa beras yang mereka jual bukan beras Bulog. Dia juga tak menjelaskan apakah beras yang dijual produk UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Madina.

Seperti diketahui, Taufik adalah kepala dinas yang sulit dihubungi untuk melakukan konfirmasi. Di kantor, ia jarang masuk. Di telpon, handphone-nya acap tak aktif. Di WhatsApp, jarang dibaca. (*)

Editor: Akhir Matondang

 

BERBAGI