SHARE
UTAMAKAN MATERI--Inilah salah satu foto kegiatan "Pekan Budaya Mandailing Natal 2019" yang hanya dikemas seperti serimonial saja. Dalam kegiatan ini, pihak penyelenggaran terkesan mengedepankan "proyek" untuk mendapatkan materi dari APBD Madina. (foto fb: askolani)

BERITAHUta.com—Kegiatan “Pekan Budaya Mandailing Natal Tahun 2019” mendapat sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat. Kegiatan itu ditengarai dijadikan “proyek” untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Adalah kepala Bidang Kebudayan Dinas Pendidikan Mandailing Natal (Madina), Sumut Zulkhairi Pulungan yang punya kegiatan ini. Ia mengemas judul kegiatan dengan menyebut “pekan”, padahal pelaksanaannya hanya satu hari.

Menurutnya, banyak kegiatan tingkat nasional dengan judul “pekan”, tetapi pada kenyataannya hanya dilaksanakan satu hari. “Pekan budaya nasional juga dilaksanakan satu hari, “ katanya menjawab Beritahuta.com melalui jaringan whatsaap.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), jelas disebutkan “pekan” mempunyai dua arti, yaitu: Pertama, pasar. Kedua, minggu (tujuh hari).

“Pekan, tujuh hari. Bulanan, 30 hari. Triwulan, 90 hari. Semesteran, 80 hari dan tahunan 365 hari. Itu sudah jelas, jangan dibantah lagi,” kata Mohd. Aswan Hasibuan, mantan kepala Bappeda Madina yang dikenal juga mengerti adat dan budaya Mandailing dan Angkola.

Budayawan Mandailing Askolani merasa kaget karena kegiatan tersebut hanya dilaksanakan satu hari, padahal judulnya jelas disebutkan “pekan”.

Menurutnya, konsep “Pekan Budaya Mandailing Natal 2019” yang diusulkannya ketika masih menjabat kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan Madina, sekurang-kurangnya dilaksanakan tiga hari.

Tujuannya, selain memperdalam wawasan dan apresiasi terhadap budaya daerah, juga dalam rangka  membuka ruang kreativitas seni.

BERITA TERKAIT  Askolani: Semakin Terpinggirkan, Bahasa Mandailing Diambang Kepunahan

Adapun bentuk kegiatannya, antara lain: pertunjukan musik tradisi seperti gordang sambilan, onang-onang, sitogol, ungut-ungut, dan bentuk-bentuk musik tradisi lain dari empat wilayah adat.

Selain itu, pertunjukan musik kolaborasi tradisi dengan modern; pementasan drama/teater, monolog, dan drama musikal; baca puisi atau musikalisasi puisi berbahasa daerah; pertunjukan tari tradisi dan tari kreasi yang berakar budaya empat wilayah adat.

“Semua kegiatannya melibatkan para pelaku seni budaya yang ada di daerah, para seniman, dan sekolah-sekolah,” kata Askolani.

Dengan kegiatan itu, kata dia, sekurang-kurangnya para pelaku seni-budaya diberi ruang dan mereka memperoleh insentif dari karya mereka. “Saya tahu, para seniman-budayawan di daerah ini tidak pernah digubris sebagaimana layaknya. Mengapa jadinya hanya sebatas seremonial sehari,” ujarnya.

Penggiat seni dan budaya, Manaon Lubis juga tak habis pikir ulah pihak panitia yang membuat judul “Pekan Budaya Mandailing 2019”, namun hanya dikerjakan satu hari. “Apakah anggarannya sama dengan usulan pejabat lama. Ini harus jelas,” katanya melalui akun facebook-nya.

Khairuddin Faslah, pekerja pers dan owner Radio Star FM juga menyesalkan kegiatan tersebut sekadar serimonial belaka. “Seringkali kita mengutamakan seremoni dari pada subtansial. Kegiatan yang dilakukan hanya sebatas spj,” komentarnya melalui akun facebook-nya.

BERITA TERKAIT  Jelaskan Soal “Pekan”, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Madina Diduga Berbohong

Akun Madina Bbnews berharap Askolani memahami kondisi ril yang terjadi saat ini di Dinas Pendidikan Madina. Dalam melaksanakan kegiatan, sudah sama-sama maklum mereka lebih banyak tidak berorientasi capain target.

Mantan anggota DPRD Madina Binsar Nasution mengatakan, jika kondisinya seperti dikatakan Madina Bbnews benar, mestinya para tokoh adat yang hadir menolak kegiatan itu. Seharusnya minta dilaksanakan tahun depan saja dengan melibatkan tokoh atau lembaga adat dalam merencanakan kegiatannya.

Menurut Madina Bbnews, kegiatan “Pekan Budaya Mandailing Natal 2019” sepenuhnya gawe Dinas Pendidikan Madina tanpa melibatkan FPPAB (Forum Pengembangan dan Pelestarian Adat Budaya) Madina dalam rapat apapun.

Informasinya, kata dia, panitia mengundang 150 orang termasuk dari FPPAB sebanyak 20 orang, tapi yang hadir hanya 86 orang. “Kami hanya diminta bantuan secara lisan,” tulisanya.

Manaon Lubis menyayangkan saat ini kita masih berada ditengah-tengah birokrasi yang tidak memiliki dan mencintai adat budaya Mandailing.

“Yang konsen terhadap adat budaya kita hanya pak bupati, sementara yang dibawahnya, ampun, hanya berorientasi kepada proyek dan materi. Menarik untuk kita telusuri hal ini,’ ujarnya. (*)

Peliput: Tim

Editor: Akhir Matondang

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here