BERBAGI
DAGING RUSA--Sayuti (dua dari kiri) bersama istrinya melayani pembeli daging rusa yang mereka jual di pinggir jalinsum Desa Simaninggir, Siabu, Madina pada Kamis siang (29/7-2021). Harga dagingnya Rp100 ribu/ kg dan tulang sop Rp60 ribu/kg. (foto: akhir matondang)

BERITAHUta.com—Dulu, bagi pendahulu kita makan daging rusa atau kijang adalah hal biasa. Sekarang tidak lagi, bahkan bisa jadi, ada di antara generasi masa kini yang belum pernah sama sekali merasakan tonggi serta enaknya daging kedua hewan tersebut.

Apalagi rusa atau kijang (muntiacus muntjak) masuk dalam kategori hewan dilindungi sehingga rusa dan kijang yang dijual pun didapat karena alasan-alasan tertentu.

Namun berdasarkan informasi yang didapat media ini, di kampung-kampung, masih kerap ada warga yang menjual daging rusa dan kijang. Kata mereka, dibanding sapi atau kambing, daging rusa serta kijang jauh lebih tonggi (empuk-red), enak dan manis.

Seperti yang ditemui Beritahuta pada, Kamis siang (29/7-2021), di tepi jalan lintas Sumatera (Jalinsum) Desa Simaninggir, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina), Sumut.

Adalah M. Sayuti (47) dan Masrul Efendi Nasution (30). Kedua warga Simaninggir  ini mengaku sudah lama menjual daging dan tulang sop rusa dan kijang di pinggir jalinsum desa tersebut.

 

Masrul menunjukkan kepala rusa yang mereka jual dagingnya.

Tentu saja, frekuensinya tidak menentu. Tergantung hewan yang mereka dapat dari masyarakat. “Sebelum yang ini, terakhir kami jual daging rusa sekitar tiga bulan lalu. Jadi tidak menentu,” kata Sayuti sembari menunjuk meja tumpukan dagang dan tulang sop rusa.

Di atas meja, juga dipajang kepala rusa dengan tanduk bercabang-cabang mencapai setinggi sekitar setengah meter. “Kepalanya harus dipajang agar masyarakat percaya yang kami jual daging rusa atau kijang,” sebut Sayuti.

BERITA TERKAIT  Bersaksi di PN Medan, Bupati Madina Akui Penggagas Pembangunan TSS dan TRB

Sayuti dan Masrul menjual daging sapi atau rusa seharga Rp100 ribu kg, sementara tulang sop Rp60 ribu/kg. Biasanya, dalam setengah hari dagangan mereka sudah habis.

Berat badan rusa—tidak termasuk dalamannya—sekitar 35-50 kg. Sedangkan berat badan satu ekor kijang hanya sekitar 18 kg—juga tak termasuk jeroan. Dagingnya 12-an kg.

Ciri rusa jantan antara lain bertanduk, sementara betina tidak. Sedangkan kijang jantan, tanduk timbul seperti rusa meskipun tidak tinggi, sedangkan tanduk betina, berbulu.

Menurut Sayuti, rusa dan kijang didapat dari warga Muara Batang Angkola, Madina. Biasanya, hewan ini didapat dengan cara jerat di dalam kebun mereka di Tor Sihayo.

Untuk membawa rusa atau kijang dari Muara Batang Angkola ke Simaninggir tergolong jauh. Setelah dapat informasi dari warga di sana ada hewan tertangkap, Sayuti dan Masrul pun berangkat menuju lokasi mereka biasa bersua.

Mereka naik sepeda motor menuju Desa Huta Godang Muda—dulu Tano Tiris, Kecamatan Siabu, Madina.

Dari  Huta Godang Muda, Sayuti dan Masrul menuju Muara Batang Angkola. Selanjutnya, dari Muara Batang Angkola jalan kaki sekitar lima jam menuju Tor Sihayo. “Itu bagi yang sudah biasa. Jika belum terbiasa, tentu lebih lama lagi waktu tempuhnya,” ujar Masrul.

Sayuti mengatakan, untuk rusa yang mereka jual kali ini, dia dapat informasi pada, Kamis dini hari, sekitar pukul 01.00. Habis subuh dia dan Masrul berangkat dari Simaninggir. Sekitar pukul 11.00, mereka baru bisa mulai jual.

BERITA TERKAIT  Mohon Doa Kita Semua agar Api Cepat Padam, Saat Ini Pasar Lama Panyabungan Sedang Terbakar

Khusus kepala rusa dan kijang, biasanya sudah pesanan orang-orang tertentu. “Setelah daging dan tulang sop habis terjual, baru kami kasih terhadap mereka kepalanya,” kata Sayuti.

Selain itu, kata dia, kulit kijang cukup banyak dicari masyarakat karena diyakini bisa menjadi obat. Untuk ukuran 10 X 10 cm, harganya bisa mencapai Rp50 ribu. “Kami selalu ada stoko kalau kulit kijang.”

Entah betul atau tidak, sejumlah warga menyebutkan daging rusa dan kijang bebas kolestrol dan tidak berisiko bagi penderita hipertensi. “Memang tidak ada kolestrol dan enggak masalah bagi penderita darah tinggi. Lihatlah, lemaknya nyaris tidak ada,” jelas Sayuti.

Bagaimana dengan hewan lain, kancil? Menurut Masrul, sesekali mereka juga dapat kancil, bahkan di belakang rumahnya di Simaninggir ada dua ekor kancil kerap tampak melintas.

Ukuran badan kancil, menyerupai kucing. Mereka yang pernah menyicip daging kancil menyebutkan enaknya sama dengan daging rusa dan kijang. Hanya saja, dalam satu ekor kancil, dagingnya cuma sekitar satu setengah kilogram.

Nah siapa tahu ingin kontak Masrul atau Sayuti, ini telp mereka: 0823-7855-5170 dan 0812-6196-3475. (*)

Peliput: Henri/Tim

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here