BERBAGI
Wakil Rektor dan Guru Besar IIB Darmajaya Prof. Ir. H. Zulkarnain Lubis, M.S.,Ph.D. saat menyampaikan orasi pada acara wisuda universitas itu pada Kamis (8/11).

Oleh” Prof. Ir. H. Zulkarnain Lubis, M.S.,Ph.D.

(Guru Besar dan Wakil Rektor IIB Darmajaya Bidang Kerja Sama dan Pengembangan)

MELALUI orasi ini, pesan yang ingin disampaikan adalah sebuah perguruan tinggi (PT) diharapkan memiliki insan kampus, yaitu pimpinan, tenaga pengajar, dan mahasiswa  yang memiliki jiwa sebagai seorang ilmiawan, tapi harus berpikir sebagai seorang pebisnis atau usahawan. Dan, setiap aktivitasnya dilandasi keimanan.

Dengan modal keimanan, mental usahawan dan pola pikir ilmiawan, di dalam diri seorang insan kampus akan tertanam jiwa ilmuwan yang senantiasa memegang teguh kebenaran. Bertindak berdasarkan kebenaran, berbuat untuk kebenaran, berani menyampaikan kebenaran, dan bekerja juga dalam rangka mencari, mengungkap, serta menyebarkan kebenaran.

Insan kampus baik pimpinan, tenaga pengajar, maupun mahasiswa diharapkan jadi manusia yang bersifat jujur, berkata-kata dengan lemah lembut, tetapi teguh memegang prinsip yang diyakini kebenarannya.

Dengan pola pikir ilmiawan, PT harus mampu melakukan inovasi dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui apa yang disebut sebagai tri dharma PT, yaitu:  pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, suasana dan atmosfir akademik di kampus harus tumbuh dan berkembang secara baik. Sehingga kampus harus diwarnai kegiatan akademis, termasuk penelitian. Kegiatan ilmiah seperti seminar, konferensi, bedah buku, dan lainnya yang memberi ruang  muncul pemikiran, pendapat, dan teori-teori baru yang berguna bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan proses pembelajaran yang mencerahkan, menjadi sumber informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan, baik bagi dosen maupun mahasiswa.

Sebagai bahagian dari masyarakat ilmiah, tentu baik dosen maupun mahasiswa dituntut melakukan kegiatan pengkajian secara ilmiah agar diperoleh kebenaran yang teruji sesuai metode ilmiah  dengan kerangka berpikir sistematik berdasarkan data, fakta dan kemampuan untuk menganalisanya sehingga didapatkan kebenaran yang teruji.

Dengan memiliki jiwa usahawan, segala sesuatu produk yang dihasilkan melalui kegiatan akademik mestinya bisa dijual untuk mendapatkan penghasilan bagi PT tersebut.

Makna lain dari insan kampus yang memiliki mental usahawan adalah selalu berusaha memilih jalan efisien. Hemat, dengan berupaya menekan pembiayaan tidak perlu. Tidak melakukan kegiatan tidak punya nilai tambah, serta mampu menunjukkan produktivitas secara optimal, baik secara akademik, ekonomis, maupun sosial. Semua itu berada dalam bingkai keimanan yang ditunjukkan dengan ketaatan terhadap ajaran dan normal agama.

Mental usahawan juga bermakna kemandirian. Sehingga setiap insan kampus, mulai dari pimpinan, tenaga pengajar sampai mahasiswa, secara individu harus tumbuh jadi pribadi mandiri, serta secara kelembagaan diharapkan tumbuh jadi PT mandiri yang tidak terlalu mengandalkan pemerintah dalam mengelola PT.

Hal ini dapat diwujudkan jika sebuah PT mampu mentransformasi PT dari sekedar “educational university” menjadi “entrepreneurial university”, yaitu PT yang memberdayakan segala potensi dan sumber daya yang dimilikinya untuk meningkatkan penghasilan, termasuk sarana gedung, laboratorium, tenaga pengajar, tenaga penelitian, sekaligus hasil temuan mereka.

Dari pengalaman berbagai PT di berbagai negara, ada lima kunci utama untuk mencapai kemandirian sebuah PT, yaitu (1) kepemimpinan dan kendali administrasi yang kuat dan efisien (strengthened administrative core), (2) kesamaan dan kesepakatan dari seluruh komponen terhadap pentingnya perubahan (the institutional idea) serta penciptaan budaya entrepreneurial yang terintegrasi.

Selanjutnya, (3) jalinan kerjasama dengan berbagai instansi melalui pusat-pusat kajian, fakultas, dan jurusan (a growing developmental periphery), (4) perubahan sistem dan struktur perencanaan anggaran dan pengeluaran (new budgetary system) termasuk melalui perluasan basis pendanaan, dan (5) stimulasi secara terus menerus terhadap aktivitas akademik (an ongoing stimulation heartland).

Dengan memiliki mental usahawan, seorang dosen tidak cukup hanya menjalankan tugas sebagai tenaga pengajar, tidak cukup hanya mengajar, membimbing, mengoreksi soal ujian, mempersiapkan bahan kuliah, dan melakukan evaluasi terhadap hasil belajar.

