BERBAGI
SENANG--Rombongan "Mulak tu Huta" dari Malaysia mengaku senang bisa mendapatkan cenderamata untuk oleh-oleh di Gallery Narisya pada, Kamis petang (15/12-2022). (foto: mr. dab)

PANYABUNGAN, BERITAHUta.com—Rombongan “Mulak tu Huta” dari Malaysia mengunjungi Gallery Narisya Batik Mandailing pada, Kamis petang (15/12-2022). Di sini, mereka mendapatkan aneka produk khas daerah ini sebagai oleh-oleh buat keluarga mereka di Negeri Jiran.

Dari raut wajah para rombongan, tergambar senang dan bangga melihat berbagai produk fashion dan cenderamata bernuansa Mandailing yang dipajang di Gallery Narisya, Jalan Williem Iskander, Pasar Lama, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut.

foto: akhir matondang

Bashariah binti Abdul Rahman,  Saniah binti Musa, Che Norsimah binti Nasir, Moh Radzi bin Tahir, serta Yushamudden bin Yusof adalah nama-nama di antara rombongan “Mulak tu Huta” yang seolah kegirangan bisa memperoleh “buah tangan” khas Mandailing di Narisya.

“Saya beli oleh-oleh untuk keluarga di Malaysia. Senang di sini ada kaos Mandailing, ukurannya komplit dari anak-anak sampai dewasa,” demikian kira-kira ungkapan Che Norsimah pakai bahasa Malaysia.

Selain aneka kaos khas Mandailing, produk Narisya yang menjadi incaran rombongan dari Malaysia antara lain: batik motif Mandailing, kaos marga, kain sarung khas Mandailing dan souvenir.

BERITA TERKAIT  Pemuda Pastap Julu jadi Duta Pengembangan Kreativitas Pemuda Desa di Sumut

“Alhamdulillah, ada kenang-kenangan dari tanah leluhur untuk keluarga di Malaysia. Mereka pasti senang diberi kaos khas Mandailing,”  ujar Yushamudden bin Yusof.

Rombongan “Mulak tu Huta” adalah suatu program mengunjungi tanah leluhur Mandailing bagi etnis Mandailing di Malaysia. Di penghujung tahun 2022, ada 20 orang yang ikut kegiatan ini. Mereka berasal dari berbagai negara bagian di Malaysia.

Tujuan dari “Mulak tu Huta” di antaranya: menjawab kerinduan orang Mandailing Malaysia terhadap tanah leluhur serta melestarikan hubungan emosional etnis Mandailing Malaysia dengan orang-orang yang tinggal di Sumut, khususnya Madina.

Berdasarkan catatan sejarah, etnis Mandailing telah ada di Tanah Semenanjung sejak 1800-an. Mayoritas mereka tak lagi menguasai bahasa Mandailing.

Gelombang migrasi orang-orang Mandailing ke Tanah Semenanjung terjadi sejak 1820-an hingga 1920-an. Tak heran, populasi etnis Mandailing di Malaysia saat ini diperkirakan mencapai 800 ribu jiwa yang tersebar di berbagai negara bagian, khususnya Perak, Negeri Sembilan, Kedah.

BERITA TERKAIT  2 Obyek Wisata di Mandailing Natal Masuk Nominasi API 2022

Rombongan “Mulak tu Huta” berada di Sumut dari 13 sampai 19 Desember 2022. Sebelum benginjak tanah leluhur, mereka terlebih dahulu mendatangi sejumlah tempat rekreasi dan wisata sejarah.

foto: akhir matondang

Selama di Madina rombongan antara lain: mengunjungi Bagas Godang dan Makam Sibaroar serta melihat langsung Bagas Godang Desa Tombang Bustak yang merupakan tanah kelahiran Sutan Naposo (pendiri Kuala Lumpur).

Sebelum meninggalkan Madina pada, Jumat siang (16/12-2022), rombongan terlebih dahulu marmangan-mangan di Desa Sihepeng, Kecamatan Siabu.

Pertunjukan Gordang Sambilan di Sopo Godang Kotasiantar terpaksa dibatalkan lantaran tak jauh dari bangunan Sopo Godang ada warga meninggal, sebagai penggantinya rombongan melakukan alan-jalan di  Kampung Sawahan, Kotanopan.

Rombongan “Mulak tu Huta” dipimpin Ramli Abdul Karim Hasibuan dan Torkis Nasution sebagai  asisten kepala rombongan.

Guide untuk wilayah Madina: Dahlan Batubara, yang juga Pemimpin Redaksi MandailingOnline. Sedangkan guide Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan yakni Iskandar Siregar. (*)

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here