SHARE
TUNTUT MINTA MAAF--Puluhan mahasiswa yang menamakan diri AKM3 melakukan unjuk rasa di Tugu Nol, Kota Medan, pada Jumat (3/5). Mereka menuntut Dahlan Hasan meminta maaf terhadap masyarakat atas keluarnya "surat cinta kepada sang presiden".

BERITAHUta.com—Polemik “surat cinta” H. Dahlan Hasan terus bergulir. Puluhan mahasiswa asal Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara menggelar aksi damai di Tugu Nol, Kota Medan, pada Jumat (3/5).

Para mahasiswa yang berdomisi di Kota Medan itu menuntut bupati Madina meminta maaf secara terbuka terhadap masyarakat di kabupaten ini sehubungan keluarnya surat nomor: 019.6/1214/TUPIM/2019 tanggal 18 April 2019. Surat tersebut dinilai telah mencederai demokrasi.

Aksi mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Kesatuan Mahasiswa Mandailing Melawan (AKM3) dimulai pukul 14.00. Selain menyampaikan orasi secara bergantian, mereka juga membentangkan sejumlah spanduk dan kertas karton dengan aneka tulisan.

BERITA TERKAIT  Keletihan Tugas di PPK Hitaimbaru, Iptu Partahian Dalimunthe Meninggal Dunia

Misalnya bertuliskan, “Menuntut Bupati Madina Meminta Maaf Kepada Masyarakat Mandailing Natal”, “Bangun Persatuan Gerakan Mahasiswa Madina Dalam Pengawalan Pemerintah Madina”, dan “Mengecam Keras Tindakan Surat Pengunduran Diri yang Dilakukan oleh Bupati Madina.”

Menurut Danil, koordinator aksi, AKM3 mengecam keras tindakan Dahlan Hasan yang melanggar prinsip-prinsip demokrasi dalam gelaran pilpres lalu. “Kami sangat tidak sepakat Madina masih dipimpin orang-orang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Karena itu, AKM3 meminta bupati Madina meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat, menuntut bupati memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat, dan menuntut bupati berikut jajarannya netral dalam setiap pesta demokrasi.

BERITA TERKAIT  Darmin Nasution: Menaikkan Harga Karet Harus Pelan-Pelan, Tidak Bisa Radikal

“Sebagai agen of change dan agen of control social, alangkah kejinya jika kami tinggal diam dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan bupati Madina,” ujar Danil.

Ia menyebutkan, seorang pemimpin harus berpihak sepenuhnya terhadap rakyat, bukan kepada salah satu pasangan capres-cawapres. Saat ini sistem demokrasi sedang rusak, termasuk di Madina. “Demokrasi di Madina sangat menyedihkan,” kata Danil. (*)

Peliput: Tim

Editor: Akhir Matondang

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here