BERBAGI
Elpi Yanti, kepala Bidang Bina Marga pada Dinas PUPR Mandailing Natal, Sumut (foto: istimewa)

EPI. Dalam beberapa hari terakhir nama ini sering menjadi topik perbincangan masyarakat, khususya  warga di Kelurahan Longat, Kecamatan Panyabungan Barat, Mandailing Natal (Madina), Sumut. Bahkan sebagian di antara mereka penasaran ingin melihat wajah wanita berhijab ini.

Inda tarimo alak ison idokon si Epi dalan i rusak OTK (orang tidak dikenal),” teriak seorang warga di salah satu lopo yang ada di Longat, belum lama ini.

Warga lainnya menimpali, “Ra do ami mambuat surat pernyataan bahaso inda botul dalan i isega OTK. Aha buktina adong manyiramkon solar tu aspal i.”

Kutipan percakakan warga itu menjadi bukti ada rasa kecewa warga terhadap Epi. Tak hanya di sekitar Longat, masyarakat Desa Huta Tonga, Kecamatan Panyabungan Barat juga menyimpan perasaan serupa, kecewa dan ingin mempertanyakan dasar ucapannya.

Bahkan di tengah masyarakat sekarang sudah beredar keinginan membuat surat pernyatan penolakan atas ucapan Epi yang dinilai sebagai pembohongan publik.

Dalam surat itu, mereka juga ingin menjelaskan hal sesungguhnya yang mereka saksikan mengenai proses pekerjaan proyek jalan yang menjadi pemicu munculnya persoalan.

Elpi Yanti atau yang akrab disapa Epi melihat jalan hotmix yang dia sebut baru disiram OTK pakai solar. (foto: istimewa)

Warga tegas menyatakan sangat tidak terima pernyataan Epi, yang punya nama lengkap Elpi Yanti lantaran statement-nyaterkesan asbun alias asal bunyi. Bahkan sejumlah warga Longat menyebut ungkapan itu hanya sebagai cara atau modus menutupi buruknya kinerjanya.

Epi saat ini  menjabat kepala Bidang Bina Marga pada Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) Madina, pada Senin (19/9-2022), dengan penuh percaya diri mengatakan  pembangunan peningkatan jalan Aek Godang-Hutabargot  dirusak OTK dengan cara menyiramkan bahan bakar jenis solar ke hotmix yang baru sekitar satu bulan dihampar.

“Ini ada sedikit sabotase. Aspal yang dicongkel sudah terlebih dahulu disiram dengan solar, kemudian dicongkel pakai kayu,” katanya seperti dikutip dari StartNews.

Dia tidak merinci lebih jauh mengenai pernyataannya, tapi berjanji bakal melakukan uji laboratorum untuk membuktikan apakah betul ada  solar yang disiramkan oleh OTK di aspal. Jika ada indikasi sabotase, tak menutup kemungkinan pihaknya bakal menempuh jalur hukum.

BERITA TERKAIT  57 Warga Simangambat TB Terima BLT-DD Tahap Pertama 2023

Nyatanya, lima hari setelah mengeluarkan pernyataan, Epi belum juga mau memberikan keterangan tentang hasil uji laboratorium. Beritahuta sudah mengirimkan pertanyaan konfirmasi mengenai hal itu kepada sang kabid (kepala bidang), namun tidak ditanggapi sama sekali meskipun sudah lebih 40 jam dari waktu ditentukan.

Gunjang-ganjing pembangunan peningkatan jalan Aek Godang-Hutabargot bermula ketika muncul video di youtube yang menyebutkan kualitas proyek jalan senilai sekitar Rp4,93 miliar itu diduga dikerjakan asal-asalan.

Aspal hotmix mudah rusak. Bayangkan, di beberapa titik jika sepeda motor diparkir, tanpa ada beban manusia atau barang pun tampak ada bekas ujung standar kendaraan itu di aspal. “Palan-palan ra lonyop bosi panungkol ni kretai,” ujar warga.

