BERBAGI
BUBUR ASYURA--Balon bupati dan wakil bupati Madina H.M. Sofwat Nasution-Ir. Zubeir Lubis foto bersama para kaum ibu Desa Barbaran Julu, Kecamatan Panyabungan Barat, Madina usai menikmati bubur asyura, pada Jumat malam (28/8-2020).

BERITAHUta.com—Kaum ibu Desa Barbaran, Kecamatan Panyabungan Barat, Mandailing Natal (Madina), Sumut, Jumat malam (28/8-2020), menjamu H.M. Sofwat Nasution dan Ir. H. Zubeir Lubis dengan bubur asyura.

Para ibu-ibu sengaja mengundang bakal calon (balon) bupati dan wakil bupati Madina yang biasa disebut Sofwat-Beir itu datang ke desa mereka agar bersama-sama menikmati bubur asyura buatan mereka secara gotong royong.

Sofwat Nasution, Zubeir Lubis dan Mustafa Bakri Nasution menikmati bubur asyura yang dibuat “umak-umak” Barbaran Julu.

Acara makan bubur asyura yang juga dilakukan pengajian malam 10 Muharram 1442 diadakan di rumah Guru Ahmad, tokoh masyarakat Desa Barbaran Julu.

Setiap malam 10 Muraham, sejak dulu kaum ibu Desa Barbaran Julu selalu membuat bubur asyura. Selain sama-sama makan bubur itu, mereka juga membaca amal-amalan sebagai upaya  meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah Swt.

Dikutip dari laman internet, bubur asyura tak lepas dari ibadah puasa asyura yang rutin dilaksanakan setiap 10 Muharram.

Bagi umat Islam, puasa sunah ini dianggap istimewa, karena dipercaya mampu menghapus dosa setahun lalu.

Di berbagai daerah di Indonesia, bubur asyura biasanya dimasak dalam porsi besar dan dibuat bergotong-royong oleh warga desa.

BERITA TERKAIT  Sutan Parluhutan:  “Mamarsada Hata Hami” Ganti Bupati, Siap Menangkan Sofwat-Beir

Bagaiman sejarah bubur asyura?

Pertama, berawal dari perjuangan Nabi Muhammad SAW saat perang Badar.

Ada beberapa versi menjelaskan asal-usul bubur asyura. Salah satunya berawal dari perjuangan Nabi Muhammad SAW saat perang Badar.

Dikisahkan, usai perang Badar, jumlah prajurit Islam menjadi makin banyak. Saat itu, ada seorang sahabat nabi sedang masak bubur. Namun sahabat tersebut tak mengira ternyata porsi bubur yang ia masak tak sebanding dengan jumlah prajurit yang harus diberi makan.

Rasulullah akhirnya memerintah sahabat mengumpulkan bahan makanan apa saja agar dicampur ke bubur yang telah dimasak. Tujuannya supaya porsi makin banyak dan cukup untuk para prajurit.

Peristiwa ini pun jadi tradisi yang terus menerus dilakukan umat Islam untuk menyemarakkan keistimewaan Muharram.

Kedua, versi kisah Nabi Nuh saat turun dari kapal setelah banjir bandang.

Versi lain menyebutkan, tradisi memasak bubur asyura berawal dari peristiwa penting saat Nabi Nuh turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang.

BERITA TERKAIT  Jamaah Pengajian Purba Baru Doakan dan Dukung M. Sofwat Nasution

Saat pertama kali menyentuh daratan, Nabi Nuh memerintahkan umat mengumpulkan semua sisa perbekalan selama berlayar. Kemudian, sisa bekal itu dicampur dan diaduk jadi adonan bubur.

Bubur itulah yang kemudian disedekahkan kepada semua orang yang selamat dari bencana banjir bandang.

Ketiga, di Indonesia menjadi ajang mempererat tali silaturahmi.

Tradisi memasak bubur asyura setiap tanggal 10 Muharram memang masih terus dipertahankan di berbagai daerah di Indonesia. Momen ini menjadi makin spesial, karena bubur dimasak secara bergotong-royong.

Tak heran momen memasak bubur asyura menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga dan menumbuhkan jiwa sosial.

Memasak bubur asyura sebenarnya sama seperti memasak bubur pada umumnya. Namun bahan yang dicampur biasanya dilengkapi hingga 41 jenis bahan dan rempah-rempah, seperti sayur, kacang-kacangan, daging, hingga telur.

Ada juga yang membuat 11 atau 9 macam.(*)

Peliput : Tim

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here