BERBAGI
RADIOLOGI--Hasil pemeriksaan radiologi RSUD Panyabungan pada Parwis, korban keracunan H2S di lokasi proyek panas bumi PT SMGP, yang terjadi pada Minggu (16/5-2021). (foto: istimewa)

BERITAHUta.com—PT SMGP (Sorik Marapi Geothermal Power) seolah hendak “cuci tangan” terhadap biaya pengobatan dua korban keracunan gas yang terjadi Minggu (16/5-2021). Padahal berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, keduanya dinyatakan keracunan H2S  (Hydrogen Sulfida).

Kedua korban itu yaitu: Saharuddin (40), karyawan PT SMGP; dan Parwis (39), pemilik warung di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi (PSM), Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut.

Informasi yang didapat Beritahuta, hingga, Rabu (19/5-2021), tak seorang pun dari pihak perusahaan datang ke rumah sakit melihat kondisi kedua korban.

Ketidakhadiran pihak PT SMGP melihat kondisi korban menjadi pertanda perusahaan yang mengerjakan proyek panas bumi tersebut tidak punya itikad baik membayar biaya pengobatan selama di rumah sakit.

“Ini juga menjadi sinyal mereka (PT SMGP) enggan memberikan santunan kepada kedua korban,” kata seorang keluarga korban.

Padahal berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi RSUD Panyabungan yang dilakukan dr. Zulhajji Hamonangan, Sp. Rad., disebutkan Saharuddin dan Parwis  mengalami intoksikasi zat H2S.

BERITA TERKAIT  Sambut Ramadan, Grup Bulutangkis GOR PB. Garuda “Marmangan-mangan” Gulai Itik

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) intoksikasi artinya: pemabukan atau keracunan (dalam tubuh).

Hasil pemeriksaan radiologi Saharuddin

Hasil pemeriksaan radiologi tersebut sekaligus menjawab keraguan dr. Rusli Pulungan, direktur RSUD Panyabungan. Sebelumnya ia mengatakan pihaknya belum memberikan kesimpulan apakah kedua korban terpapar H2S.

Ia juga menyebutkan, gejala dialami kedua pasien berbeda dengan pasien korban keracunan H2S pada peristiwa, Senin (25/1-2021).

Rusli Pulungan mengatakan semua korban kejadian pada, 25 Januari 2021, mengalami sesak napas. Sementara Parwis dan Saharuddin tidak mengalami sesak napas. Gejalanya hanya pusing, mual, dan muntah. Lebih banyak di sekitar lambung, bukan paru-paru.

Namun dengan keluarnya hasil radiologi RSUD Panyabungan, pernyataan Humas PT SMGP Syahrini Nuryanti yang menyebutkan perusahaan itu tidak ada melakukan kegiatan buka sumut di wellpad T pada, Minggu (16/5-2021), menjadi aneh.

“PT SMGP tidak ada kegiatan pembukaan sumur. Tidak ada pembuktian ada paparan H2S dalam kejadian itu. Semua detektor H2S menunjukkan angka nol. Mengenai bau belerang menyerupai aroma telur busuk merupakan hal wajar di daerah memiliki potensi panas bumi atau sumber air panas,” kata kepada wartawan.

BERITA TERKAIT  Ja’far Sukhairi Ingatkan ASN Supaya Tetap Fokus pada Pelayanan Masyarakat

“Nyatanya hasil radiologi kedua korban keracunan H2S,” ujar keluarga korban.

Seperti diberitakan Beritahuta, Minggu (16/5-2021), Saharuddin dan Parwis dilarikan ke RSUD Panyabungan disebabkan keracunan H2S.

Musibah kali ini terjadi pas istirahat siang, sekitar pukul 13.20. Saat itu, di lopo (warung-red) yang berada sekitar 100 meter dari wellpad-T sedang ramai karyawan sedang istirahat.

Tiba-tiba dari arah wellpad-T tampak muncul asap mengepul menyerupai embun mengarah ke lopo. Para karyawan pun berhamburan kocar-kacir menyelamatkan diri.

Parwis dan Saharuddin tidak ikut berlari menyelamatkan diri. Keduanya justru sibuk membereskan barang-barang di lopo. Hanya berselang beberapa menit setelah keduanya terhirup gas menyerupai embun, mereka pun terkulai lemas.(*)

Peliput: Tim

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here