BERBAGI
ASOM PODE INCOR--H. Fahrizal Efendi menuangkan gule asom pode incor ke piring Hasbir Batubara di RM Incor Salambue, Panyabungan, Madina, Rabu (14/9-2022). foto: akhir matondang

IKAN INCOR. Bagi orang Mandailing incor boleh jadi salah satu primadona di antara ikan air tawar lainnya. Nyaris tak terdengar masyarakat di daerah ini mengaku tidak suka gulaen incor, apalagi bagi mereka yang berumur di atas 50 tahun.

Sementara generasi masa kini, memang ikan incor tidak begitu mereka kenal lantaran tidak ikut jadi saksi ketika jenis ikan ini banyak ditemukan di sungai-sungai kecil di sekitar persawahan, misalnya, Aek Sinagosi dan  Aek Lapan di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut.

Dulu, sebelum tahun 2000, apalagi era 1980-an, hanya bermodal durung (jaring), ikan ini mudah didapat jika hanya sekadar mau makan-makan (marmangan-mangan) di sekitar areal persawahan:  manggule asom pode. Bahkan, tak jarang bisa bawa pulang ke rumah untuk disantap bersama keluarga.

Sekarang incor tinggal ditemukan di sungai-sungai besar, seperti Aek Rantopuran, Aek Pohon dan Aek Batang Gadis. Itu pun jumlahnya tak sebanyak dulu.

Selain sudah kian punah, warga juga tidak bisa setiap saat atau sembarang tempat mengambil ikan di sungai tersebut lantaran sebagian DAS (daerah aliran sungai) di antaranya dikelola warga sebagai “Lubuk Larangan”. Yaitu, di sepanjang DAS tertentu, ikannya hanya  bisa diambil pada waktu-waktu tertentu.

Tak ayal, bagi pengagum ikan incor solusi paling mudah bagi mereka yang sedang berada di Madina, yaitu mendatangi rumah-rumah makan tertentu yang menyiapkan menu asom pode incor, seperti di RM Lopo Incor Salambue di  Kecamatan Panyabungan, Madina. Bisa juga di RM Incor Laru, di Kecamatan Tambangan, Madina.

BERITA TERKAIT  Hj. Eli Mahrani Inginkan Setiap Penderita Kanker Bisa Dilayani Secara Baik

Jika mau memasak sendiri, di pasar-pasar tradisional di Panyabungan terkadang masih ada pada pagi hari, seperti Pasar Lama, Pasar Baru, Pasar Jonjong Kotasiantar, Poken Donok Gunungtua, dan lainnya.

Hanya saja jangan kaget, meskipun panjang ikan ini hanya sekitar 5-8 cm, tetapi harganya bisa mencapai 10 ribu setumpuk berisi sekitar 10 incor. Artinya, sekitar Rp1000 per ekor.

Dengan kata lain, saat ini incor sudah kategori “mewah” jika dibandingkan dengan harga ikan air tawar lainnya.  Hukum ekonomi menyebutkan  jika pasokan barang tidak sebanding dengan jumlah peminat, maka dipastikan harga akan melambung.

H. Fahrizal Efendi Nasution, anggota DPRD Sumut, yakin jika tidak ada upaya menjaga biota incor, dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan bisa jadi ikan ini sulit didapat, bahkan tak menutup kemungkinan bisa punah.

Karena itu, wakil rakyat dari Partai Hanura ini, secara khusus menyampaikan kepada pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut agar ada upaya mereka menjaga keberadaan  incor di sungai-sungai yang ada di Madina.

BERITA TERKAIT  Mungkinkah PT SMGP Kebal Hukum (Bagian:2)

“Bagaiman caranya, tentu mereka lebih paham. Intinya, saya dan mungkin masyarakat Madina lainnya pasti tidak ingin suatu saat incor tinggal kenangan,” kata Fahrizal Efendi, Rabu (14/9-2022).

Dalam kaitan itu, Fahrizal Efendi tak sekadar cuap-cuap. Untuk membuktikan nikmatnya asom pode incor dan bagaimana potensi ekonominya, dia sengaja mengajak Hasbir Batubara, kepala Bidang Budidaya dan Produksi Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut makan di RM. Incor Salambue.

“Ya, saya akui enak dan manis. Tulangnya bisa dilahap habis. Sudah sering dengar nama ikan ini, tetapi baru kali ini saya punya kesempatan mencicipinya,” kata Hasbir, yang meskipun berasal dari Huraba, Kecamatan Siabu, Madina tetapi ia sejak kecil sudah tinggal di Medan.

Hasbir juga bakal coba mempelajari budidaya incor, seperti yang sudah dilakuan tehadap ikan jurung (ikan garing/mera). “In syaa Allah aspirasi yang disampaikan Pak Fahrizal Efendi akan kami tindak lanjuti. Ikan incor juga bagian potensi ekonomi yang harus dikelola, supaya bisa mejadi nilai tambah bagi perekenomian masyarakat,” katannya.

Fahrizal Efendi merasa senang mendengar pernyataan Hasbir Batubara. “Saya kira jika kita mau, tak ada yang tak bisa. Jangan sampai incor tinggal kenangan bagi generasi Mandailing,” ujarnya. (*)

Editor: Akhir Matondang

 

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here