BERBAGI
Beginilah kondisi jembatan yang menghubungkan Desa Laru dan Tambangan Jae. Di sini sebenarnya ada dua jembatan, lama dan baru. Keduanya hanyut dibawa derasnya aliran Aek Batang Gadis.

BERITAHUta.com—Hujan yang mengguyur sejumlah tempat di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara sejak Jumat sore (2/11), hingga malam menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah titik. Bahkan, derasnya debit Aek Batang Gadis mengakibatkan jembatan di Kecamatan Tambangan roboh.

Jembatan menghubungkan Desa Laru-Desa Tambangan Jae roboh serta hanyut pada Jumat malam, sekitar pukul 22.00. Di atas aliran Aek Batang Gadis ini ada dua jembatan, lama dan baru. Kedua-duanya ikut hanyut terbawa air.

Pada saat kejadian, awalnya jembatan baru roboh. Saat material jembatan baru tersebut hanyut, badan jembatan lama tidak mampu menahan dorongan material jembatan baru sehingga kedua-duanya ikut terbawa air sungai.

Hingga Sabtu pagi ini, sebagian sisa material jembatan berupa besi baja masih tersisa di tengah aliran Aek Batang Gadis. Penduduk setempat cuma bisa menyaksikan puing-puing material jembatan di tengah aliran sungai.

Untuk sementara jalur antara Laru- dan sejumlah desa di seberang Aek Batang Gadis terputus. Seperti diketahui, di seberang sungai ini terdapat sejumlah desa, yaitu: Tambangan Jae, Tambangan Tonga, Tambangan Pasoman, Rao Rao Lombang, Rao Rao Dolok dan Simangambat.

Warga berharap Pemkab Madina cepat turun tangan karena saat ini desa-desa itu terisolir. Satu-satunya jalan menuju desa-desa itu hanya lewat Desa Aek Banir, lalu keluar di dekat Masjid Nur ala Nur, Panyabungan, tepatnya di dekat Jembatan Aek Godang.

BERITA TERKAIT  Belasan Ribu Santri dan Warga Madina Sambut Sandiaga dengan Bersalawat

Kondisi jalan ini juga tidak mendukung. Selain sempit, berbatu, dan di sejumlah titik rawan terjadi longsor. Namun, jika jembatan sementara antara Laru-Tambangan Jae tidak segera dibangun, tidak ada pilihan lain, kecuali melalui Aek Banir.

Terkait robohnya jembatan ini, sebenarnya pemilik akun facebook: Halak Kotanopan, sudah mewanti-wanti musibah ini. Dalam akunnya pada Sabtu pagi (3/11), ia beharap robohnya jembatan perlu diselediki.

“Sekitar sebulan lalu jembatan baru yang sedang dikonstruksi roboh ke sungai. Saat itu sudah kita ingatkan agar kontraktor mengangkat material yang jatuh tersebut secepatnya. Sebab jika sungai meluap dan membawa kayu-kayu besar akan tertahan  pada material baja-baja, dan bisa menghambat aliran air. Akibatnya, jembatan hanyut,” tulisnya.

Karena itu, pemilik akun ini berharap perlu ada penyelidikan terkait hanyutnya jembatan itu. “Tanpa bermaksud menuduh, hanyutnya jembatan lama, apakah akibat kelalaian seperti kami khawatirkan di atas?”

Jika memang terbukti ada kelalaian, tulis Halak Kotanopan, kontraktor bisa diminta pertanggung jawaban.

Sementara itu, luapan banjir juga terjadi di sekitar komplek pendidikan STAIM (Sekolah Tinggi Agama Islam Mandailing Natal), di Dalan Lidang, Panyabungan.  Genangan air di sini disebabkan DAS (daerah aliran sungai) Aek Batang Gadis tidak mampu menampung debit air.

BERITA TERKAIT  Napak Tilas di Hutapungkut, Warnai Peringatan Satu Abad Jenderal Besar AH. Nasution

Sehingga tempat pendidikan di sekitar STAIM mengalami banjir. Siswa SMA Plus yang tinggal di asrama terpaksa diungsikan pada Sabtu dini (3/11), sekitar pukul 01.00.

Di Kecamatan Siabu, setidaknya dua desa tergenang air, yaitu Hutagodang Muda serta Muara Batang Angkola. Debit air di sebagian perkampungan warga mencapai sekitar satu meter.

Dua desa ini termasuk langganan banjir. Pada musim hujan kali ini, sedikitnya sudah tiga kali rumah penduduk terendam. Bahkan, areal persawahan juga ikut tergenang sehingga dikhawatirkan mengakibatkan gagal panen.

Jalur lintas Sumatera (jalinsum) juga tidak ketinggalan terkena dampak cuaca ekstrim ini.  Material longsor yang menutup badan jalan di Desa Muara Botung, Kecamatan Kotanopan, Madina menyebabkan arus lalu lintas di jalur ini sementara putus.

Warga menyebutkan, longsor terjadi sekitar Sabtu dini hari. Akibatnya, arus kendaraan dari arah Kotanopan-Muara Sipongi, demikian juga sebaliknya, terhalang. Akibatnya, antrean panjang “menjalar” di sepanjang jalinsum.

Akibat hujan deras yang mengguyur Madina sekitar 10 jam, sejak Jumat sore, tidak hanya menyebabkan banjir, longsor, dan jembatan hanyut, aliran listrik juga padam hampir di semua wilayah. (tim-01)

 

 

 

 

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here