BERBAGI
RAMAI--Salat Idul Fitri 1442 H di Masjid Raya Walqurra Walhuffaz, Pasar Lama, Panyabungan, Madina pada, Kamis (13/5-2021), berlangsung seperti biasa, tak ada jaga jarak, tak ada mencuci tangan, serta nyaris tak ada jemaah yang pakai masker.

GEMA takbir keliling silih berganti lalu-lalang di jalan protokol Panyabungan, ibu kota Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut pada Rabu malam (12/5-2021. Arus lalu lintas pun padat merayap.

Cuaca cerah turut mengundang warga tumpah di pusat kota ini untuk mencari keperluan masing-masing, atau sekadar melihat-lihat suasana malam menyambut hari kemenangan.

Salah satu rombongan takbir keliling di pusat Kota Panyabungan, Madina pada Rabu malam (12/5-2021).

Panyabungan yang menurut Dahlan Iskan—mantan CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group—adalah kota tak pernah tidur betul-betul “begadang” hingga jelang subuh. Toko-toko pakaian, sepatu, warung TST (teh susu telor), counter hp, sampai tukang parut kelapa sebagian baru tutup sekitar pukul 04.00.

Hampir semua toko menjual keperluan Hari Raya dipadati pembeli. Toko-toko pakaian berjubel, apalagi “serba 35 ribu”, wah…, sampai tidak ada selah masuk ke dalam jika ingin belanja akibat ramainya.

Hamparan pedagang musiman berjejer di sepanjang Jalan Williem Iskandar, Panyabungan. “Celana Impor Rp100 Ribu”, demikian tulisan di salah satu lapak di dekan jembatan Sipolu-polu. Para kaum lelaki terlihat sibuk memilih warna dan ukuran yang diinginkan.

Deru suara mesin kendaraan bermotor yang melintas di jalan protokol menambah suasana kian hiruk-pikuk. Sesekali mobil rombongan takbir keliling melintas.

Entah disengaja atau tidak. Atau memang ada bargaining dengan aparat kepolisian, memang kendaraan konvoi hanya paling banyak lima unit mobil aneka jenis, termasuk bak terbuka. Jumlah  ini beda dengan tahun-tahun sebelumnya, mencapai seratusan.

Lalu di belakang konvoi mobil turut mengiringi puluhan sepeda motor peserta takbir keliling bercampur dengan warga yang kebetulan sedang melintas. Iring-iringan seperti ini terdiri beberapa kelompok hingga jelang pukul 24.00.

BERITA TERKAIT  Mulai 19 Maret Sampai 1 April 2020, Siswa di Madina Belajar di Rumah

Sahut menyahut alunan takbir dari masjid menambah susana penyambutan Idul Fitri 1442 H kian “bergemuruh”. Seolah tidak ada wabah corona yang menakutkan itu.

Setali tiga uang, nyaris pula tak ada warga pakai masker, dan mengabaikan jaga jarak. Apalagi soal mencuci tangan, mungkin masyarakat sudah lupa soal himbauan ini.

Suasana malam Lebaran pertama di depan Masjid Raya Walqurra Walhuffaz Pasar Lama, Panyabungan, Madina.

Dua hari jelang Ramadan ini berakhir sebenarnya Polres Madina keliling di pusat Kota Panyabungan mengingatkan kembali agar masyarakat tetap melaksanakan protokol kesehatan covid-19: 3 M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan.

Ini tentu dalam rangka mencegah dan menekan penularan virus covid-19. Secara umum himbauan lewat pengeras suara ini terkesan dianggap angin lalu. Tidak diindahkan sama sekali oleh masyarakat.

Aktivitas jelang Lebaran di Madina berlangsung seperti tidak ada wabah di negeri ini. Normal saja. Kalau pun ada warga pakai masker, itu pun satu dua orang saja. Soal mencuci tangan dan menjaga jarak, nyaris diabaikan.

Aktivitas di pasar-pasar tradisional berlangsung normal, terkadang warga tampak himpit-himpitan. Suasana seperti ini tak beda jauh sebelum covid-19. Warga berjubel di pasar mencari keperluan rumah, termasuk membeli daging sapi atau kerbau.

Kehadiran pemudik yang jumlahnya cukup signifikan turut andil menambah meriah suasana penyambutan Lebaran di Madina. Mobil pribadi bernomor polisi non BB, menghiasi hampir di setiap lokasi parkir di sepanjang jalan-jalan utama Kota Panyabungan.

Besoknya, Kamis (13/5-2021) atau hari H Lebaran, masjid-masjid melaksanakan salat Idul Fitri 1442 H tanpa protokol kesehatan covid-19.

BERITA TERKAIT  Bimtek bagi Istri para Kades se-Madina Dinilai Hanya Hamburkan Dana Desa

Di Masjid Raya Walqurra Walhuffaz, Pasar Lama Panyabungan, misalnya, jemaah membludak sampai ke Jalan Williem Iskandar—lebih ramai dari salat Id tahun lalu. Dari semua jemaah di masjid ini, (mungkin) tidak lebih 10 orang pakai masker.

Suasana pasca salat Idul Fitri pun, seperti biasa. Kendaraan membawa warga yang hendak silaturrahmi  dengan keluarga ramai lalu-lalang di jalanan. Rumah-rumah warga pun sesak oleh keluarganya masing-masing yang bersilaturrahmi.

Bahkan sejak sekitar pukul 09.00, sudah banyak anak-anak main pistol-pistolan, tradisi arirayo di Madina.

Pasar Lama Panyabungan dihari terakhir Ramadan 1442 H.

Meskipun cuaca agak menyengat, usai salat Idul Fitri tempat-tempat pemakaman umum (TPU) tampak ramai warga yang ziarah. Rombongan masing-masing keluarga berduyun-duyun—tanpa jarak—berjalan menuju lokasi perkuburan.

Sepanjang Lebaran pertama, suasana aktivitas masyarakat berjalan normal, sekali lagi: seolah sudah tak ada corona.

Dari gambaran tersebut dapat disimpulkan himbauan pemerintah agar melaksanakan protokol kesehatan covid sudah tidak digubris.

Apakah masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap pengelola negara mengenai wabah ini. Atau mereka meyakini pemerintah terlalu membesar-besarkan corona sampai-sampai perantau dilarang mudik bak teroris hanya untuk memuluskan tujuan-tujuan tertentu,  wallahu A’lam bishawab.

Meski demikian, hendaknya kita terus berdoa agar corona pergi dari negeri ini dan belahan dunia lainnya supaya aktivitas kehidupan normal kembali. Supaya tidak ada lagi pelarangan mudik, sehingga saudara-saudara kita nun jauh di sana bisa bersua sanak keluarga di kampung halamannya….

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, mohon maaf segala salah dan hilap…

Akhiruddin Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here