PRESTASI membanggakan diraih generasi Mandailing Natal (Madina), Sumut pada proses seleksi masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) 2026. Musharraf El Akram, siswa SMA Negeri 3 Panyabungan di kabupaten ini berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) pada SNMBP (Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru) melalui jalur (undangan.
Lebih membangakan lagi, tahun ini ada dua siswa Smantig—sebutan SMA Negeri 3 Panyabungan—lulus UI melalui jalur undangan. Seorang lagi: Nur Hasanah Rosyifah Fihendra Daulay. Ia diterima di “Kampus Perjuangan” pada jurusan Ilmu Kedokteran.
Akram dan Nur Hasanah merupakan dua di antara 82 siswa Smantig yang diterima masuk PTN 2026 melalui jalur undangan. Ada sejumlah nama siswa lagi yang berhasil lulus PTN ternama di Indonesia, sebut saja: Nayla Ulya (USU—Manajemen); Afrahul Padilah Batubara (USU—Manajemen); Khaidir Afwan Daulay (Universitas Andalas—Hukum); Muhammad Riziq Lubis (Universitas Andalas—Peternakan); dan Alya Yumna Harjani (UNSRI—Manajemen).
Kepala SMA Negeri 3 Panyabungan Mahyuddin mengaku bangga terhadap prestasi anak didiknya pada pelaksanaan SNMBP 2026, terutama lewat jalur undangan. “Kami masih pantau terus perkembangan jumlah siswa yang diterima di PTN,” katanya kepada Beritahuta.com, belum lama ini.
Informasi didapat media ini menyebutkan jumlah siswa Smantig yang diterima melalui jalur undangan tahun ini, merupakan tertinggi dibanding SMA lain di Madina, bahkan tertinggi se-Wilayah XI Cabdisdik Sumut, meliputi: Madina,Padangsidimpuan, dan Tapanuli Selatan.
Tangis Bahagia di Banjarsibaguri
Sore di penghujung Maret 2026. Waktu menunjukkan sekitar pukul 15.00. Hanphone milik Akram berdering menandakan pesan masuk. Tak punya firasat apa-apa, anak pertama dari dua bersaudara hasil buah cinta Zulkarnain Hasibuan dan Farah Fauzia ini pun membuka isi chat yang dikirim Sandi Ashari Siregar, operator komputer Smantig.
“Selamat Ram, kamu diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia,” demikian kira-kira isi chat tersebut. “Alhamdulillah,” sebut Akram.
Berselang beberapa detik, dia pun memberi tahu sang ayah yang kebetulan berada di sampingnya. “Alhamdulillah,” ucap Zulkarnain sembari memeluk sang anak.
Suasana hening rumah Akram yang berada di Banjarsibaguri—Kelurahan Panyabungan III, Panyabungan, pun berubah menjadi tangis bahagia. Momen itu setelah Akram memberi tahu tentang kelulusannya tersebut terhadap sang ibu yang kebetulan sedang menerima tamu di ruang depan.
Dalam hitungan sekejap, ibu memeluk abang dari Raffansyah El Murad, pelajar SMP Negeri 2 Panyabungan. Tak terbendung, air mata si ibu pun meleleh.
“Alhamdulillah ya Allah, selamat ya nak. Ini tadinya sesuatu yang tak mungkin, sekarang menjadi kenyataan,” kata si ibu.
Mereka yang berada di dalam rumah itu larut dalam suasana air mata kebahagiaan.

Sukses Akram mendapatkan tiket masuk di kampus yang dkerap disebut the yellow jacket alias jaket kuning bukanlah didapat seperti membalik telapak tangan. Ia melewati masa-masa perjuangan sejak masih SD, SMP, dan makin fokus setelah memilih melanjutkan studi di Smantig, sekolah lanjutan tingkat atas yang dalam beberapa tahun terakhir kategori terfavorit di Madina.
Ketekunan dan semangat, dikemas bareng doa orang tua menjadi modal utama Akram dalam mengarungi jenjang demi jenjang pendidikannya. Sejak lama sudah terpatri suatu tekad supaya bisa masuk salah satu PTN di tanah air.
“Restu dan dukungan orang tua menjadi penyemangat bagi saya,” kata ketua OSIS Smantig yang juga dinobatkan sebagai Pelajar Penggerak ini, Jumat (10/4/2026) malam.
Akram lulus Fakultas Hukum UI bukanlah dibalut faktor luck, tapi memang ia punya kamampuan akademik yang dapat diandalkan. Selain tekun, semangat, dan dukungan orang tua, tentu keberhasilan ini tak lepas dari bimbingan serta pembinaan yang dilakukan kepsek, guru serta staf di lingkungan Smantig Panyabungan.
Tidak mudah menerobos “Kampus Depok”. Berdasarkan berbagai lembaga pemeringkat (QS Asia, EduRank, Webometrics, dan THE WUR) tahun 2025-2026, UI konsisten sebagai kampus terbaik di Indonesia lantaran unggul dalam kualitas riset, reputasi akademik, dan serapan lulusan.
Sekarang, tahapan menuju the yellow jacket sedang berproses. Sebelum tiba pada titik ini, perjalanan dilalui tanpa berleha-leha. Setidaknya sejak semester pertama sampai akhir di Smantig, Akram telah menunjukkan prestasi.
Juara pertama di kelas selama di Smantig tak pernah lepas genggaman. Dalam berbagai lomba bidang akademik, ia tidak luput dari prestasi. Antara lain pernah meraih medali Olimpiade Online Puskanas, medali emas tiga ajang POSI (Pusat Olimpiade Sains Indonesia) online, dan medali perunggu POSI offline.
Pemuda kelahiran Jakarta, 12 Maret 2008, ini aktif dalam berbagai kegiatan dalam menunjang aktivitas pendidikannya. Selain duta P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika), lelaki pemilik tinggi 173 cm serta berat 65 kg tersebut aktif olahraga renang.
“Saya habiskan waktu saya untuk hal-hal positif. Berbagai bimbel online tak pernah terlewati. Belajar dari buku, juga melalui internet menjadi keseharian. Ini bagian dari usaha saya yang ingin masuk PTN,” ujar Akram, cucu almarhum H. Abdul Salam Hasibuan, pedagang kain terkenal dari Banjarsibaguri pada masa lalu.
Suport dan dukungan orang tua begitu besar agar Akram bisa menggapai impian, yakni: masuk PTN. “Pegang hp saja ortu batasin,” ujarnya ketika ditanya mengenai kiat membagi waktu belajar.
Akram, bukan sekadar menjadi kebanggaan keluarga, tapi juga kebanggan masyarakat Madina. Lewat anak sulung kepala SMP Negeri 2 Panyabungan kita berharap suatu saat lahir lagi pendekar hukum Indonesia asal Mandailing seperti Adnan Buyung Nasution dan Todung Mulya Lubis.
Selamat, ini menjadi bukti usaha tak pernah menghianati hasil.*
Editor: Akhir Matondang
