BERBAGI
PACU PERTUMBUHAN--Uji coba Bandara AH. Nasution pada, Kamis (21/3/2024) berlangsung sukses. Kehadiran bandara ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Madina, termasuk Tabagsel. (foto: ist)

Oleh: Irwan H. Daulay

Pengamat Pembangunan Sumut

MOBILITAS barang dan jasa akan semakin efisien dengan hadirnya bandara idaman masyarakat Mandailing Natal (Madina) dan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Saat ini jika kita mau bepergian ke ibu kota Propinsi Sumatera Utara (Sumut), yakni Medan maupun ibu kota negara atau perjalanan luar negeri harus menempuh perjalan yang sangat jauh. Ini lantaran secara gerografis kabupaten ini berada di ujung selatan wilayah Sumut–berbatasan dengan Sumatera Barat (Sumbar)

Selain melelahkan, perjalanan menuju ibu kota propinsi, ibu kota negara, dan keluar negeri memerlukan waktu dan cost tinggi. Setelah Bandara AH. Nasution beroperasi semua masalah tersebut terpecahkan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan bandara ini kedepan sehingga dapat bermanfaat optimal bagi masyarakat Madina, Tabagsel, bahkan termasuk sebagian wilayah Sumbar.

Potensi SDA (Sumber Daya Alam) Madina melimpah, baik pertanian, perkebunan, pertambangan dan kelautan. Saat ini sebagian besar berbagai potensi itu sedang tahapan pembangunan dan pengembangan.

Lalu, sebagian lagi dalam tahapan perencanaan pengembangan. Termasuk pengembangan wilayah pantai barat Madina. Daerah ini memiliki kekayaan biota laut yang luar biasa, keindahan pantai dan pulau-pulau kecil nan eksotis sepanjang sekitar 170 kilometer garis pantai.

BERITA TERKAIT  Misteri Ular Sebesar Batang Kelapa di Lokasi Taman Raja Batu Blok D
foto: ist

Untuk kepentingan tersebut jalur alternatif menembus pantai barat Madina sebenarnya sudah dirintis sejak pada masa Bupati Madina Amru Daulay. Kemudian prosesnya ditingkatkan pada era bupati berikutnya, Dahlan Nasution, yaitu jalur Bukit Malintang (lokasi Bandara AH. Nasution) menuju Singkuang, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG) Madina.

Rute ini melintasi Kecamatan Naga Juang dengan mengitari DAS (Daerah Aliran Sungai) Sungai Batang Gadis sampai bertemu Sungai Batang Angkola. Rencana ini masih dalam tahap proses karena sebagian jalur perencanaan itu melewati kawasan hutan sehingga perlu izin pinjam pakai  dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Sebenarnya usulan ini sudah lama sekali, namun karena kurang sigapnya pihak-pihak terkait mengurusnya maka proses menjadi (sangat) lamban. Kalau boleh dikatakan stagnan.

Namun setelah uji terbang bandara hari ini, Kamis (21/3/2024), bupati Madina dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah), serta pihak-pihak terkait diharapkan dapat menunjukkan keseriusan lebih tinggi, sehingga izin tersebut kembali berproses dan pembukaan jalan dapat dilanjutkan.

Berdasarkan hasil pemetaan saya, jika ditarik garis lurus dari Bandara AH. Nasution, jarak menuju jalan nasional wilayah MBG—Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel) hanya sekitar 70 kilometer. Taksiran, jika sudah terbangun bisa mencapai 100 kilometer. Jarak tempuh ini pastinya sangat efisien jika  dijadikan sebagai jalur alternatif menuju pantai barat Madina.

BERITA TERKAIT  Soal "Pepesan Kosong", Belajarlah dari Ngabalin

Artinya untuk mencapai pantai barat Madina hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalan, jauh lebih cepat jika dibanding waktu tempuh hari ini yang memerlukan waktu minimal empat jam.

Belum lagi lalu lintas sering terhalang lantaran sering terputus oleh longsor dan banjir, termasuk melewati beberapa pasar mingguan yang memakai badan jalan sehingga menyebabkan kemacetan.

Itulah sebabnya, kedepan bupati, OPD, dan pihak-pihak terkait harus lebih serius membangun daerah ini yang diawali dengan membenahi jalur transportasi. Memperpendek waktu tempuh antar pusat kabupaten dengan kecamatan, termasuk antar desa dengan pusat kecamatan.

Dengan hadirnya bandara idaman ini, yang kita harapkan bisa cepat beroperasi sebagaimana bandara komersil lainnya, laju pertumbuhan ekonomi Madina makin meningkat. Setali tiga uang, pertumbuhan pembangunan dengan memanfaatkan segala potensi dimiliki diharapkan bisa kian menggeliat. Tujuan utamanya adalah kesejahteraan rakyat, bukan kesejahteraan sekelompok orang. (***)

 

BERBAGI