SHARE
IMAMI KE NARISYA--Sekitar 40 orang rombongan IMAMI dari Malaysia yang mengikuti program "Mulak tu Huta" mengunjungi Gallery Narisya Batik Mandailing di Panyabungan, Madina, pada Selasa (26/3). Mereka menyatakan senang dan bangga melihat produk batik bermotif Mandailing. (foto: dahlan batubara)

BERITAHUta.com—Rombongan Ikatan Mandailing Malaysia Indonesia (IMAMI) yang sedang mengikuti program Mulak tu Huta, pada Selasa pagi (26/3), mengunjungi Gallery Narisya Batik Mandailing di Jalan Williem Iskandar  No. 99 Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara.

Sekitar 40 orang yang ikut dalam  rombongan kali ini menyerbu toko penjual cendera mata khas Mandailing tersebut. Tak ayal, kedatangan warga Malaysia yang berasal dari beberapa suku yang ada di Sumut ini mengundang perhatian masyarakat yang lalu-lalang di jalan raya pusat Kota Panyabungan itu.

Kaum lelaki dan perempuan yang ikut dalam kunjungan ke kampung leluhurnya mengaku kaget karena baru tahu Mandailing memiliki produk khas daerah. Mereka pun banyak mengajukan pertanyaan terhadap pihak Narisya mengenai motif-motif yang dikemas dalam kain batik tersebut.

Masniari, selaku pemilik Narisya menyebutkan, sebagai pelopor  batik motif Mandailing, pihaknya menonjolkan produk batik dengan corak dan warna khas daerah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). “Ini motif bulang. Kalau yang ini selain ada bulang, juga ada ampu,” jelasnya.

Bulang adalah mahkota pengantin perempuan saat pesta perkawinan (horja), sedangkan ampu mahkota  bagi pengantin pria. “Untuk mempercantik batiknya, ditambah ornamen-ornamen lain sebagai hiasan sekaligus memberi khas etnik daerah Mandailing,” kata Masniari dihadapan rombongan dari negeri jiran.

Di antara rombongan ada yang meminta nomor ponsel pihak Narisya yang dapat dihubungi dan berminat mempromosikannya di Malaysia. “Cantik-cantik dan terlihat sangat etnik. Saya mau buat seragam keluarga,” kata seorang lelaki yang membeli kain batik sebanyak delapan meter dengan bahasa Indonesia berlogat melayu.

Selain produk batik motif Mandailing, para rombongan juga melihat produk khas lain seperi kaos marga, kaos bergambar dan tulisan khas mandailing, serta produk pernik-pernik lainnya.

“Kami senang berkunjung ke sini, hanya saja waktunya sangat singkat. Jadwalnya padat, maklum ibu-ibu mana bisa belanja tergopoh-gopoh,” kata seorang ibu juga dengan logat melayu yang begitu kental.

Masniari menyampaikan terima kasih atas kunjungan rombongan dari Malaysia tersebut. Ia  berharap dengan mengenal  batik etnik daerah, pemahaman mereka tentang daerah asal leluhurnya dapat bertambah.

Humas IMAMI Dahlan Batubara mengatakan rombongan dari berbagai negeri di Malaysia ini berjumlah 39 orang.  Mereka melakukan kunjungan mulai 23 sampai 29 Maret 2019. Sebelum tiba di Mandailing, rombongan terlebih dulu singgah di Pagaruyung, Bukit Tinggi, Sumbar.

Rombongan juga berkesempatan menyaksikan gordang sambilan di Sopo Godang, Hutasiantar, Panyabungan;  mengunjungi bagas godang, Panyabungan Tonga dan makan Sibaroar;  makan bersama sistem mangoloi di Desa Sihepeng (Siabu);  dan mengunjungi  Candi di Portibi.

Menurut Dahlan, kunjungan  Mulak tu Huta ini merupakan program tahunan  yang diselenggarakan IMAMI pada setiap Maret dan November. Tujuannya, sebagai upaya menyahuti dorongan kerinduan para keturunan Mandailing yang ada di Malaysia agar mereka menginjakkan kaki di tanah leluhur mereka.

Keturunan Mandailing di Malaysia hingga kini sekitar 500 ribu jiwa yang menyebar di berbagai negeri di Malaysia. Kaum Mandailing bermigrasi ke tanah Semenanjung sejak era 1800-an, jauh sebelum lahirnya negara Malaysia dan Indonesia.

Mayoritas dari mereka tak lagi mengetahui letak kampung buyut mereka diakibatkan keterpisahan selama ratusan tahun dari tanah leluhur. Karena itu, menginjakkan kaki di tanah leluhur merupakan kebahagiaan dan keterharuan bagi mereka, sebab kerinduan terhadap tanah leluhur dapat terobati. (*)

Peliput: tim

Editor: Akhir Matondang

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here