SHARE
PENIS DAN VAGINA BUKAN MILIK NEGARA--Selain melakukan orasi, massa yang demonstrasi di halaman gedung DPRD Padangsidimpuan juga membentang sejumlah poster. Aksi ini sempat chaos, namun aparat bisa kembali menenangkan para mahasiswa.

BERITAHUta.com– Unjuk rasa menolak UU KPK dan pengesahan R-KUHP di Kota Padangsidimpuan, Sumut berlangsung ricuh. Kepala Polres Padangsidimpuan AKBP Hilman, S.Ik., SH., dan empat personilnya terkena lemparan batu dari kerumunan massa.

Hingga berita ini ditulis, sejumlah massa juga dikabarkan terpaksa mendapat perawatan karena mengalami luka-luka ringan. Sedangkan, lemparan batu yang dialami kapolres mengenai pipi bagian kirinya.

Sekitar delapan ribu mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Salak Berduri mulai melakukan aksi di depan kantor DPRD Padangsidimpuan, pada Jumat (27/9), sekitar pukul 14.00.

Mereka antara lain berasal dari:  HMI, PMII, IMM, GMKI, GMNI, HIMMAH, KAMMI, SAPMA PP, IAIN, UMTS, IPTS, AUFA ROYHAN, dan UGN.

TOLAK UU KPK–Sekitar delapan ribu massa memadati halaman gedung DPRD Padangsidimpuan menuntut pembatan UU KPK dan penolakan R-KUHP, saat berlangsung unjuk rasa pada Jumat (27/9)..

Sekitar pukul 15.00 sejumlah perawakilan dari masing-masing kampus mulai melakukan orasi. Ketika mereka sedang menyampaikan aspirasi terhadap pembatalan UU KPK (Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi) dan menolak disahkannya R-KUHP, secara perlahahan jumlah massa makin banyak.

BERITA TERKAIT  Harun Mustafa, Sang Juara Dapil Sumut 7 yang Tadinya Enggan ke Pentas Politik

Pada pukul 16.00 beberapa perwakilan anggota DPRD Padangsidimpuan dan kapolres coba melakukan negosiasi dengan pengunjuk rasa. Sepuluh orang setiap masing-masing kampus dan organisasi dipersilakan masuk ke dalam gedung untuk melakukan dialog dengan pimpinan dewan.

Tampaknya keputusan itu membuat sejumlah massa kecewa. Sekitar pukul 16.20 kerumunan mahasiswa dan pemuda makin tak terkendali. Mereka memaksa masuk ke gedung dewan dengan mendorong personil pengamanan yang berjaga di depan pagar.

Hilman Wijaya kembali menenangkan massa. Ia meminta kesepakatan yang sudah dibuat ditaati bersama. Saat kapolres masih negosiasi, batu mulai “beterbangan”. Para mahasiswa yang makin beringas melempar batu kearah petugas. Suasana makin tak terkendali.

BERITA TERKAIT  Pencantuman “Musthafawiyah” Dipaksakan, Massa “Amanah” Diduga Bukan Alumni

Karena unjuk rasa menjurus chaos, tim penembak gas air mata melakukan penembakan dengan tujuan agar mahasiswa yang berusaha masuk gedung dewan membubarkan.

TERKENA LEMPARAN BATU–Seorang anggota polisi terpaksa mendapat perawatan akibat terkena lemparan batu saat mengamankan aksi unjuk rasa di gedung DPRD Padangsidimpuan, Jumat sore (27/9).

Baru pada sekitar pukul 17.10 pengunjuk rasa berhasil ditenangkan dan pertemuan di ruang rapat DPRD Padangsidimpuan dilanjutkan. Hingga berita ini ditulis, para mahasiswa masih menyampaikan aspirasinya kepada pimpinan dan sejumlah anggota dewan.

Untuk mengamankan aksi tersebut, Polres Padangsidimpuan mengerahkan sebanyak 265 personil, satu pleton Polres Tapsel, dan dua pleton dari Brimob Yon C .  (*)

Peliput: Tim

Editor: Akhir Matondang

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here