PANYABUNGAN, BERITAHUta.com—Parah, dua tahun lebih utang seragam pelantikan kepala Desa Bangun Saroha, Kecamatan Ranto Baek, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut Samhar Lubis belum juga dibayar. Jika ditagih, selalu ada alasan.
Perbuatan Samhar terjadap Toko Narisya, Panyabungan ini bukan hanya memalukan sebagai aparat pemerintahan, tetapi menjadi indikasi sikap dan tindakan kesewenang-wenangannya terhadap masyarakat. Apalagi upaya penagihan sudah melibatkan Camat Ranto Baek Sopian, S.Ag. dan staf kecamatan.
“Kami sudah berusaha menagih melalui telpon dan WhatsApp, tetapi tidak pernah ditanggapi,” kata Masniari, pemilik Narisya pada, Kamis (22/1/2026) pagi.
Pada pelantikan 256 kepala desa (kades) di Madina pada, 27 Oktober 2023 lalu, salah seorang yang ikut dilantik adalah Samhar. Jelang pelantikan itulah, dia memesan seragam dan atribut untuk kegiatan terseut. Total utangnya: Rp5.545.000,-.
Sekadar diketahui, hanya Samhar kades terpilih di Ranto Baek yang memesan serama pelantikan secara komplit di Narisya. Selebihnya, melengkapi saja, misalnya, hanya batik PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), pin Korpri, topi PDU (pakaian dinas upacara) kades, dan lainnya.
Sama dengan sejumlah rekannya sesama kades terpilih dari Ranto Baek, sesuai janji utang dibayar usai pelantikan lantaran keuangan mereka saat itu menipis usai “tarung” pada pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak. “Dari beberapa kades di Ranto Baek yang order di kami, tinggal Samhar yang belum lunas. Dia belum pernah mencicil sama sekali,” ujar Masniari.
Jika dihitung tenggang waktu setelah pelantikan, Samhar menunggak utang selama dua tahun tiga bulan atau 805 hari. “Kecil memang bagi Samhar karena dia mengelola uang ratusan juta, bahkan bisa jadi miliaran rupiah setiap tahun, tetapi bagi kami sebagai pedagang jumlah itu sangat bernilai,” tambah pemilik Narisya.
Adapun barang yang diterima Samhar dari Narisya terdiri: jas dan celana putih PDU, tanda pangkat kades di pundak, tanda jabatan kades atau ‘jengkol’ di dada, sepatu PDU, papan nama kades, baju putih Alisan tangan panjang.
Selanjutnya, dasi hitam, pin Korpri magnet, kaos kaki, jaz blazer dan rok ketua PKK untuk istri Samhar, pin PKK, papan nama ketua PKK, batik PKK pakai puring, serta jilbab PKK.
“Pihak Narisya dulu yang menagih, sudah sering saya tanya tidak ada komentar,” kata Ilhamnur Pulungan, staf kantor Kecamatan Ranto Baek.
Camat Ranto Baek Sopian mengaku sudah berkali-kali menghubungi Samhar supaya menyelesaikan kewajibannya di Narisya. “Nomor handphone-nya sering ganti, makanya saya payah ketemu,” katanya, Kamis (22/1/2026).
Menurut camat, dia juga sudah suruh staf ke rumah Samhar, tetapi nyatanya sampai sekarang belum dibayar. (*)
Editor: Akhir Matondang
