BERBAGI
Prof. Ir. H. Zulkarnain Lubis, MS, Ph. D. (foto: ist)

MEDAN, BERITAHUta.com—Prof. Ir. H. Zulkarnain Lubis, MS., Ph. D., mengaku heran kenapa M. Nuh Nasution dipertahankan sampai 10 tahun sebagai kepala SMA Negeri 1 Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut jika dia dianggap tak berprestasi. Kondisi ini sangat tidak bagus bagi sekolah tersebut.

“Kalau sampai 10 tahun menjabat kepala sekolah (Kepsek), itu sudah terlalu lama.” kata ketua Program Doktor Universitas Medan Area (UMA) kepada Beritahuta.com, Kamis (27/3/2025).

Pernyataan Zulkarnain itu menanggapi pemberitaan tentang merosotnya jumlah siswa SMA Negeri 1 Panyabungan masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) lewat jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi).

Seperti diberitakan media ini, berbagai elemen masyarakat menilai sejak M. Nuh menjabat kepala SMA Negeri 1 Panyabungan dalam 10 tahun terakhir, prestasi sekolah itu kian menurun. Predikat favorit yang dulu disandang berpuluh tahun, kini telah pupus.

Menurut Zulkarnain, yang juga alumni SMA Negeri 1 Panyabungan, seandainya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir M. Nuh dianggap berprestasi, tentu seharusnya dia sudah naik “pangkat” lebih tinggi.

”Tidak bagus Pak Nuh masih di sekolah itu jika dia dianggap berprestasi. Sekalipun, katakanlah dia hebat kali, sungguh tak bijak dipertahankan sampai 10 tahun,” katanya.

Dengan kata lain, kalau M. Nuh dianggap berprestasi selama memimpin di SMA Negeri Panyabungan, jabatannya semestinya tidak lagi kepala di sekolah itu, melainkan sudah naik ke jenjang lebih tinggi.

BERITA TERKAIT  Warga Banjar Sehat Antusias Hadiri Reses Fahrizal Efendi Nasution

Sebaliknya, jika prestasinya menurun atau dianggap biasa-biasa saja, juga dia sangat tidak layak menjabat di sekolah tersebut sampai 10 tahun.

“Kenapa sampai sekarang masih dipertahankan. Sungguh tak bagus. Harus ada evaluasi. Apa dia hebat kali,”  kata Zulkarnain.

Jika seseorang dinilai berprestasi di suatu sekolah, seharusnya diberi tugas baru. Bisa pindah ke sekolah akreditas lebih tinggi atau ke sekolah yang memiliki jumlah murid lebih banyak. Bisa juga dalam rangka memperbaiki mutu suatu sekolah yang prestastinya tak bagus.

Mengenai aturan masa jabatan Kepsek hanya maksimal delapan tahun di sekolah yang sama, Zulkarnain mengatakan semestinya sebelum sampai delapan tahun, harus ada penilaian kinerja yang terukur. “Masak Kepsek di suatu tempat seumur hidup,” sebut sang profesor.

Menurutnya, ada lima hal yang perlu diperhatikan terkait kinerja seorang Kepsek tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama). Pertama, jumlah siswa yang lulus jalur SNBP tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai mutu suatu sekolah, tetapi hal ini hanya sebagai faktor pendukung mutu.

Sebab penerimaan jalur SNBP beracuan pada rapor siswa, sementara  setiap sekolah memiliki dasar berbeda dalam hal pemberian nilai. Itu sebabnya, untuk menilai mutu sekolah tidak bisa hanya beracuan terhadap jumlah siswa yang lulus lewat jalur undangan.

BERITA TERKAIT  Musthafawiyah Purba Baru Berduka, “Banjir” Air Mata Iringi Prosesi Pemakaman Syekh Umar Bakri Lubis

Kedua, sesungguhnya penilaian paling utama dilihat dari jumlah lulusan suatu sekolah yang diterima di PTN lewat UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer). Jika jumlah lulusan SMA Negeri 1 Panyabungan yang masuk PTN lewat UTBK turun atau stagnan selama kepemimpinan M. Nuh, dapat disimpulkan mutu akademik kurang.

Ketiga, berdasarkan jumlah alumni yang berhasil tamat dari perguruan tinggi (PT), lalu mendapat pekerjaan. Jika sedikit, artinya sewaktu SMA mereka kurang berprestasi.

“Berapa banyak juga alumninya yang berhasil kuliah sampai wisuda. Sepengetahuan saya dari SMA Negeri 1 Panyabungan enggak banyak,” tegas Zulkarnain.

Lalu, keempat: Seringkah siswa SMA Negeri 1 Panyabungan ikut lomba-lomba ilmiah, baik tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, atau internasional. “Sepengetahuan saya juga enggak. Gak ada  itu.”

Jika poin dua sampai empat rendah, ditambah siswa yang diterima lewat jalur undangan (SNBP) rendah, berarti sekolah itu tidak bermutu.

Satu lagi indikatornya, bagaimana proses pembelajaran di sekolah  beralamat di Kelurahan Kayujati, Panyabungan. Termasuk keteraturan belajar, keseriusan siswa belajar, bagus atau tidak.

“Kalau mereka banyak main, terutama pada jam belajar, suka-suka, dan tak sesuai aturan main, saya bisa katakan, patut dipertimbangkan kepemimpinan M. Nuh sebagai kepala sekolah di SMA Negeri 1 Panyabungan. (*)

Editor: Akhir Matondang

BERBAGI