BERBAGI
foto: ilustrasi (ist)

RIADOH Lubis melalui akun Tiktok-nya, Kamis (8/12026), mengingatkan masyarakat melalui postingan supaya lebih waspada terhadap para pencuri yang makin merajalela di daerah ini. Itu disebutkan setelah bawang miliknya hilang digondol maling.

Dia juga menulis banyak warga Kelurahan Panyabungan III, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut kehilangan ayam akibat aksi para pencuri. “Sanga aha pe na adong asal jadi epeng angkut abis ibaen panangko nai (Apa pun yang ada, asal jadi uang habis diangkat pencuri-red),” tulisnya.

Akun Facebook Bisri Samsuri Nasution pada, Senin (12/1/2026), memposting foto-foto sebuah rumah  kosong di Desa Gunung Manaon, Panyabungan yang pada sebagian atap seng, kabel listrik, dan pintu hilang dibawa kabur pencuri.

“Pintunya diambil. Habis semua, hancur semua. Kejahatan luar biasa ini. Kasihan yang punya rumah, kejam. Semuanya digarap. Semuanya…” ujarnya agak emosional melalui salah satu video postingannya.

Belum lama ini, ruko (rumah toko) yang sedang dibangun milik Bullah di Jalan Williem Iskander, Panyabungan II, Panyabungan kehilangan granit yang hendak dipasang di bangunan tersebut. Berkat informasi warga, penadah material untuk lantai itu diketahui sehingga bisa didapat lagi.

Masih di Panyabungan II, tepatnya di Jalan Pemuda, Pasar Jonjong. Dalam kurun beberapa bulan terakhir bangunan milik Masniari yang sedang dibangun sudah empat kali kehilangan barang-barang milik pekerja, alat bangunan dan alat kerja tukang.

Sama dengan di tempat Bullah, meskipun ada beberapa pekerja yang menginap di tempat itu, para pelaku yang diperkirakan seumuran ABG (anak baru gede) dan pemuda tanggung tak sungkan melancarkan aksinya. Bahkan saat tukang sedang kerja, mereka berupaya memaksa masuk.

Pada siang hari geng maling ini memperhatikan kondisi sekitar bangunan. Malam hari, baru beraksi. Barang-barang yang berhasil diambil dari tempat tersebut antara lain: handphone, speaker bluetooth, sejumlah pakaian pekerja, alat-alat tukang (mesin bor/gerinda, geragaji, martil, palu, angkong Artco, dll), dan satu ember paku bekas.

Pemilik roko yang sedang dibangun ini sudah melaporkan ulah anak-anak biadab itu kepada kepala lingkungan (kepling) dan lurah setempat.

Masih bertetangga dengan bangunan ruko Masniari, Jumat (9/1/2026) malam, toko kelontong milik Zul (35) juga digasak maling. Barang yang diambil adalah aneka merek rokok, kerugian ditaksir Rp4 jutaan.

BERITA TERKAIT  Ortu Laporkan Guru ke Polres Madina, Elemen Masyarakat Lakukan Pembelaan

Sesuali STPDL (Surat Tanda Penerimaan Laporan Pengaduan) Nomor: STPDL/B/06/I/2026/SKPT/Polsek Panyabungan tanggal 11 Januari 2026, disebutkan pelaku masuk toko melawai jendela belakang setelah merusak teralis dari besi, lalu menuju rak penyimpanan rokok.

Dari jenis dan harga rokok yang dicuri, diduga pelakunya adalah itu-itu juga. Mereka adalah geng anak-anak tanggung yang sedang belajar jadi garong. Hanya sekadar memenuhi kebutuhan rokok, bisa juga untuk beli narkoba.

Rokok yang diambil yakni merek: Surya, Djisamsoe, Magnum,  dan Djarum Super. Rokok murah dan barang lain tak diambil.

“Saya baru pulang belanja rokok sekitar pukul 22.30. Saya masukkan belanjaan ke toko, lalu ke rumah sebentar. Sekitar pukul 24.00 saya ke toko lagi,  semua rokok mahal sudah enggak ada lagi di tempatnya,” kata Zul Senin (12/1/2026).

Terbaru, lagi-lagi di Pasar Jonjong. Selasa (13/1/2026) subuh, konter hp di sini dijarah pencuri. Satu unit handphone berikut charger-nya raib dibawa kabur pelaku. Kebetulan konter ini tak jual handphone, sehingga hanya satu unit itu didapat pelaku.

