SHARE
SASAGUN--Tim BPNB yang diwakili Miftah Nasution sedang mencicipi sasagun bersama Askolani Nasution, Ali Fikri Pulungan, dan sejumlah kaum ibu di Desa Hutabangun, Kecamatan Bukit Malintang, Madina. Sasagun diusulkan sebagai salah satu warisan budaya Mandailing. (foto: dokuentasi askolani nasution)

ADAKAH orang Mandailing di Madina (Mandailing Natal), Sumut yang tak kenal makanan sasagun. Jika pertanyaan ini dilontarkan pada era sekarang, jawabnya: banyak.

Namun jika pertanyaan serupakan diutarakan pada era 1980-an, tentu masyarakat pasti kenal. Kalaupun ada yang tak tahu, prosentasinya sangatlah sedikit.

Sasagun. Menyebutkan namanya begitu mudah, namun upaya melestarikan makanan khas mandailing ini tampaknya begitu sulit. Ia tersingkir oleh  makanan-makanan yang kian variatif, yang terkadang sebenarnya berbahaya bagi kesehatan manusia akibat penggunaan zat-zat kimia.

Ketika sebagian besar bangsa Mandailing mulai lupa sasagun, Rabu lalu (11/3-2020), staf Balai Pewarisan Nilai Budaya (BPNB), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Wilayah Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) sengaja mendatangi Desa Hutabangun, Kecamatan Bukit Malintang, Madina.

Tim BPNB yang diwakili Miftah Nasution berniat mengekspos makanan tradisional Mandailing bernama sasagun. Tujuannya, hendak diusulkan sebagai salah satu warisan budaya Mandailing.

Sebagai narasumber, BPNB memilih budayawan Mandailing, Askolani Nasution dan Ali Fikri Pulungan dari Sanggar “Samisara”.

Pihak BPNB mendokumentasikan bahan-bahan yang diperlukan membuat sasagun. Lalu, mereka merekam proses pembuatannya untuk diajukan dalam persidangan penetapan warisan nilai budaya tradisional di Kemendikbud.

Menurut Askolani Nasution, sasagun memiliki filosofi yang khas, baik dari segi bahan maupun nilai yang melekat di dalamnya.

BERITA TERKAIT  Askolani: Semakin Terpinggirkan, Bahasa Mandailing Diambang Kepunahan

Dari segi bahan, sasagun terbuat dari tepung beras, kelapa parut, gula merah, dan garam.

Suasana saat tim BPNB yang diwakili Miftah Nasution sedang mencicipi sasagun. (foto: dokumentasi askolani nasution)

Tepung beras warna putih memiliki makna hati bersih yang akan merekatkan hubungan kekerabatan dalam keluarga Mandailing.

Kelapa, dengan fungsinya yang banyak, memiliki makna bahwa setiap orang harus memberi kebaikan bagi kerabatnya.

Gula merah yang manis dan merekatkan, bermakna bahwa setiap orang harus merekatkan kesan baik bagi kerabatnya.

Sedangkan garam, sama halnya seperti hal-hal yang sering menjadi halang-rintang dalam sebuah kekerabatan. Boleh terjadi halang-rintang, tapi seperti garam, meskipun sedikit saja, bisa membuat hubungan kekeluargaan lebih “gurih”.

Dari segi budaya, sasagun juga memiliki banyak metafora. Dalam prosesi “mangulangi” misalnya, sasagun dibawa sebagai oleh-oleh dalam mengunjungi keluarga yang jauh kampungnya.

Askolani Nasution mengatakan sasagun memiliki makna sebagai pengganti “indahan silua”. Jarak antara kampung tidak selalu bisa membawa nasi bungkus sebagai “indahan silua”, karena cepat basi dan tidak efektif.

“Kalau jarak tempuhnya jauh, sasagun sebagai penggantinya. Sasagun tahan berminggu-minggu,” katanya.

Dulu, jelas Askolani Nasution, orang selalu saling mengunjungi kerabatnya di tempat lain. Biasanya hal ini dilakukan setelah musim panen selesai, atau antara musim tanam dengan musim panen.

Hal ini bukan sebatas rekreasi keluarga, tapi mempererat hubungan kekeluargaan sambil memperkenalkan sejak dini kepada anak-anak siapa saja keluarga kedua belah pihak. Biasanya tamu yang berkunjung membawa “indahan silua”, atau kalau jaraknya jauh maka sasagun jadi sebagai pilihan.

BERITA TERKAIT  Disaat Terancam Punah, Bakhsan Parinduri Lahirkan Kamus "Mandailing-Indonesia"

Sama seperti bentuk fisik sasagun yang seolah-olah terbentuk dari gumpalan-gumpalan kecil yang bersatu padu membentuk rasa baru, begitu jugalah masing-masing satu keluarga yang berjauhan jarak, tetap membentuk satu rasa kerabat yang utuh.

Karena itulah, sasagun memiliki filsafat yang penting bagi masyarakat Mandailing sejak dahulu.

Sayangnya, fungsi sasagun sebagai oleh-oleh atau “silua” semakin hari semakin punah. Bahkan banyak anak-anak yang tidak mengenal lagi makanan tradisi Mandailing ini.

Dalam kerangka itulah pelestarian nilai budaya Mandailing menjadi penting.  Kita berharap dan memohon doa dari masyarakat, khususnya Mandailing, semoga sasagun ditetapkan sebagai warisan budaya Mandailing menyusul gordang sambilan, toge Panyabungan, dan itak poul-poul.

Pada 2018 lalu, Askolani Nasution juga sudah mengusulkan agar  Kemendikbud menetapkan “sitogol” dan “ungut-ungut” menjadi warisan budaya Mandailing, namun kabarnya masih ada perdebatan dengan pihak Toba saat sidang penetapannya.

“Kita minta doa dan dukungan masyarakat agar sasagun ditetapkan sebagai warisan budaya Mandailing,” sebut Askolani Nasution yang juga kerap menulis cerpen ini. (*)

Akhiruddin Matondang

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here