“Tobang Naso Suanon”

BERBAGI

“TOBANG NASO SUANON”, istilah bahasa Mandailing ini sering kita dengar sebagai kalimat umpatan atau pelampiasan emosi. Tidak tahu pasti apa patokan sehingga seseorang patut dapat julukan kalimat tersebut.  

Apakah seseorang yang diceritakan dalam tulisan ini sudah bisa disebut tobang naso suanon.

Tulisan ini tentu saja hanya sekadar renungan, supaya kita berpikir seribu kali untuk tidak berbuat semena-mena terhadap siapa pun.

Begini ceritanya: Usia lelaki dalam kisah nyata ini tidak muda lagi, lebih 60 tahun. Sudah punya cucu. Istrinya masih muda dibanding si suami, 51-an tahun. Dari segi umur, mestinya mereka bisa jadi panutan. Tahu membedakan baik dan buruk.

Nyatanya jauh panggang dari api. Ceritanya, pada Sabtu (30/4-2022), sekitar pukul 03.40, Jalandit, sebut saja namanya demikian, telpon saya yang sedang berada di Panyabungan, Madina. Begitu berat mata ini melek, apalagi tidur saya baru dua jam.

“Siapa ya,” pikir saya karena di handpone tak keluar nama si penelepon.

Ternyata Jalandit. Ia masih ada hubungan saudara dengan saya, bahkan dari pihak istri saya pun lebih dekat hubungan kekeluargaannya.

Setelah berbasa-basi sebentar, dia cerita bahwa bis yang ditumpangi keluarga mereka dari Jakarta rusak di salah satu kota di bagian selatan Sumatera. Sebut saja kota: X.

Katanya mereka sembilan orang. Barangnya banyak, kardus besar saja dua. Belum lagi tas masing-masing. “Ada enggak dek teman atau saudara yang hendak pulang ke Panyabungan, siapa tahu kami bisa menumpang supaya kami bisa Lebaran di kampung,” katanya.

Jalandit minta tolong ke saya bukan tanpa alasan. Secara kebetulan, bis yang mereka tumpangi berada di rest area jalan tol, tak begitu jauh dari tempat tinggal saya di kota X.

“Paling besok saya tanya-tanya bang, sekarang enggak enak. Mereka sedang istirahat,” jawab saya.

Paginya, sekitar pukul 08.15, Jalandit telpon saya lagi. Ia tanya apakah sudah dapat mobil yang mau ke Panyabungan. “Saya baru bangun bang, habis salat subuh tadi saya tidur lagi.”

Beberapa kawan dan famili yang ada di kota X saya hubungi. Rupanya, mereka sudah mudik. Salah seorang di antaranya: Hasibuan, asal Padangsidimpuan.

Meskipun begitu, saya minta tolong supaya dicari mobil rental untuk keluarga Jalandit. Pasalnya, ia banyak tahu soal ini karena ia punya bengkel mobil di kota X.

Pagi itu,  Jalandit bur-bar seperti panik telpon saya. Ia betul-betul berharap bantuan saya. Bahkan seolah tidak tahan lagi berlama-lama di rest area. Selain mungkin orsang di sana, juga ingin bisa Lebaran di Panyabungan.

BERITA TERKAIT  Terungkap, Suami Tega Sembelih Istrinya Hanya Dipicu Masalah Sepele

Wajar saja, belakangan saya tahu, ternyata mereka sudah di tempat itu sejak Jumat (29/5-2022), sekitar pukul 15.00.

Jika tidak ada travel, Jalandit minta tolong saya carikan bis ALS. Sembari menunggu kabar dari Hasibuan, saya coba kontak ALS—kebetulan saya banyak kenal sopir ALS karena sering kirim paket pakai bis ini.

Kebetulan ada ALS yang sedang menuju Sumatera, saat itu posisinya sedang macet di Cilegon, Banten. Setelah Jalandit diberi tahu, ia sangat senang.

Pendek cerita, sopir ALS minta ongkos Rp400 ribu, tetapi ia terus terang hanya ada satu bangku kosong, sisanya bangku “tempel”. Maklum, H-2 Lebaran 2022.

Sebelumnya Jalandit juga sudah menyebutkan tidak apa-apa bangku “tempel”, yang penting bisa melanjutkan perjalanan.

Menurut cincu ALS itu, di Kotabumi dan Baturaja ada penumpang turun. Pokonya, sampai Lahat total penumpang turun 14 orang.

Jalandit senang,  meskipun ongkosnya Rp400 ribu. Saat kami bicara ditelpon, istri Jalandit minta bicara dengan saya. “Get mangecek kakakmu ningia, maklum ma umak-umak,” katanya.