Rentetan sebagian kecil dari kasus pencurian itu menjadi gambaran Panyabungan dan sekitarnya sudah tidak aman. Tak lagi nyaman. Bisa jadi hal serupa juga dialami masyarakat kecamatan lain di kabupaten ini. Dihantui rasa was-was lantaran khawatir menjadi korban aksi pencuri.

Apakah ini menjadi bukti bahwa polisi, khususnya jajaran Polres Madina, telah gagal menjadi pengayom masyarakat. Gagal menjaga situasi Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Masing-masing di antara kita yang menilai.

Pastinya, lambat, bahkan sangat lambat dalam menangani kasus sehingga masyarakat hilang kepercayaan terhadap jajaran Polres Madina.

Itulah sebabnya, sebagian warga enggan melapor ke polisi jika ada sesuatu kejadian. Bukan hasil seperti diharapkan didapat, malah uang pelapor habis. Kata orang, tanpa uang jangan harap polisi kerja.

Banyak warga mengeluh laporannya ke polisi tak digubris. Kasus pembakaran Polsek Muara Batang Gadis (MBG) dan beberapa kali pemblokiran jalan di Sihepeng, Kecamatan Siabu, Madina menjadi indikasi masyarakat tak sepenuhnya lagi percaya terhadap polisi di daerah ini.

BERITA TERKAIT  Benarkah Jelang Munas ke-2 Pasmada, ART Organisasi Ini “Lenyap”

Bahkan banyak kasus tak mampu diungkap sehingga para pelaku dengan bebas berkeliaran di tengah masyarakat.

Ini menjadi gambaran lemahnya penegakan hukum oleh jajaran Polres Madina. Sekadar mempertanyakan, sudah sejauh mana pengungkapan tindak pencurian yang terjadi di rumah Hafsah (58), warga Jalan Utama, Kelurahan Sopolu-polu, Panyabungan sesuai STPL No: STPL/B/74/VI/2025/SPKT/Polsek Panyabungan/Polres Madina/Polda Sumut tanggal 4 Juni 2025.

Bolak-balik keluarga korban mempertanyakan kasus yang menyebabkan kerugian Rp700-an juta ini terhadap petugas Polsek Panyabungan, jawaban yang selalu mereka dapatkan hanya: sabar.

Aksi pencurian yang kerap dilakukan kaum ABG serta remaja di Panyabungan dan sekitarnya diduga terkait dengan kebutuhan mereka membeli rokok, ngelem dan narkoba. Bukan untuk kebutuhan keluarga, anak atau istri.

Karena itu, sudah waktunya polisi lebih serius menangani kasus-kasus pencurian yang makin meresahkan. Jangan lagi ada “lapan enam” yang sudah menjadi rahasia umum diduga kerap dilakoni polisi dalam menangani setiap kasus yang ditangani.

Kalau ada yang mengapresiasi AKBP Arie Sofandi Paloh sebagai kepala Polres Madina, itu hak mereka. Berbeda pendapat sah-sah saja. Menurut saya dia gagal menjalankan tugas selama bertugas di daerah, terutama dalam memberantas narkoba dan PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin).

Tentu masyarakat menaroh asa terhadap AKBP Bagus Priandy sebagai penerus Arie Sofandi Paloh sebagai kepala Polres Madina mampu menjawab keraguan masyarakat terhadap  kinerja jajarannya dalam memberantas narkoba.

Termasuk menangkap para pelaku curat (pencurian dengan pemberatan) yang kian meresahkan. Harus ada efek jera, apalagi mereka diyakini masih berusia muda.

Jika dibiarkan, tak menutup kemungkinan tindakan mereka makin brutal. Tadinya hanya maling kecil-kecilan, seiring perkembangan usia serta kebutuhan narkoba, berubah menjadi pelaku curas (pencurian dengan kekerasan).

Sebab itu, melalui tulisan ini, saya berharap pak kapolres dapat memerintahkan jajarannya menangkap geng pencuri yang meresahkan warga Panyabungan, khususunya Pasar Jonjong.

Jangan ada lagi lapan enam. Penjarakan, siapa tahu mereka masih bisa lepas dari geng generasi panangko (maling)…

Akhiruddin Matondang (Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Beritahuta.com)

 

BERBAGI