Hipertensi, Penyakit  Pembunuh Senyap yang Harus Diwaspadai

BERBAGI

BERITAHUta.com—Jumlah penderita tekanan darah tinggi (prevalensi hipertensi) di Indonesia masih cukup tinggi. Karena itu, masyarakat hendaknya mewaspadai penyakit pembunuh senyap ini dengan tetap menjaga pola hidup sehat.

“Jumlah penderita darah tinggi di Indonesia masih sangat tinggi, sehingga menjadi masalah di tengah masyarakat,” kata dr. Khaerulsyah Nasution, Sp.PD., ketika menjadi pembicara pada acara Penyuluhan Kesehatan bertema “Penyadaran Bahaya Hipertensi dan Komplikasinya” yang berlangsung di RSUD Pasar Minggu, Jakarta, belum lama ini.

Dia mengatakan, hipertensi disebut sebagai si pembunuh senyap karena gejalanya sering tanpa keluhan. Biasanya, penderita tidak mengetahui kalau dirinya mengidap hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi.

Dengan kata lain, hipertensi termasuk kategori penyakit berbahaya karena dapat membunuh manusia secara diam-diam. Beberapa  perilaku yang berisiko menderita hipertensi, antara lain: obesitas (kelebihan berat badan), merokok, kurang olarga, terlalu banyak garam, gula, lemak, alkolohol dan stress.

Mengenai gejala penderita tekanan darah tinggi, Khaerulsyah menyebutkan, penderita biasanya pusing, sesak nafas, pendarahan hidung, mual dan muntah. “Bisa menyebabkan pusing berputar (vertigo), jantung berdebar-debar, dan mudah lelah,” katanya.

Selain itu menyebabkan penglihatan kabur, telinga berdenging, mimisan, serta sakit kepala atau rasa berat di tengkuk. “Gejala-gejala ini harus dipahami masyarakat. Jangan sampai dianggap sepele, perlu segera diperiksakan ke tempat pelayanan kesehatan jika merasa mengidap gejala tersebut,” jelasnya.

Data Riskesdas 2013 menyebutkan, penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas sebanyak 36,3 persen merokok,  kurang konsumsi buah dan sayur (93,5%), konsumsi garam lebih dari 2 ribu mg/hari (52,7%), obesitas (15,4%), dan kurang aktifitas fisik (26,1%).

“Kondisi itu memicu banyak masyarakat berpotensi hipertensi. Sebab itu, dihimbau agar waspada sebab bisa berakibat fatal, seperti  struk, serangan jantung, impotensi, ganguan penghilatan, gagal jantung, bahkan  kematian, “ kata Khaerulsyah.

Data WHO 2015 menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Artinya, 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis menderita hipertensi, hanya 36,8% di antaranya yang minum obat.

Jumlah penderita hipertensi di dunia terus meningkat. Diperkirakan pada 2025 akan ada 1,5 miliar orang yang terkena hipertensi. Diperkirakan juga setiap tahun ada 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasi.

Di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 25,8%, prevalensi tertinggi terjadi di Bangka Belitung (30,%) dan yang terendah di Papua (16,8%). Sementara itu, data Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) tahun 2016 menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas sebesar 32,4%.

Sedangkan, menurut data BPJS Kesehatan, biaya pelayanan hipertensi mengalami peningkatan setiap tahun, yakni pada tahun 2014 sebesar Rp2,8 triliun, Rp3,8 triliun (2015), dan Rp4,2 triliun (2016).

Pada kesempatan itu, Khaerulsyah menjelaskan derajat tekanan darah tinggi kategori optimal berada dibawah 120 mmHg, normal (120-129 mmHg), normal-tinggi (130-139 mmHg), hipertensi derajat 1 (140-159 mmHg), hipertensi derajat 2 (160-179 mmHg), hipertensi derajat 3 (di atas 180 mmHg), serta hipertensi sistolik terisolasi (140 mmHg).

“Hipertensi tidak bisa dianggap penyakit sepele. Karena itu, masyarakat harus tahu tentang bahaya penyakit ini dan cara penangannya.  Jika tekanan darah terkontrol,  kita selamat,” katanya. (*)

Peliput: tim

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here