Intinya, istri Jalandit minta ditawar siapa tahu ongkosnya bisa kurang. “Ucubo u tawar. Nangkin memang inda pe u tawar arana ngabinoto dope sanga na ra do alak abang baen na bangku tempel i,” kata saya.

Lalu, saya telpon lagi pihak bis. Si kernet pun membangunkan lagi cincu (sopir utama bis) karena dia tidak berani menurunkan ongkos tanpa izin cincu.

Setelah saya cerita calon penumpang ini saudara saya, ongkos pun turun jadi Rp350 per orang.

Lalu, saya beritahu Jalandit. Ia begitu senang. “Dokon ma anggi, oke mei. Ulangbe i isi alai bangku nakosong i dohot bangku tempel i da, ami painte i rest area on,” ujarnya sembari menyebut kilometer rest area itu.

Sekitar pukul 10.00, bis itu saya hubungi lagi untuk menyatakan Jalandit dan keluarga jadi ikut. Ongkos pun sudah disepakati.

Sementara travel yang dicari Hasibuan dibatalkan. Soalnya untuk sementara baru dapat Inova atau Avansa. Jika jenis mobil ini, tentu untuk sembilan orang tidak muat, belum lagi barang. Sedangan mobil  elf, mereka minta Rp2 juta per orang.

Ketika ALS sudah mau masuk kapal, sekitar pukul 15.00, Jalandit telpon saya. Katanya ada bis ALS yang sedang di rest area itu mengisi solar.

Bis itu tak begitu penuh, jadi ada tempat duduk. Mereka mau naik ALS yang itu saja biar cepat sampai di Panyabungan.

Tai madung marjanji nangkin dohot ALS na i Merak i, pade do langa i bang ita batalkon,” kata saya.

BERITA TERKAIT  Gila…Suami Suruh Istri Siri Beradegan Seks dengan Ayah Kandung, Lalu Direkam

Dari kalimat yang disampaikan, Jalandit terkesan sudah bulat hendak naik ALS yang sedang di rest area.  Ia menyebutkan “Ana sosak ilala daganak i. Tai lima alak mai alai pajolo, au dohot nalain na tetap do painte ALS na i Merak i,” katanya.

Songonon ma bang, telpon abang ma langsung sopir ALS itu. Au ngapade ulala be mandokonna. Madung antong ita dokon nangkin ulang i panaek kalai penumpang be,” kata saya.

“O jadi, “ ujar Jalandit.

Sejak itu saya dan Jalandit tak komunikasi lagi. Terus terang saya sedikit dongkol. “Niat saya ikhlas menolong, malah bisa membuat orang benci dengan saya,” pikir saya.

Ketika ALS itu sudah merapat di dermaga Bakauheni, saya telp Jalandit dua kali, tapi enggak diangkat.

Sopir ALS itu pun berkali-kali telpon Jalandit, juga tidak diangkat. “Mereka sama sekali tidak telpon saya, karena enggak ada nomor asing masuk ke handphone saya,” kata cincu ALS ketika saya tanya apakah Jalindit Cs hubungi mereka.

Hingga hari ini, Rabu siang (4/5-2022), baik ke saya maupun ke awak ALS, Jalandit tidak memberi kabar lagi. Dia anggap hal biasa saja.

Itulah ceritanya. Dalam hati,  ternyata ada ya orang seperti ini. Pantas saja, hidupnya selalu diselimuti kesusahan. Seorang lelaki yang dipegang adalah ucapan atau omongan.

Inilah tipe orang yang tak tahu berterima kasih. Inilah model orang yang hanya memikirkan diri sendiri.

Coba bayangkan, kalau saja si ALS yang ingkar janji, misalnya, mereka muat penumpang sehingga Jalandir Cs. tidak muat lagi di bis itu, tentu Jalandit marah.

Atau ternyata pas di tempat yang dijanjikan Jalandit Cs. naik, ternyata ALS itu tak berhenti, Jalandit dkk juga pasti marah.

Pakailah hati nurani, jika anda masih punya hati. Pada hari-hari biasa ALS itu sepi penumpang, untuk uang jalan saja susah. Saat angkutan Lebaran inilah kesempatan mereka cari uang, itu pun Jalandit permainkan.

Sopir ALS itu relasi saya membawa paket. Jika mau dibatalkan, gentlemen-lah dikit. Pola pikir seperti Jalandit tak bisa dijadikan  panutan, meskipun usianya sudah tua.

Apakah Jalandit  termasuk tipe: tobang naso suanon, saya tak tahu. Tapi ini fakta, tabiat, perangai, perilaku dan wataknya tidak mencerminkan seorang yang sudah “berumur”. Tak seperti lelaki.

Kata orang Jawa, seenake dewe atau sak karepe dewe. Dalam bahasa Mandailing, saroa-roa nia.

Sekali lagi, ini hanya sekadar renungan saja.

(akhiruddin matondang)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here