BERBAGI
Abdul Muas Nasution

TUGAS baru terbentang dihadapan Abdul Muas Nasution. Usai menghadiri  Program Festival Pemuda Desa Chafter yang berlangsung di Lombok pada penghujung Agustus 2022 lalu, kini pemuda asal Desa Pastap Julu, Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal (Madina), Sumut ini diharapkan mampu mendorong kreativitas pemuda desa di provinsi ini.

Medali yang didapat muas saat Program Festival Pemuda Desa Chafter di Lombok

Muas merupakan pemuda yang dibina langsung Ali Musa “Manto” Lubis, kepala Desa Pastap Julu. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkraf)  RI menetapkan wisata alam Pastap Julu sebagai salah satu nominsasi ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) 2021.

Prestasi Pastap Julu itulah yang membuat Muas terpilih mewakili Sumut pada event Program Festival Pemuda Desa Chafter yang berlangsung di Kuta Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebanyak 20 pemuda—termasuk Muas– dari 20 provinsi di Indonesia berkumpul di sana. Mereka mendapat pendidikan dan pelatihan secara khusus dalam mendorong kreativitas pemuda, antara lain bidang: pengembangan wisata alam dan UMKM (usaha mikro kecil menengah).

Kegiatan itu di Lombok dilaksanakan tiga kementerian, terdiri: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;  Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; serta Kementerian Kehutanan.

BERITA TERKAIT  Rombongan “Mulak tu Huta” dari Malaysia Serbu Narisya Batik Mandailing

Pelaksanaan Program Festival Pemuda Desa Chafter tahun 2022 merupakan kali kedua dilaksanakan.Tahun lalu, pemuda yang mewakili Sumut adalah dari Kabupaten Toba Samosir.

Menurut Muas, setidaknya ada lima agenda utama yang hendak ia lakukan terhadap pemuda desa di Sumut, terdiri: pelestarian alam dan adat istiadat (kearifan lokal); budaya sapta pesona; pengelolaan potensi desa; soft skill (kemampuan dan kompetensi); dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai ketua regional Sumut dalam mendorong eksistensi pemuda desa, ia diharapkan mampu memotivasi pemuda mengembangkan ekonomi kreatif melalui program-program yang sesuai potensi daerah.

Sebagai agent inovator desa, Muas harus mampu memberi pemahaman kepada pemuda desa lainnya tentang pentingnya pengembangan desa, dan seberapa besar peran desa dalam menopang stabilitas ekonomi.

“Tanpa melupakan tugas di kabupaten/kota yang ada di Sumut, saya berharap bisa lebih eksis mendorong kreativitas Naposo dan Nauli Bulung (NNB) di daerah kita,” kata Muas ketika bincang-bincang dengan Beritahuta di Lopo Mandailing, Masjid Nur Alan Nur, Panyabungan, Madina pada, Kamis petang (22/9-2022).

Menurutnya,  desa merupakan tempat tersulit untuk melakukan sebuah perubahan, dan pemuda harus mengambil peran di dalamnya.

BERITA TERKAIT  Rombongan “Mulak tu Huta” dari Malaysia “Borong” Cenderamata di Gallery Narisya

Namun program pengembangan kreataivitas pemuda ini tidak bakal bisa jalan baik, tanpa dukungan semua pihak, terutama Pemkab Madina. “Mudah-mudahan saat bertemu Pak Bupati beliau sudah menyatakan mendukung Muas karena program resmi pemerintah,” kata pemuda yang dilahirkan di Pastap Julu, 26 Februari 1995 ini.

“Dalam waktu ada rencana menghadap Pak Gubernur untuk menyampaikan program yang hendak dilaksanakan di Sumut,” kata alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumut 2020.

Program roadshow di kabupaten/kota yang ada di Sumut diharapkan sudah bisa dilaksanakan mulai April 2023, pasca Muas pulang dari kunjungan luar negeri bersama 20 pemuda lainnya dari seluruh Indonesia.

Nantinya, Muas menjadi bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati para pemimpin dunia, termasuk Indonesia.

Program ini bertujuan mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. (*)

akhiruddin matondang

 

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here