SHARE
LANTAI DEPAN "HARAM" BAGI YANG BERPERKARA--Hai Pak Yunadi, jika pada saat jam kerja bolehlah aturan ini diterapkan. Tapi jika dalam keadaan darurat, dan sudah habis jam kerja apakah lantai pintu depan kantor bapak tetap "haram" diinjak warga yang sedang berperkara.

BERITAHUta.com—Cacian dan umpatan terhadap Yunadi, ketua Pengadilan Agama (PA) Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut masih terus bermunculan. Pengguna media sosial pun tampaknya makin kesal terhadap  pejabat itu setelah melihat gambaran sederhana sket kantor tersebut.

Orkot roangku mananda alak naon boto (penasaran ingin kenal orang ini),” komentar Askolani, budayawan Mandailing setelah membaca berita berjudul “Dunia Medsos Mengecam Keangkuhan Ketua Pengadilan Agama Panyabungan.

Yunadi

Sakban Azhari juga mengaku penasaran melihat wajah Yunadi. “Au pe por roha ku manandai na. Sonjia keangkuahan nia i (Saya juga ingin kenal. Bagaimana angkuhnya dia),” tulis wartawan yang juga aktivis tersebut.

Zulkifli Lubis, lewat akun  facebook-nya, menulis ala satire. “Ampot halak turunan darah biru muse dontong amantai (Jangan-jangan orang darah biru juga bapak itu).”

Menurutnya, mungkin Yunadi sudah biasa hidup dengan membeda-bedakan orang. Padahal sumber gaji yang dimakan dia berasal dari pajak rakyat. “Mestinya kantor pamerintah melayani rakyat secara hormat dan santun tanpa melihat person semua rakyat. Sebab rakyatlah yang menggaji mereka.”

“Dajjal dei (Dajjal itu),” tulis Aliamsyah L. Batubara di grup facebook Mandailing Nusantara sebagai bentuk kecaman terhadap Yunadi karena membuat peraturan tidak membolehkan pihak berperkara melewati ruang piket pintu depan kantor PA Panyabungan meskipun dalam keadaan kondisi alam yang tak bersahabat (Baca: Wahai Ketua Pengadilan Agama Panyabungan, Begitu Angkuhnya Anda…)

Ampot guru Islam Nusantara muse do (Jangan-jangan guru Islam Nusantara),” tulis Syarifuddin Hasibuan lewat akun facebook-nya.

BERITA TERKAIT  Ayah dan Ibunya Kerja, Bocah 1,5 Tahun Ditemukan Tewas di Kolam Ikan Lele

Komentar yang tak kalah pedas datang dari Ucok Lomang yang ditulis lewat akun facebook-nya pada rabu (23/10) sekitar pukul 08.00,”Usir sian tano mandailing gappangi (Usir dari tanah Mandailing…”

Sementara itu, Ketua Pengadilan Agama Panyabungan Yunadi ternyata tak bernyali. Terkesan pengecut dan tak bertanggung jawab atas bobroknya administrasi, pelayanan, dan praktik pungli di instansi yang dimpimpinnya.

Buktinya, permintaan konfirmasi yang dilayangkan media ini melalui surat resmi Nomor 01.010/BHT.com/X/2019 tanggal 17 Oktober 2019 tentang Permohonan Wawancara kepadanya selaku ketua PA Panyabungan hanya dilimpahkan kepada sekretarisnya: Nazaruddin. Ketika wartawan tiba di kantornya, batang hidungnya tak kelihatan sama sekali.

Padahal materi yang hendak dikonformasi menyangkut rendah serta amburadulnya kepemimpinan lelaki yang sudah menjabat sekitar satu tahun tersebut.

Awalnya Beritahuta.com mendapat watshapp dari seseorang, yang belakangan diketahui dari Nazaruddin, pada Senin (21/10), pukul 17.20 yang intinya pihak PA Panyabungan memberikan waktu kepada media ini untuk wawancara mengenai sejumlah persoalan di pengadilan itu, Selasa (22/10), pukul 14.00.

Sesuai waktu yang ditentukan, wartawan sudah tiba di kantor itu tepat waktu. Suasana kantor sangat sepi, seperti tak ada tanda-tanda “kehidupan” . Di meja staf panitera melalui pintu belakang hanya ada seorang staf, seorang lagi tiduran di kursi antrean warga yang hendak sidang. Mendengar ada suara tamu, sang staf itu buru-buru berdiri.

Di ruang penerima tamu lewat pintu depan pun—ruang “haram” diinjak pihak berperkara—juga sepi melompong. Hanya ada tampak seorang staf sedang duduk di salah satu kursi. Sementara di halaman parkir, terdapat dua unit mobil sedang parkir.

BERITA TERKAIT  Lagi, Polresta Padangsidimpuan Ringkus 2 Tersangka Pemilik Sabu dan Ganja

Ketika media ini memasuki ruang sekretaris, sesuai tempat yang disebutkan dalam watshapp Nazaruddin, hanya ada seorang sekretaris yang sudah menunggu. Tidak tampak batang hidung Yunadi. Berselang beberapa menit kemudian,menyusul dua pegawai lain dari bagian umum dan bagian Bakum (pendaftaran).

Menurut Nazaruddin, Yunadi tidak bisa menerima Beritahuta,com. Karena sedang ada kesibukan. “Materi yang bisa saya jawab dan itu merupakan kewenangan saya tentu akan saya jelaskan,” kata Nazaruddin.

Setelah disebutkan materi yang akan ditanya, akhirnya Nazaruddin minta waktu dua hari untuk menjawab poin-poin yang hendak dikonfirmasi, terutama  mengenai buruknya kinerja staf, majelis hakim, dan kepaniteraan kantor itu.

INILAH gambaran sket kantor Pengadilan Agama Panyabungan. A (ruang tamu pintu belakang), B (ruang sidang), C (ruang mediasi), D (ruang sidang), E (meja staf panitera untuk menerima tamu pihak berperkara), F (deratan kursi ruang tunggu bagi yang hendak sidang, tapi sore itu dipakai beberapa staf tempat main tenis meja), G (teras belakang), H (tempat duduk Lian saat diterima Rivi Hamdani), I (meja panjang untuk petugas penerima tamu), J (teras depan), K (kantin), L (musola dan ruang ibu menyusui), dan M (pos jaga yang selalu tak pernah ada penjaga).

Meskipun begitu, setelah jawaban dari Nazaruddin nanti diterima media ini, dan ternyata materi pertanyaan belum terjawab secara detail, media ini tetap minta konfirmasi langsung dari Yunadi. Tidak bisa di ruangannya, wartawan akan menunggu di halaman parkir atau mencari di tempat lain.

“Kami tahu mana yang layak kami tanya. Kami tidak akan konfirmasi mengenai materi persidangan, tapi jika ada kejanggalan dalam proses persidangan dan berbagai persoalan tentang pelayanan di instansi yang dipimpin, tentu hak pers juga mempertanyakan hal itu,” kata Akhiruddin Matondang, pemimpin Redaksi Beritahuta.com. (*)

Peliput: Tim

Editor:Akhir Matondang

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here