BERBAGI
JALINSUM SESAK----Lautan manusia memutih di jalinsum Desa Purba Baru, Kecamatan Lembah Sorik Marapi (LSM), Madina saat iring-iringan jenazah Syekh H. Umar Bakri Lubis hendak dibawa dari Masjid Pondok Pesantren Musthafawiyah menuju lokasi pemakaman yang juga berada di desa tersebut. Tak ayal, kondisi ini mengakibatkan arus lalu lintas tehalang sekitar 45 menit.

BERITAHUta.com— “Banjir” air mata mengiringi prosesi pelepasan jenazah guru besar Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Syekh H. Umar Bakri Lubis dari rumah duka,  di Desa Hutaraja, Kecamatan Lembah Sorik Marapi (LSM), Mandaling Natal (Madina), Sumut, Jumat (27/3-2020).

Sejak Jumat pagi rumah duka ramai oleh masyarakat yang berdatangan dari berbagai kecamatan di kabupaten ini. Rumah duka dan sepanjang jalan Desa Hutaraja pun sesak oleh pelayat.

Para pelayat seolah tak kuasa menahan tangis atas kepergian ayah Umar, demikian almarhum biasa disapa.

Para santri dan alumni seakan tak kuasa melepas kepergian ayah Umar Bakri Lubis. Mereka terus menangis dan berada di sisi keranda saat proses pelepasan di rumah duka.

Suasana duka serta “banjir” air mata makin terasa saat jenazah diangkat dari dalam rumah menuju keranda yang sudah disiapkan di halaman rumah. Hampir semua masyarakat, santri dan keluarga besar Musthafawiyah tak sanggup menahan derai air mata.

Isak tangis menggema. Mereka seolah berat melepas kepergian ulama kharismatik tersebut. Beberapa santri yang selama ini dikenal dekat dengan almarhum karena sedang menuntut ilmu, terus memeluk keranda sembari menangis.

Usai prosesi pelepasan, jenazah disembahyangkan usai salat jumat di masjid Desa Hutaraja. Ramainya masyarakat dan keluarga Musthafawiyah yang ikut melepas ulama tauhid itu membuat jalan raya desa itu macet dan sesak oleh kendaraan bermotor dan pelayat.

Inilah suasana pelayat di depan rumah duka Desa Hutaraja, LSM, Madina saat prosesi pelepasan sebelum disalatkan di masjid desa setempat.

Sekitar pukul 13.45 ambulans yang membawa jenazah berangkat dari masjid Hutaraja menuju Musthafawiyah Purba Baru. Dibelakang mobil ambulans tampak iring-iringan sepeda motor dan mobil pribadi sepanjang sekitar satu kilometer. Pengendara motor umumnya para santri dan alumni Musthafawiyah.

BERITA TERKAIT  Tokk...Majelis Hakim MK Perintahkan Pemilihan Suara Ulang di 3 TPS

Sebelum dimakamkan di tempat pemakaman keluarga di Desa Purba Baru, jenazah ayah Umar kembali disalatkan di masjid Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru.

Hal ini lantaran para santri dan alumni dianjurkan menunggu di masjid Musthafawiyah untuk mengurangi kepadatan di rumah duka Desa Hutaraja.

Selain itu, kondisi masjid Hutaraja juga diperkirakan tidak memungkinkan menampung masyarakat, santri dan keluarga besar pondok yang hendak ikut mensalatkan jenazah ulama yang selalu bicara pelan dan tidak pernah marah tersebut.

Para guru-guru Musthafawiyah Purba Baru yang sudah sepuh turut berjalan dari masjid menuju lokasi pemakaman.

Selama proses mensalatkan di masjid Musthafawiyah, jalinsum Desa Purba Baru macet total disebabkan ramainya masyarakat dan keluarga besar Musthafawiyah yang ikut mensalatkan jenazah dan mengantar kepemakaman. Jumlahnya diperkirakan mencapai belasan ribu. Sekitar 45 menit jalinsum tersebut ditutup, dan lumpuh total.

Sekitar pukul 14.00 jenazah selesai disalatkan dan langsung ditandu menuju lokasi perkuburan. Iring-iringan masyarakat, santri dan keluarga besar Musthafawiyah yang ikut mengantar ke tempat pemakaman terlihat memutih di jalinsum.

Jarak masjid Musthafawiyah menuju lokasi kuburan sekitar 500 meter. Saking panjangnya rombongan yang hendak ikut prosesi pemamakan, iring-iringan terakhir belum sampai ke lokasi perkuburan, proses pemakaman sudah selesai.

BERITA TERKAIT  Pemilik Akun Rizky Hardiansyah Belum Tertangkap, Alumni Musthafawiyah Nyatakan Prihatin

Ketika menyampaikan sambutan atas nama keluarga, Ustad Asrin mengatakan, sebelum mengembuskan nafas terakhir kondisi kesehatan ayah Umar yang sejak beberapa tahun terakhir tidak baik kian memburuk. Lalu, pihak keluarga memutuskan membawanya ke RSUD Panyabungan.

“Pada Kamis sore, sekitar pukul 16.30, Allah Swt memanggil ulama yang sangat kita cintai ini dalam usia 73 tahun. Bukan hanya kita yang kehilangan almarhum, tapi masyarakat Tabagsel, masyarakat Sumut, Jakarta dan semua keluarga besar Musthafawiyah ikut merasa kehilangan,” kata Ustad Asrin.

Sembari berderai air mata, Ustad Asrin menyebutkan ayah Umar sangat dicintai masyarakat. Almarhum juga sosok yang sangat berperan dalam memajukan Pesantren Musthafawiyah Purba Baru.

Mela ma lampu. Mintop ma lampu sada nai,mudah-mudahan copat ma ro lampu na torang panggontina anso adong lampu na manorangi hita di Madina on,” sebut ustad Asrin disambut gema isak tangis para pelayat.

Atas nama Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru,  ayah Nurhanuddin mengatakan keluarga besar Musthafawiyah sangat kehilangan atas meninggalnya Syekh Umar Bakri.

“Kami kehilangan sosok kharismatik. Figur yang selama ini berperan banyak dalam memajukan Musthafawiyah. Semoga Allah Swt memberikan tempat terbaik bagi almarhum,” katanya. (*)

Peliput: Tim

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here