BERITA TERKAIT  Menuju 2019, Catatan Pergantian Tahun Persatuan Wartawan Indonesia

Bahkan seorang dosen tidak cukup sekedar menulis buku, melakukan penelitian, tampil pada sebuah seminar, dan mempublikasikan hasil kajian pada jurnal ilmiah.  Seorang dosen dinilai berprestasi jika selain melaksanakan tugas melakukan pembelajaran, dia juga harus meniliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan,

Namun yang lebih penting adalah “mengkomersialkan” atau menjual inovasi dan hasil kajian sehingga mendatangkan keuntungan bagi pribadi, universitas, mahasiswa, dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat.

Melalui pola pikir ilmuwan dan jiwa usahawan tersebut, bagi sebuah PT mestinya tidak lagi hanya concern pada R&D tetapi harus menjadi R&D+C atau research dan development ditambahkan commercialization. Yaitu mengkomersialkan output dari R&D tersebut.

Melalui basis keimanan, apapun dihasilkan tidak membuat insan kampus sombong dan lupa diri. Setiap insan kampus harus menghadirkan Allah swt, Tuhan Yangmaha Esa dalam setiap, upaya menghasilkan karya dan kreativitas tersebut.

Setiap insan kampus harus menyadari ilmu dan kemampuan dimiliki tiada arti dibanding ilmu Sang Maha Penguasa, sehingga akan senantiasa membuatnya rendah hati, tawadhu’, dan selalu bersyukur atas setiap prestasi dan keberhasilan yang didapat

Dengan  begitu, membuat setiap insan kampus menjadi tahu diri dan tahu posisi tentang siapa dirinya, dari mana dia berasal, dan apa tujuan hidupnya.

Dengan demikian, insan kampus akan memiliki kepedulian, empati, dan menebar kasih sayang kepada sesama makhluk pengisi bumi.  Setiap insan kampus yang menghadirkan Allah dalam setiap aktivitasnya juga akan menghindarkan diri dari kesewenang-wenangan, kesombongan, dan sikap merendahkan orang lain.

Terkait kemandirian kampus sebagi wujud mental usahawan dan pola pikir ilmiawan, ketergantungan PT dari uang kuliah mahasiswa juga mestinya semakin dikurangi. Diganti dengan kerjasama “business” dan penjualan hasil karya universitas.

PT mesti memiliki semacam “holding company” yang bekerja secara professional mengelola bisnis di bawah dan memberi pemasukan bagi PT tersebut.

Upaya mewujudkan PT mandiri dengan semangat, jiwa usahawan dan pola pikir ilmuwan akan bisa berjalan jika didukung staf yang kuantitas maupun kualitas memang bisa digerakkan. Sistem berjalan baik, budaya kerja yang menunjang untuk berkarya, aturan tegas, fasilitas mendukung, “controlling” dan pengawasan efektif, serta pemimpin yang semangat dan kepemimpinan konsisten menjalankan visi serta menularkan visi itu sampai ke jajaran paling bawah.

Selain berusaha mewujudkan kampus mandiri yang mampu menggabungkan mental usahawan, pola pikir ilmiawan, dan dengan basis keimanan, hal paling penting adalah kampus harus mampu melahirkan lulusan unggulan yang merupakan “blended” ketiganya, yaitu lulusan memiliki mental usahawan, memiliki akal dan pemikiran seorang ilmuwan. Tentu saja n dilatarbelakangi iman.

Khusus mengenai keusahawanan, sebetulnya di Indonesia sudah sejak lama menjadi topik pembicaraan dan telah banyak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kurikulum perguruan tinggi. Bahkan sudah ada beberapa PT menjadikannya sebagai icon dalam menunjukkan identitas PT-nya.

Namun hal tersebut lebih banyak hanya tataran teori. Saat ini program tersebut belum mampu menaikkan minat mahasiswa secara signifikan berwirausaha.

Karena itu, dalam implementasinya diperlukan pendekatan, kurikulum, dan metode pembelajaran yang lebih tepat sehingga insan unggulan memiliki ciri seorang usahawan, ilmiawan, sekaligus insan beriman dapat dilahirkan.

Untuk melahirkan lulusan yang akan menjadi seorang usahawan, sejak di bangku kuliah, mahasiswa dibiasakan dengan dunia kerja dan usaha. Di samping itu, jiwa dan semangat berwirausaha juga harus ditanamkan kepada mahasiswa yang terintegrasi dengan mata kuliah yang ada.

Melalui perkuliahan yang terintegrasi, kepada mahasiswa harus ditanamkan antara lain kunci sukses dalam berwirausaha, yaitu  (i) Ilmu; ilmiah, alamiah dan amaliah, (ii) Informasi; bernilai guna, akurat dan tepat waktu, (iii) Intuisi; mempertajam bisikan bawah sadar, (iv) Inisiatif; lebih baik mencoba dan gagal daripada gagal mencoba, (v) In Shaa-Allah.

