BERBAGI
MEMPRIHATINKAN--Inilah plang SMP Negeri 6 Siabu, Madina, Sumut yang kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak pihak heran, kenapa Erlina bisa jadi menjadi kepsek di sekolah tersebut. (foto: akhir matondang)

BERITAHUta.com—Masih ingat Erlina, kepala SMP Negeri 6 Siabu, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina), Sumut yang tak becus mengurus bangunan dan fasilitas sekolahnya. Kabar terbaru, ia juga dikabarkan memakan tunjangan sertifikasi para guru di sekolah tersebut.

Komplit sudah. Bukan hanya tak mampu mengurus bangunan dan fasilitas SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 6 Siabu serta ia diduga mempermiankan dana BOS (biaya operasional sekolah) sekolah itu, bahkan informasi terkini yang dapat media ini, Erlina juga “memakan” dana sertifikasi para guru.

Seorang guru mengatakan, berdasarkan hasil rapat guru-guru SMP Negei 6 Siabu pada akhir 2019 mereka sepakat bakal membantu murid baru tahun ajaran 2020 berupa dua stel seragam, yaitu putih-biru dan stelan pramuka. Ini dalam rangka membantu wali murid disaat ekonomi sedang tidak bersahabat.

Erlina pun mencari toko yang bisa hutang, dan dibayarkan setelah dana sertifikasi guru-guru termin pertama cair pada awal tahun 2020 .

Pada, Senin (13/1-2020), Erlina mendatangi salah satu toko di Panyabungan. Dia membeli  dua stel seragam dengan cara hutang. Saat itu, sang kepala sekolah (kepsek) menjanjikan dibayar secepatnya, paling lama setelah dana sertifikasi cair.

Dari dua stel seragam itu total belanja Erlina Rp8.960.000,-. Lalu, dibayar sebagai DP (down payment) alias panjar Rp2.060.000,-. Berarti sisa hutang: Rp6.900.000,-.

Selanjutnya pada, Rabu (19/2-2021), Erlina datang lagi ke toko tersebut menyebutkan dana sertifikasi belum cair sehingga belum bisa dibayar. Ketika itu, ia juga membeli satu potong kemeja seharga Rp290.000,- dan pembayarannya ditambahkan pada hutang sebelumnya. Sehingga total hutang menjadi: Rp7.190.000,-

BERITA TERKAIT  Pertama di Madina, SMA Negeri 1 Kotanopan Sekarang Punya "Pojok Baca"

Selain membeli kemeja dengan cara bon, kepala sekolah tomboi ini juga sempat merengek-rengek minta pinjaman sebesar Rp3.000.000,-.

Alasan dia meminjam uang Rp3.000.000 karena ada keperluan pribadi yang harus dibayar.  Pihak toko tidak mengabulkan  permintaan Erlina, selain baru kenal, juga belum pernah mencicil hutangnya di toko seragam tersebut.

Hari, pekan, bulan dan tahun berganti. Sejak berutang pada, Senin (13/1-2020), sampai Minggu kemarin (23/5-2021),  atau sekitar satu tahun empat bulan, batang hidung Erlina tak muncul lagi datang ke toko tempatnya berhutang.

Berbagai cara dilakukan pihak toko mengingatkan dan menagih, namun tidak berhasil.  Bahkan berkali-kali didatangi di sekolah SMP Negeri 6 Siabu di Desa Tangga Bosi 3, Kecamatan Siabu,  tak pernah bertemu. “Ia jarang masuk (sekolah-red),” kata seorang tenaga pengajar di sekolah itu.

Empat kali coba ditemui di rumahnya di Jalan Bermula 1, Sipolu-polu, Panyabungan, Madina—lokasi rumah sesuai informasi guru-guru—tak pernah bertemu. Malah seorang peremuan yang mengaku kakaknya, seolah menyembunyikan tempat tinggal Erlina yang sesungguhnya setelah ia tahu si pihak toko hendak menagih hutang.  Tempat rumah yang selalu disebutkan “si kakak”,  selalu tidak betul.

“Terkadang sampai belasan kali sehari ditelpon, gak diangkat. Di WhatsApp (Wa), malah nomor Wa saya diblokir. Dia seolah menyepelekan kami mentang-mentang kami hanya pedagang kecil, sementara dia seorang kepala sekolah,” kata Azaria, pemiliki toko, menyampaikan keluh kesah.

Dia mengatakan, Erlina sangat tak pantas jadi seorang guru, yang mestinya digugu dan ditiru. Apalagi menjabat kepala sekolah, lebih tak pantas. “Selama satu tahun empat bulan, serupiah pun gak pernah dicicil hutangnya. Kecuali uangnya belum ada, kami paham. Apalagi murid yang bayar, kami sangat mengerti,” ujar Azaria.

BERITA TERKAIT  Prof Zulkarnain Lubis: Tugas Media dan Guru Sama, Mencerdaskan Masyarakat

Kesal tidak pernah bertemu Erlina dan ditelpon enggak diangkat, suatu saat pemilik toko tempat mengutang menemui Erwin, wakil kepsek SMP Negeri 6 Siabu di rumahnya.

Begitu mendengar cerita mengenai hutang tersebut, Erwin kaget. Sebab dana guru-guru sudah dikumpulkan dan dibayarkan melalui Erlina pada awal tahun 2021. Sehingga hutang itu dianggap sudah lunas.

“Hutang apalagi ya, kami kan sudah bayar awal tahun 2020 lalu. Sudah lebih setahun. Nanti saya tanyakan Bu Kepala Sekolah,” katanya.

Erlina yang dikonfirmasi Beritahuta mengakui uang tersebut sudah dibayarkan guru-guru pada awal tahun 2021. “Saya akui pakai duitnya karena saya ada perlu,” katanya.

Ketika ditanya kenapa tidak dibayar atau dicicil hutang itu, Erlina mengakui kesalahannya.

Sebelumnya, nama Erlina sempat viral di media sosial. Selain ia jarang mengantor, bangunan serta fasilitas sekolah terkesan terlantar. Pintu, jendela, kaca jendela, meja guru, meja belajar, papan tulis, dan ruangan SMP Negeri 6 Siabu seperti barang rongsokan. Halaman sekolah mirip belantara karena dipenuhi belukar.

Akibatnya, pemandangan sekolah seperti tak terurus. Menurut sumber, jika masuk sekolah pun ia hanya sibuk mengkutak-katik dana BOS. “Harapan kami Bu Kepala Sekolah diperiksa pihak terkait dulu,” katanya. (*)

Peliput: Tim

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here