Ungkapan seperti kalimat itu juga terekam dalam video yang menyebar di youtube. Wajar saja, setelah melihat tayangan di dunia maya, Epi dan timnya turun langsung melihat kondisi proyek yang dikerjakan CV. Bina Sarana.

Di lokasi proyek yang menurut perkiraan media ini total sepanjang 2,5 kilometer Epi dan rombongan mengaku melihat di beberapa tempat ada badan jalan seperti bekas disiram minyak solar, yang kemudian material hotmix dicongkel pakai kayu.

Apakah hal itu benar, belum tentu. Justru pernyataan yang tak dibarengi bukti menujukkan kepanikan yang menyulut kegaduhan di tengah masyarakat. Bahkan, bisa menimbulkan persoalan baru.

Tak terbantahkan jika ada yang menyebut saat turun ke lokasi Epi tidak bisa kontrol diri. Ia emosi tak karuan. Seorang warga mengaku melihat kabid seolah marah-marah kepada Ahmad Lenda, Lurah Longat.

Epi tampaknya tak terima karena dalam tayangan youtube yang mempertanyakan kualitas proyek didanai DAK (dana alokasi umum) itu, kebetulan menjabat kepala lingkungan alias kepling di Longat.

“Epi dan seorang rekannya marah-marah terhadap Pak Lurah. Padahal Lurah tidak tahu-menahu mengenai ucapan kepling. Bahkan kabarnya dia juga tak diberitahu sama sekali adanya pekerjaan proyek di Longat,” katanya.

BERITA TERKAIT  Sanksi Adat, Keluarga Ayah Cabuli Putrinya “Diusir” dari Desa Mereka

Tentu saja, Ahmad Lenda tidak terima ia menjadi sasaran amarah Epi dan seorang rekannya. Sempat seperti bersitegang.  “Kenapa saya yang disalahkan. Saya tidak tahu adanya video di youtube.  Saya juga tidak tahu menahu tudingan sabotase,” katanya.

Mungkin lantaran tidak terima menjadi sasaran amarah Epi, lalu dia menyebutkan, “Dari dinas (Dinas PUPR Mdina) atau pihak rekanan tidak seorang pun memberi tahu kelurahan, baik lisan atau tulisan, jika rekanan mau mengerjakan proyek jalan di sini. Kenapa ketika ada masalah saya yang disalahkan. Kita ini sama-sama aparat pemerintah, saling menghargailah,” demikian kira-kira ucapan Lurah.

Tak hanya di Longat dan sekitarnya, di kalangan wartawan juga Epi terkesan arogan. Ini sudah lama jadi perbincangan kalangan jurnalis.  Salah satu tabiatnya adalah suka menghindar dari pers yang hendak konfirmasi. Jika ada pejabat atau siapun menghindar dari rekan-rekan wartawan, perlu dipertanyakan: ada apa.

Setidaknya ini sudah terbukti ketika Beritahuta menyampaikan konfirmasi, sama sekali tidak digubris. Padahal media ini sudah memberikan waktu cukup panjang serta menawarkan tiga opsi terhadap materi wawancara tertulis itu, bisa dijawab melalui WwhatsApp, tertulis di atas kertas, atau tatap muka.

Ungkapan suka menghindar dari wartawan itu kian mendekati benar. Informasi yang didapat media ini menyebutkan, ruang kerjanya di kantor Dinas PUPR Madina acap digembok dari luar—bukan dikunci, tapi digembok, padahal sebenarnya ia ada di dalam ruangan.

Ketika ada wartawan atau pihak lain yang tidak dikehendakinya masuk ruangan, staf di luar ruang kabid menyebutkan Epi sedang dinas luar. Namun, jika orang yang datang itu boleh masuk ruangan—setelah byphone dengan kabid, barulah staf membukakan pintu.

Ruarrr biasa Bu Epi, boleh juga diusulkan masuk rekor MURI.

akhiruddin matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here