BERITA TERKAIT  Tong Sampah Fiber, Proyek "Abal-Abal" ala Dinas Perkim Madina

Dengan penguasaan ilmu diartikan seorang usahawan dapat diartikan sekaligus sebagai ilmiawan yang senantiasa menggunakan metode ilmiah dan tentu mengimpelentasikannya secara alamiah yang sekaligus mengamalkannya.

Dengan kata lain ilmu yang dimiliki harus dapat diamalkan, karena ilmu tanpa amal adalah mubazir. Sementara amal tanpa ilmu adalah pekerjaan tak berguna.  Jadi dengan berwirausaha dapat diartikan bahwa  lulusan PT adalah orang berilmu sekaligus mengamalkan ilmunya.

Seorang lulusan yang akan terjun menjadi usahawan adalah lulusan yang memiliki akses terhadap informasi. Karena informasi sangat mahal harganya dan merupakan faktor utama dalam pengembangan usaha, terutama informasi yang relevan dengan usahanya, akurat, dan tepat waktu.

Seorang lulusan yang akan menjadi wirausahawan harus memiliki intuisi tajam yang terasah dengan pengalaman. Sebab itu, awal-awal perkuliahan, mahasiswa dibiasakan dengan dunia usaha dan dunia kerja.

Inisiatif juga tentu harus dimiliki dan ini akan terbentuk jika lulusan memiliki percaya diri, percaya kemampuannya, percaya ilmu pengetahuannya, dan percaya dengan bekal dimilikinya saat di kampus.

Terakhir adalah religiuitas yang mesti ada dalam diri lulusan PT. Apapun yang dilakukan, apapun bekal yang dimiliki, bagaimanapun program dan rencana yang dirancang, namun semuanya hanya terwujud jika Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa berkenan.

Sebagaimana dijelaskan di awal, selain mental usahawan dan pola pikir ilmiawan yang diharapkan terbentuk dalam diri seorang lulusan, modal keimanan juga harus dimiliki. Sehingga berusaha, berdoa, dan bertawaqqal harus sama-sama dilakoni.

Dalam rangka melahirkan lulusan bermodal iman, berakal ilmiawan, dan bermental usahawan, kurikulum yang ada di sebuah perguruan tinggi juga harus merupakan gabungan ketiganya.

Mahasiswa harus belajar ilmu untuk kehidupan dan belajar ilmu untuk penghidupan, baik ilmu “aqliah” maupun ilmu “naqliah”. Ilmu “naqliah” adalah  bekal ilmu pengetahuan yang diturunkan Sang Maha Pencipta kepada manusia sebagai wahyu agar sepanjang hidupnya selalu berada pada jalan yang benar, yaitu agar dia dapat mengerjakan perbuatan yang wajib dilaksanakan sebagai hamba Allah, serta dapat terhindar dari perbuatan-perbuatan sesat yang dilarang-Nya.

Sedangkan ilmu “aqliah” adalah ilmu yang diajarkan Allah lewat akal manusia sebagai bekal agar dapat mengelola bumi dengan sebaik-baiknya selaku pewaris, baik ilmu-ilmu dasar seperti matematika, ilmu alamiah, dan ilmu sosial yang akan membantu menuntun kita dalam menjalani kehidupan maupun ilmu-ilmu terapan yang mampu menghasilkan teknologi yang akan mensejahterakan umat manusia. Namun tetap memperhatikan keharmonisan hubungan antar manusia dengan Sang Pencipta, antarmanusia, dan antaramanusia  dengan makhluk lain.

Jika ilmu “naqliyah” untuk menjadikan lulusan beriman yang senantiasa menata dan menjaga hubungannya dengan Rabnya. Ilmu “aqliyah” untuk menjadikan lulusan berjiwa imiawan, maka ilmu berwirausaha diharapkan membantu lulusan mampu mengamalkan ilmunya secara tepat untuk keberlangsungan hidup sekaligus untuk kemaslahatan umat dan keharmonisan antar penghuni dunia.

Dengan berbagai cara di atas, diharapkan suatu PT tidak lagi semata mengharapkan sumber pendapatan dari mahasiswa dan subsidi pemerintah, tetapi mendapat sumber-sumber baru, sehingga ini pun sekaligus diharapkan meningkatkan kesejahteraan tenaga pengajar dan pengelola PT tersebut.

Satu hal lagi yang lebih penting dengan semakin bertambahnya pengalaman dosen dalam riset, kajian-kajian, dan bisnis, maka dosen tersebut akan bertambah penguasaan ilmunya, sehingga lebih banyak dan lebih variatif yang diajarkannya kepada mahasiswa. Sehingga mahasiswa pun diharapkan lebih kaya ilmunya.  Dengan bekal ilmu “naqliyah” dan implementasi keagamaan yang diberikan,  membuat mahasiswa lebih tinggi keimanan dan keagamaannya.

Akhirnya lulusan unggulanlah yang dilahirkan, yaitu bermodal iman, berakal ilmiawan, dan bermental usahawan. Insya Allah!

(Disampaikan pada orasi wisuda lulusan IIB Darmajaya, Bandarlampung pada Kamis, 8 November 2018. Judul aslinya: Melahirkan Insan Unggulan, Bermodal Keimanan, Bermental Usahawan, Berakal Ilmiawan)

 

 

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here