BERBAGI
Dahlan Hasan Nasution dan Akhmad Arjun Nasution. (foto: istimewa)

TAK lama setelah berita berjudul: Panik! Dahlan Hasan Nasution “Serang” Ketua MPC Pemuda Pancasila Madina, yang diterbitkan Beritahuta, Kamis dini hari (16/5-2021),  tiba-tiba android saya berdering. Pesan whatsapp masuk. Isinya: Ada apa, apa ada?

Berselang beberapa menit kemudian, saya buka facebook. Berbagai komentar sindiran dan kritik pun dilontarkan pengguna medsos mengenai berita itu, bahkan ada menyebut: menyerang diri sendiri.

Selaku jurnalis, saya tak habis pikir kenapa pernyataan tendesius dan tak pantas bisa diungkapkan seorang Bupati Mandaling Natal (Madina), Sumut Dahlan Hasan Nasution ke publik.

Mengenai kemunculan berita “tendensius” itu, ini analisa saya. 1) Wartawan yang mendengar ocehan Dahlan Hasan termasuk dekat bupati karena ia tak sungkan-sungkan menyerang pribadi Akhmad Arjun Nasution, ketua MPC Pemuda Pancasila (PP) Madina dihadapannya.

2) Dahlan Hasan belum tentu tahu jika ucapannya bakal diberitakan si wartawan—tapi Allah Swt. berkehendak lain, dan 3) Si wartawan mengira ia hendak menyerang pribadi Arjun Nasution lewat pernyataan bupati, nyatanya berita itu justru menyerang Dahlan Hasan.

Dalam pemberitaan bbnewsmadina.com, Sabtu (15/5-2021), terasa banyak keanehan pernyataan Dahlan Hasan. Itulah sebabnya, seseorang tersebut menyebut: ada apa, apa ada?

Apa saja pernyataan bupati yang aneh. Pertama, bupati menyebut masyarakat jangan menduga-duga mengenai penyebab kebakaran wellpad A di PT SMGP. Serahkan penanganannya kepada pihak berwenang.

Saya ingin tanya bupati, pihak berwenang mana yang dimaksud. Polisi? Apakah masyarakat masih bisa percaya polisi jika perusahaan PT SMGP tersangkut hukum.

Dua kali peristiwa di perusahaan itu  menyebabkan korban meninggal tujuh orang (2 remaja tenggalam di kolam dan 5 terpapar H2S-red), sampai sekarang tidak seorang pun jadi tersangka. Jadi ucapan bupati hanya basa-basi.

Kedua, bupati mengatakan tidak seorang pun menghendaki kebakaran di PT SMGP.

Kalimat ini seolah memberi pembelaan terhadap PT SMGP. Tidak ada sama sekali kalimat bupati menyayangkan kenapa kebakaran terjadi. Tidak mengingatkan perusahaan agar lebih profesional. Justru, seolah sah-sah saja di perusahaan terjadi kebakaran.

Ketiga, Dahlan Hasan mengaku sudah menghubungi Kementerian ESDM di Jakarta, dan diperoleh penjelasan akan segera ada utusan Kementerian ESDM melakukan pemeriksaan.

Kalau saya, sekali lagi: saya—orang lain percaya silahkan–tak percaya dengan ungkapan bupati ia menghubungi Kementerian ESDM terkait kasus kebakaran PT SMGP. Soal yang begini-begini, saya banyak tahu mengenai perilaku Dahlan Hasan.

Keempat, bupati juga berharap agar masyarakat dapat mengkaji secara utuh tentang keberadaan PT. SMGP.

BERITA TERKAIT  Seorang Dokter di Jakarta Bantu Nisah Rp10 juta, dan Siap Kirim “Bulanan” Selama Kuliah di Mesir

Ini jelas pembelaan luar biasa. PT SMGP yang meresahkan masyarakat, malah masyarakat yang seolah disalahkan.

Kelima, menurut bupati di satu sisi Pemkab Madina dan masyarakat butuh listrik. Pada sisi lain masyarakat sekitar juga cukup banyak menggantungkan hidup dengan bekerja di PT SMGP. Jika dijumlahkan masyarakat dapat upah kerja sekitar Rp1,5 miliar per bulan.

Inilah model “lagu” Dahlan Hasan. Pertanyaan, lebih penting mana keselamatan pekerja dan masyarakat daripada gaji yang didapat pekerja. Lalu, apakah ketika masyarakat dan Pemkab madina butuh listrik, lantas keselamatan boleh-boieh saja terabaikan.

Soal gaji masyarakat, kenapa Dahlan Hasan begitu sibuk mengurusi gaji dari PT SMGP, sementara menurut berita yang beredar, gaji pegawai honor Pemkab Madina saja sebagian belum dibayar sebelum Idul Fitri 1442 H.

Selanjutnya, masyarakat mana yang mendapat gaji Rp1,5 miliar sebulan. Jika kita asumsikan jumlah tenaga kerja dari Desa Sibanggor dan sekitarnya 200 orang, maka mereka  digaji perbulan rata-rata Rp7.5 juta per orang. Mungkinkah?

