SHARE
Prof. Ir. H. Zulkarnain Lubis, MS., PhD.,

BERITAHUta.com– Prof. Ir. H. Zulkarnain Lubis, MS., PhD., meyakini ada sesutu yang janggal dalam proses perhitungan real count Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jika KPU jujur, dan mereka meng-entry data ril di setiap TPS (tempat pemungutan suara), tentu tidak mungkin proporsi angka terus stabil seperti saat ini.

Kecuali dalam sistem ada algoritma yang disisipkan untuk memaksa agar proporsi tetap seperti itu, berarti harus dilakukan dengan manipulasi data.

“Sejak start 0,1 prosen sampai sekarang dan nanti, jika polanya sama tetap prosentasenya pada perbandingan 55:45, “kata guru besar Universitas Medan Area (UMA) Medan kepada Beritahuta.com menanggapi sorotan masyarakat terhadap hasil real count KPU.

BERITA TERKAIT  Viral, Pemuda Sipolu-polu “Sum-suman” Buat Baliho Prabowo-Sandi

Dengan kata lain, lanjutnya, semua data masuk memiliki pola serupa dan relatif tidak berubah. Sesuatu yang beraturan berarti tidak random. Jika tidak random berarti ada yang menyebabkannya tidak natural. Bisa saja sengaja dibuat demikian.

“Jadi saya cuma berpikir secara statistika mestinya proses masuknya hasil pemilu ke KPU adalah random, sehingga pola perbandingan hasil pasangan calon nomor urut 01 dan 02 adalah random,” kata rektor IV IIB Darmajaya Bandar Lampung yang juga merangkap dekan Fakultas Ekonomi di kampus tersebut.

Anehnya, kata Zulkarnain Lubis, prosentasi yang muncul selalu  memiliki pola dengan perbandingan yang selalu pada posisi 55:45. “Jika tanpa rekayasa hampir tidak mungkin hal ini terjadi. Ini semata-mata berdasarkan pendekatan statistika.”

BERITA TERKAIT  Langgar Aturan, Bawaslu Padangsidimpuan Bersihkan APK di Jalan Protokol

Sebab, lanjutnya, segala sesuatu yang berpola tak mungkin random. Pasti ada penyebabnya dan pasti ada sesuatu yang membuat polanya konsisten, terlepas siapa mendapatkan angka lebih tinggi: apakah 01 atau 02.

Zulkarnain Lubis menyebutkan, dari sudut pandang ilmiah yang ada kebenaran relatif, bukan kebenaran absolut. “Kebenaran absolut hanya milik Sang Pecipta. Sehingga secara etika dan logika, tidak pantas seorang peneliti memonopoli kebenaran dan mengklaim satu-satunya pemilik kebenaran. “Apalagi memaksakan kebenaran yang diyakininya,” sebutnya. (*)

Peliput: Tim

Editor: Akhir Matondang

.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here