PANYABUNGAN, BERITAHUta.com—Ini warning atau peringatan, terutama bagi kaum ibu yang kerap memakai perhiasan berlebihan. Sebab perampok emas milik seorang nenek di Pasar Lama, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut diduga sudah terlebih dahulu mengintai sebelum melakukan aksinya.
Itulah sebabnya, mereka dengan mudah menculik korban. Belum tahu pasti jumlah kerugian akibat kejadian ini. Pastinya, emas yang dirampok berupa gelang dan cincin.
Ada menyebut sekitar 15 ameh, atau setara 37,5 gram. Jika diuangkan sekitar Rp105 juta. Informasi lain menyebut, 23 ameh atau 57,5 gram. Jika ini betul, berarti 23 ameh X Rp7 juta, sekitar Rp161 juta.
Perihal pelaku terlebih dulu mengintai diketahui dari rekaman CCTV (Closed-Circuit Television) yang ada di sekitar lokasi kejadian. Rekaman yang beredar di media sosial itu memperlihatkan pada, Kamis (14/5/20226), sekitar pukul 08.00, Hj. Halimah (73) baru saja belanja sayur di Pasar Kuliling, Pasar Lama.
Warga Kelurahan Panyabungan III, Kecamatan Panyabungan, Madina, itu tampak berjalan seorang diri keluar dari arah Pasar Kuliling yang berada di utara Masjid Raya Al Qurro Wal Huffazd sembari menenteng plastik kresek belanjaan.
Keluar dari arah Pasar Keliling, nenek yang dulunya berdagang nangka muda di pasar tersebut berjalan di sisi Jalan Williem Iskander–persis di kiri depan masjid—bermaksud hendak menyeberang jalan karena mau pulang ke rumahnya.
Pada saat bersamaan, tampak mobil hitam melaju dari selatan atau dari arah Pasar Baru- menuju utara secara tiba-tiba putar arah di dekat pintu keluar Pasar Kuliling, tepatnya di sekitar sudut kiri depan masjid.
Memang belum tahu pasti apakah pengendara mobil hitam itulah yang menculik Halimah. Berdasarkan pengakuan nenek yang menurut warga Panyabungan III doyan memakai perhiasan berlebihan tersebut, para pelaku yang menculiknya mengendarai Avanza warna hitam.
Menurut warga di sekitar masjid Al Qurro Wal Huffazd, jika betul mobil hitam itu kendaraan yang dipakai pelaku, ada dua kemungkinan. Pertama, Halimah sudah diintai berdasarkan informasi orang yang mengenal korban.
Kedua, pelaku di dalam mobil hitam yang putar arah tergiur merampok Halimah setelah melihat kilauan emas di leher dan tangan nenek yang tinggal di sekitar jalan lintas timur, Panyabungan III tersebut.
Itulah sebabnya dalam hitungan detik, mereka memutuskan putar arah karena melihat korban hendak menyeberang jalan ke arah timur masjid.
Persis di sekitar depan Bakso Solo, di seberang jalan masjid, menurut nenek satu unit Avanza hitam sudah menunggunya di sisi kiri jalan. Belum jelas, apakah mobil ini yang putar arah atau tidak.
Pastinya, begitu Halimah tiba di seberang jalan, seorang wanita langsung menyuruh Halimah naik ke mobil dengan alasan ada oleh-oleh untuk si nenek yang hendak diambil di suatu tempat.
Diduga Halimah dihipnotis karena sedikit pun ia tak menolak ajakan pelaku. Setelah mobil jalan, korban merasa ada yang tidak beres.
Ia coba meronta, tetapi para pelaku langsung menutupi tubuh korban menggunakan selimut tebal. “Kalau ibu tidak diam, kami habisi,” ujar salah seorang pelaku.
Menurut Halimah, ada lima orang di dalam mobil: dua perempuan dan tiga laki-laki.
Selama perjalanan ia disiksa. Seorang perempuan bertubuh agak gemuk sempat menindih kedua paha dan kaki korban. Pelaku lain memegang kepala serta leher korban. Bahkan ada yang melakukan pemukulan.
Tentu saja Halimah tak bisa melawan. Perhiasan di tubuhnya pun dilucuti dan diambil pelaku.
Setelah beberapa jam di mobil, sekitar pukul 13.00 Halimah diturunkan di tempat sepi di jalan raya Desa Simirik, Batunadua, Padangsidimpuan.
“Saya ditendang keluar dari mobil, lalu jatuh,” kata Halimah.
Dalam keadaan lemas, trauma dan kesakitan, dia coba merangkak mencari pertolongan. Dengan sisa tenaga, ia memanggil warga di rumah yang tampak dari kejauhan.
Jajaran Polres Madina masih melakukan penyidikan atas kejadian ini. Sepanjang hari, Jumat (15/5/2026), belasan polisi tampak berada di sekitar TKP (tempat kejadian perkara). (*)
Editor: Akhir Matondang
