BERBAGI
Prof. Dr. Ir. Muhammad Turmuzi Lubis, M.S., (foto: ist)

MEDAN, BERITAHUta.com—“Sayang sekali sekolahku…” tulis Prof. Dr. Ir. Muhammad Turmuzi Lubis, M.S., di salah satu grup WhatsApp yang diikutinya. Kalimat itu dibuat hanya beberapa saat setelah dia membaca berita mengenai merosotnya prestasi akademik SMA Negeri 1 Panyabungan dalam 10 tahun terakhir.

Dalam suatu wawancara dengan Beritahuta.com, Turmuzi mengaku prihatin melihat kondisi SMA Negeri 1 Panyabungan, sekolah tempat dia dulu menimba ilmu.  “Kalau ditanya apakah saya setuju ada evaluasi terhadap sekolah itu, saya setuju,” katanya, Rabu (26/3/2025).

Bahkan Turmuzi setuju jika ada keinginan rekan-rekannya sesama alumni untuk mengusulkan pergantian M. Nuh Nasution sebagai kepala (Kepsek) SMA Negeri 1 Panyabungan, baik usulan disampaikan kepada gubernur atau terhadap kepala Dinas Pendidikan Sumut.

“Prinsipnya menurut saya jabatan Pak Nuh sudah terlalu lama. Perlu ada penyegaran dengan harapan kedepan siswa dan lulusan sekolah tersebut dapat lebih berprestasi,” kata dosen Fakultas Tekni Universitas Sumatera Utara (USU).

Tugas kepala sekolah SMA, kata Turmuzi, bukan hanya pengelola administratif, tetapi juga pemimpin pendidikan yang bertanggung jawab atas keberhasilan sekolah dalam mencetak siswa yang berkualitas.

Tugas kepala SMA di Indonesia diatur dalam berbagai regulasi, termasuk Permendikbud No. 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah. Secara umum, tugas kepala sekolah mencakup aspek manajerial, pengembangan sekolah, kepemimpinan, dan supervisi.

BERITA TERKAIT  Usai Minta Klarifikasi Bupati, Ombudsman Sumut Sebut PPPK Madina Berpotensi Maladministrasi

Sementara itu, informasi didapat media ini menyebutkan, perbincangan mengenai kondisi SMA Negeri 1 Panyabungan di grup-grup WhatsApp atau tatap muka terus bergulir di antara para alumni, terutama kalangan senior.

Berdasarkan pembicaraan yang berkembang, ada tiga opsi yang bakal dilakukan oleh para alumni mengenai teknis yang bakal dilakukan terkait keinginan pergantian M. Nuh Nasution sebagai kepala SMA Negeri 1 Panyabungan.

Opsi pertama, meminta audensi langsung dengan Gubernur Sumut M. Bobby Afif Nasution. Kedua, usulan disampaikan melalui Kepala Dinas Pendidikan Sumut Alex Sinulingga, dan ketiga: aspirasi alumni “dititipkan” melalui Bupati Madina H. Saipullah Nasution untuk diteruskan ke pihak Pemprovsu.

“Secara kebetulan bupati Madina yang baru sangat dekat dengan para alumni senior SMA Negeri 1 Panyabungan. Ini juga efektif dilakukan,” kata sumber yang tak mau ditulis namanya.

Menanggapi hal itu, anggota Fraksi Demokrat DPRD Madina H. Binsar Nasution menyebutkan ketiga opsi itu sama baiknya. “Mana yang lebih efektif agar tujuan tercapai, saya kira alumni senior lebih paham,” katanya.

Saat ini, kata dia, merupakan momentum yang tepat bagi gubernur Sumut mengevaluasi kinerja M. Nuh selama bertugas sebagai Kepsek. Apalagi kepala Dinas Pendidikan Sumut baru dilantik beberapa hari lalu.

BERITA TERKAIT  Pemkab Madina Buka Peluang Kerja bagi yang Punya Bakat “Branding” dan Desain

Momentum itu juga berlaku bagi Saipullah Nasution, bupati Madina juga baru dilantik pekan lalu. “Meskipun pendidikan tingkat SLTA kewenangan gubernur, tapi selaku kepala daerah bupati punya kewajiban meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya,” sebut Binsar.

Bisa kita bayangkan, ujar Binsar, jika dua atau tiga tahun mendatang milsalnya, jumlah siswa SMA Negeri 1 Panyabungan yang masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri)—baik jalur undangan atau test—meningkat, berarti itu tak terlepas dari campur tangan bupati. “Sejarah bakal mencatat, selama sekitar 10 tahun sekolah tersebut tak berkembang, bisa berprestasi lagi di masa Gubernur Bobby serta Pak Saipullah sebagai bupati Madina. Ini kan bakal dikenang,” katanya.

Dia mengatakan evaluasi terhadap kinerja M. Nuh sudah seperti suatu keharusan. Selain  terlalu lama menjabat, juga perlu ada penyegaran.

Jika Nuh dianggap berprestasi, sebaiknya dia diberi tugas baru mengurus SMA negeri yang prestasi akademiknya perlu ditingkatkan. Bisa juga mendapat penugasan baru di sekolah yang memiliki akreditas lebih tinggi atau jumlah murid lebih banyak.

“Yang pasti, M Nuh sudah jenuh di SMA Negeri 1 Panyabungan. Tidak menutup kemungkinan dia sudah tidak punya keinginan menjadikan sekolah tersebut berprestasi,” kata Binsar. (*)

Editor: Akhir Matondang

 

 

BERBAGI