BERBAGI
Konidisi terakhir jembatan Aek Pohon, jalinsum lintas timur, Panyabungan, Madina. Sudah dua pekan setelah sisi utara terkena erosi, hingga Rabu (21/11), belum bisa dilalui bis dan truk bermuatan.

BERITAHUta.com—Dua pekan setelah sisi utara jembatan Aek Pohon, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut  terkena erosi, hingga Rabu (21/11), belum bisa dilalui mobil bermuatan. Para pekerja masih “menimbun” batu kali di antara bronjong dan tanah agar tidak erosi lagi.

Akibat pemasangan bronjong belum selesai, Dinas Perhubungan Madina belum membolehkan mobil bermuatan melewati jembatan yang berada di jalinsum (jalan lintas Timur) Panyabungan itu.

Kendaraan bis dan truk bermuatan yang melintas dari arah Bukit Tinggi-Medan, masih diwajibkan melalui jalinsum pusat kota hingga Pasar Baru, Panyabungan. Pas di samping SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Sipolu-polu—depan Pasar Baru, kendaraan belok kanan hingga menuju  jalinsum lintas timur kembali.

Demikian juga sebaliknya. Jika melintas di jalinsum lintas timur dari arah Medan-Bukit Tinggi, bis dan truk bermuatan belok kanan depan RM. Paranginan 2. Setelah di SPBU Sipolu-polu, lalu belok kiri.

BERITA TERKAIT  Mengenang Wajah Lama Kota Panyabungan dan Kekalnya Persaudaraan “Toko Trading”

Kesemrawutan lalu lintas di depan Pasar Baru tak dapat dihindari akibat banyak truk dan bis melintas di jalinsum pusat kota itu. Apalagi pada siang hari, selain aktivitas pasar, juga banyak bentor (beca motor) serta angkot parkir di sisi jalan.

Berdasarkan pantauan Beritahuta.com, selain memasang bronjong, pekerja juga memberi batu kali di lokasi terkena erosi. Tujuannya supaya air yang lolos dari bronjong tidak sampai ke tanah yang berada di pangkal jembatan  arah utara.

Satu unit beko juga masih beroperasi untuk memperbaiki daerah aliran sungai (DAS) Aek Pohon. Saat ini kondisi DAS di timur jembatan sangat amburadul, yang diduga sebagai dampak pengambilan pasir, batu, dan sirtu (pasir batu)  secara liar di sekitar aliran sungai.

Saat ini lebar DAS di timur jembatan ada yang  mencapai 200-an meter. Lahan sawah dan perkebunan warga yang ada di tepi aliran sungai makin berkurang disebabkan terkena erosi pada saat debit Aek Pohon tinggi.

BERITA TERKAIT  Nisah, yang Lulus di Al-Azhar Mesir, Raih Juara Pertama Lulusan Darul Ikhlash 2021

Menurut warga, pemerintah daerah perlu tegas terhadap para penambang liar yang merusak DAS Aek Pohon. Jika tidak, dikhawatirkan kondisi aliran sungai semakin tak menentu.

“Jika aliran Aek Pohon tetap sejalur dengan jembatan, tanah di sisi utara dan selatan jembatan tidak akan terkikis air.  Ini bisa kita lihat, aliran sungai tidak langsung ke bawah jembatan, tetapi terlebih dahulu menghantam sisi utara jembatan,” kata Safar, warga Sipolu-polu, Panyabungan.

Ia berharap pemasangan bronjong hanya bersifat sementara mengingat anyaman kawat bronjong tidak akan bertahan lama akibat berkarat. Sebelumnya di tempat yang sama juga pernah dipasang bronjong, namun sudah rusak.

“Mesti ada upaya lain agar kawat bronjong tidak cepat karatan. Misalnya, dengan memasang beton di sisi timur bronjong sehingga air tidak langsung menghantam bronjong,” tambah Safar. (tim-01)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here