SHARE
Tanaman kopi siap panen (ilustrasi)

Bagian Pertama

SALAH satu kopi dengan cita rasa tinggi yang dikenal di Indonesia adalah Mandailing coffee. Tetap menyebut Mandailing, Sumatera Utara, tidak bisa tidak juga harus merujuk ke Pakantan, yang pernah dijuluki sebagai negeri Gunung Mas.

Sebuah kejayaan yang pernah dialami daerah itu antara tahun 1835-1942, yang terjadi bersamaan dengan penjajahan Belanda atas Mandhailing waktu itu. Julukan “gunung mas” berakhir seiring masuknya Jepang pada tahun 1942.

Kejayaan Pakantan yang mewakili Mandailing sehingga mendapat julukan sebagai negeri gunung mas tak lain karena hasil kopi arabikanya yang melimpah. Kebun kopi yang ditanam di dua tempat, yakni di Pakantan Lombang dan Pakantan Dolok memberikan kemakmuran bagi masyarakat karena harganya sangat tinggi.

Tak heran kalau waktu itu masyarakat Pakantan dapat dengan mudah mengirim anaknya sekolah sampai ke Jawa. Banyak di antaranya kini menjadi orang-orang sukses di Jakarta. Beberapa orang terkenal di Jakarta asal Pakantan adalah Adnan Buyung Nasution dan Diana Nasution.

Pakantan terdiri dari dua bekas kerajaan kecil, yakni Kerajaan Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Kini, setelah berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bekas negeri gunung mas itu terpecah menjadi tujuh desa, yakni Desa Huta Lancat, Huta Gambir, Huta Julu, Pakantan Bukit, Huta Toras, Huta Padang dan Desa Huta Bargot.  Secara administratif, ketujuh desa tersebut berada dalam wilayah Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Menurut salah seorang sesepuh masyarakat Pakantan Dolok, Sutan Baringin Lubis (70), harga kopi arabika sampai tahun 1942 mencapai Rp 60-80 per 62,5 kilogram. Dalam satu bulan, tambah Sutan Baringin, dapat dihasilkan 25 kilogram kopi kering.

Dari hasil kopi itu juga banyak masyarakat yang pergi menunaikan ibadah haji. Pada waktu itu, ongkos naik haji hanya Rp 600.

Tetapi setelah Jepang menguasai daerah ini harga kopi jatuh sampai 75 persen. Menurut Baringin Lubis, jatuhnya harga karena Jepang melarang ekspor kopi ke luar negeri. Hal ini membuat masyarakat kemudian enggan mengusahakan kebun kopi itu secara intensif. Kopi Pakantan tak lagi menjanjikan kemakmuran seperti semula.

Saat itu  kebun kopi itu masih dikelola beberapa pewarisnya, namun hasilnya tetap tidak memadai. Produksi per hektare per tahun hanya 350 kilogram kopi kering dengan harga Rp 5.000 per kilogram.

Menurut Sahli Lubis (35), salah seorang pewaris, hasil kopi mereka saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja. Tak heran, kalau kopi asal Pakantan tidak lagi dapat ditemukan di pasaran. Padahal, kata Sahli, kualitas rasa kopi daerahnya itu sudah terkenal sampai ke Eropa.

Sisa-sisa kebun kopi arabika yang telah berumur ratusan tahun itu masih dapat dilihat di sekitar Gunung Aek Luane, di wilayah bekas Kerajaan Pakantan Dolok. Lokasi ini merupakan kawasan penyangga hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Hingga kini kebun kopi tua itu masih tersisa sekitar 5 hektare.

Objek Wisata

Bagi para pecandu kopi sejati yang ingin membuktikan nikmatnya cita rasa kopi Pakantan datang saja ke kampungnya Adnan Buyung Nasution itu. Kopi yang dapat menggetarkan lidah tersebut masih dapat dinikmati di beberapa warung. Bahkan kalau mau masih bisa membawa bubuknya sebagai oleh-oleh.

Bayangkan, bagaimana nikmatnya minum kopi di desa tradisional yang berhawa sejuk dan segar itu. Ditambah masyarakatnya yang ramah dan santun terhadap tamu dari luar membuat kita ingin datang berkali-kali. Para pengunjung juga bisa melihat bekas istana Kerajaan Pakantan Dolok dan sopo godang tempat masyarakat melakukan pertemuan.

Tidak saja bisa merasakan nikmatnya kopi Pakantan, kita pun masih bisa membuktikan kebun kopi tua yang berada di Gunung Aek Luane sana. Hanya 7 kilometer saja jaraknya dari Desa Huta Gambir ke lokasi kebun kopi tersebut.

Melewati jalan setapak, jarak 7 kilometer itu dapat ditempuh dalam 3 jam berjalan kaki. Kondisi jalur yang landai menambah tantangan bagi para petualang, "Itu waktu yang sangat lama," kata Sahli Lubis yang biasa menempuhnya hanya dalam waktu 1,5 jam. (ditulis: syafnijal datuk sinaro, anggota dewan redaksi beritahuta.com/dbs)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here