Keenam, “Apakah saudara Arjun sudah memikirkan nasib para pekerja manakala perusahaan tidak beroperasi, “ ujar Dahlan Hasan.

Inilah antara lain pernyataan yang menurut Arjun Nasution kekanak-kanakan. Entah apa yang merasuki bupati sehingga begitu tendensius menyikapi pernyatan ketua MPC PP Madina terkait kebakaran di PT SMGP.

Bagaimana kalau pertanyaan hampir serupa ditujukan ke bupati. Apakah ia bertanggung jawab jika di PT SMGP ada lagi korban jiwa akibat suatu kejadian. Justru menurut saya, Arjun Nasution pada posisi betul. Selaku ketua OKP ia mengingatkan supaya perusahaan menata ulang SOP (standar operasional prosedur) sehingga kemungkinan terburuk tak terjadi demi keselamatan semua pihak.

Ketujuh, “Apakah saudara Arjun dapat menalangi kebutuhan masyarakat yang bekerja di PT SMGP,” sebut bupati.

Ah, saya malas menanggapi. Biarlah masyarakat menilai ungkapan seorang bupati ini.

Kedelapan, “Apakah saudara Arjun sudah memikirkan pribadinya selaku salah satu aktor pelaku tambang emas Ilegal di Kecamatan Batang Natal, yang akibat perbuatannya mengakibatkan Bumi Mandailing Natal rusak. Lebih tepatnya di sepanjang sungai Batang Natal yang telah hancur lebur akibat ulah penambangan emas ilegal.”

Dahlan Hasan seperti baru bangun dari tidur panjang. Hampir delapan tahun menjabat bupati, kenapa dia tak peduli selama ini kondisi sungai Batang Natal. Sekarang tiba-tiba seolah memperlihatkan “taring”. Aneh, bin ajaib.

Kesembilan, “Jika boleh berkata jujur, sampai 20 tahun kedepan humus tanah di lokasi bekas pertambangan tidak akan normal lagi. Setiap hari anak dan cucu masyarakat Madina lahir, lahir dan lahir. Tetapi ruang kehidupan mereka sudah dihancurkan penambang emas ilegal,” kata bupati.

BERITA TERKAIT  Pasmada Bagikan Masker di Pasar Baru, Panyabungan, Warga pun Berebut

Tumben bupati peduli nasib anak cucu terkait sungai Batang Natal. Kalau memang mau tegas soal tambang emas liar itu, mumpung masih menjabat, kenapa bapak tidak stop saja sekarang menggunakan Satpol PP, jika perlu minta bantuan polisi dan TNI. Ayo pak, mumpung masih berkuasa. Nanti setelah tanggal 30 Juni 2021, belum tentu bapak masih bupati.

Kesepuluh, “Saya mengimbau masyarakat Madina buka mata, terutama mata hati agar tidak ikut-ikutan dalam kegiatan tambang emas ilegal tersebut. Begitu juga masyarakat yang selama ini menggunakan sungai Batang Natal, mulai dari Desa Tombang Kaluang sampai ke Natal, sekitar 40 kilometer tidak dapat lagi menggunakan air sungai Batang Natal karena siang malam kondisinya keruh berlumpur. Berwana kecoklatan,” jelas bupati.

Kenapa bupati selama ini tidak buka mata mengenai kondisi sungai Batang Natal. Kenapa sekarang matanya baru terbuka. Dan, kenapa selama ini diam seribu bahasa meskipun aspirasi berbagai elemen masyarakat sudah kerap terdengar agar pemkab tegas soal tambang ilegal di sungai Batang Natal.

Kesebelas, bupati mengatakan selama ini sungai Batang Natal dipergunakan masyarakat berwudu, mandi, cuci pakaian, cuci peralatan rumah tangga, bahkan air minum dan memasak. Semua itu tinggal kenangan. “Seharusnya dan sebaiknya tambang emas ilegal itu yang harus ditutup (bukan PT SMGP-red),” tegasnya.

Tutup pak. Inilah saatnya anda selaku bupati tegas. Jangan cuma “seharusnya”, anda masih punya kewenangan untuk itu. Jika hanya koar-koar lewat media, atau koar-koar bersama orang-orang dekat anda, itu tak ada artinya. Justru memunculkan dugaan macam-macam.

Tak heran jika banyak orang menyebut Dahlan Hasan sedang panik, galau, atau seperti kata Arjun Nasution, hanya bahasa tante-tante yang lagi arisan dan ngegosip.

Soal “ada apa” mengenai paniknya bupati sudah terjawab menurut versi saya. Ditambah, secara organisasi PP Madina dukung Ja’far Sukhairi-Atika (SUKA) sebagai paslon bupati-wakil bupati Madina pada Pilkada 2020.

Ketika SUKA menang PSU, Arjun Nasution juga menyampaikan ucapan selamat baik melalui spanduk di sejumlah tempat, maupun di medsos. Mungkin ini juga membuat Dahlan Hasan esmosi

Lantas, mengenai “apa ada”,  saya kurang paham ini, mungkin Pak Dahlan Hasan mengerti…

Akhiruddin Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here