BERBAGI
TaRAWIH--Nisah (jilbab hitam) bersama kawan-kawannya usai salat tarawih yang diimami Mostafa Atef, munsyid internasional dari Mesir. (foto: istimewa)

SEJAK lahir, ini kali pertama Khoirunnisah tidak berlebaran bersama ibu dan keluarganya. Ia merayakan Lebaran 2022 di Kairo, Mesir. Hafidz Qur’an 30 juz, ini menceritakan bagaimana suasana Ramadan serta Idul Fitri 1443 Hijriyah di negara tempatnya kini menuntut ilmu.

Sekadar mengingatkan, Nisah adalah salah satu peraih beasiswa uang kuliah di Al Azhar, Kairo. Namanya beberapa waktu lalu sempat viral, karena alumni Pesantren Darul Ikhlash, Dalan Lidang, Panyabungan, ini tak punya biaya sama sekali untuk daftar ulang jelang “detik-detik” terakhir masa daftar ulang.

Namun siapa sangka, Nisah yang tinggal bersama orangtuanya di Kelurahan Panyabungan III, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut, ini seolah mendapat keajaiban. Terbukti, tak ada yang tak mungkin jika Allah SWT menghendaki.

Berbagai pihak dari sejumlah kota di tanah air turut berempati atas kondisi Nisah,  termasuk H. Musa Rajeckshah, wakil gubenur Sumut. Bahkan, Ijeck, demikian dia biasa disapa, langsung menelepon santri yang kerap juara dalam bidang hafidz Al-Qur’an ini.

Nisah menyebutkan, Idul Fitri di Mesir sungguh membuatnya berdecak kagum. Masjid-masjid di sana dipenuhi lautan manusia. Tak ayal, agar bisa masuk ke dalam masjid, tidak ada pilihan lain harus rela berdesak-desakan.

Meskipun suasana Hari Raya di Mesir jauh lebih meriah, namun bagi Nisah Lebaran di kampung halaman bersama orangtua dan keluarga tetaplah terasa lebih enak.

“Jika suruh pilih, saya pilih Lebaran di kampung. Siapa sih yang tidak rindu berkumpul dengan keluarga. Apalagi pada saat-saat seperti ini. Salat Idul Fitri bareng keluarga. Makan gulai dan kue buatan ibu sendiri. Walaupun sederhana, namun terasa nikmat,” katanya.

BERITA TERKAIT  Madina Mencekam, Hampir Semua Kecamatan Terkena Banjir dan Longsor

Selain itu, ujar Nisah, Lebaran di kampung halaman bisa menjalin silaturahmi ke tempat keluarga. “Masih banyak lagi. Alhamdulillah pada zaman sekarang ini, kalau sekadar bertukar kabar tidak sulit lagi. Bisa  pakai telpon atau bahkan video call. Setidaknya rindu kepada orangtua, keluarga dan sahabat-sahabat terobati.”

Mengenai suasana Ramadan di Mesir,  memang jauh beda dengan di Indonesia. Salah satu tradisi mereka disana adalah ketika menyambut bulan puasa, mereka menghias rumah-rumah masing-masing sehingga terlihat indah dan meriah.

“Hidangan Allah” setiap jelang buka puasa di Mesir. (foto: ist)

Selain itu, ada suatu tradisi masyarakat Mesir, yaitu membagikan makanan dan minuman saat jelang buka puasa. “Misalnya kita sedang jalan ke suatu tempat, lalu ada warga Mesir memanggil untuk memberi makanan atau minuman untuk disantap saat berbuka puasa,” ujar Nisah.

Dia menyebutkan, di sana ada Maidatur Rahman (Hidangan dari Tuhan-red). Nah,  sejumlah warga Mesir menyediakan meja di bawah suatu tenda.  Di meja itulah tersedia deretan aneka makanan serta minuman untuk buka puasa.

Maidatur Rahman ini tidak hanya di satu atau dua tempat saja, tapi hampir ditemukan dimana-mana. Siapa pun boleh duduk di kursi yang telah disediakan, baik dari kalangan wafidin (pendatang) atau masyarakat Mesir.

BERITA TERKAIT  FPI Madina Himbau Umat Muslim Salat Gaib untuk Almarhum Ustad Arifin Ilham

Tidak pandang usia. Tua dan muda menyatu di bawah tenda. Mereka sama-sama menikmati menu yang tersedia.

Tahun ini, Universitas Al Azhar—tempat Nisah kuliah– juga menyediakan hidangan khusus bagi para mahasiswa. Di masjid inilah kebanyakan mahasiswa asal Indonesia buka puasa. Selain menunya enak, juga pas bagi lidah orang Indonesia.

Selanjutnya adalah musa’adah (bagi-bagi) uang. “Saya sempat diajak untuk ikut ngambil musa’adah ini dan sesampainya di tempat kegiatannya, masya Allah banyak sekali orang yang ingin ngambil musa’adah tersebut,” sebut Nisah.

Mungkin, kata dia, jika ditotal jumlah orang yang mengambil musa’adah lebih seribu orang. Suatu waktu ia dan beberapa kawan sedang menunggu tramco (angkutan umum), tiba-tiba ada seorang bapak memberhentikan mobilnya. Lalu, si bapak memberikan mereka uang, jumlahnya lumayan banyak.

Itulah sekilas susana Ramadan dan Idul Fitri 1443 Hijriyah di Mesir. “Alhamdulillah ala kulli. Itulah beberapa gambaran tentang Ramadan di Mesir,” kata Nisah, anak dari Ummi Rangkuti (55), penjual sayur dan abu gosok di Pasar Baru Panyabungan.

Syekh Yusuf Nasution alias Tuan Nalomok, pimpinan Majelis Ta’lim Baitul Bukhori di Kelurahan Longat, Kecamatan Panyabungan Barat, Madina, mengaku bangga terhadap prestasi anak bungsu dari lima bersaudara yang ditinggal ayahnya sejak belum SD.

“Rezeki yang didapat Nisah untuk bisa berangkat ke Mesir tak lain kekuatan Al-Qur’an. Alhamdulillah, ini sangat luar biasa. Semoga diberikan-Nya keberkahan,” katanya.(*)

Editor: Akhir Matondang

 

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here